Bernas.id – Adakah yang pernah membuat ide gila? Terkadang ide gila ini perlu dibuat untuk menjadikan tantangan buat diri kita. Apakah dengan ide gila itu kita akan bisa lebih meningkatkan eksistensi kita? Tapi sebelum membuat ide gila kita harus siap menerima semua konsekuensinya, apakah ide gila akan diterima ataukah ide gila akan dicibir oleh khalayak.
Ide biasa dengan ide gila, apa bedanya?
Ide biasa, merupakan ide-ide umum yang dilakukan mayoritas orang. Sedangkan ide gila merupakan ide luar biasa yang hanya dilakukan oleh orang-orang kreatif . Karena ide gila ini disatu sisi bisa meningkatkan reputasi seseorang, ketika ide gila itu baik dan diterima masyarakat. Akan tetapi bisa juga menjatuhkan reputasi si pembuat ide gila ketika yang dibuat adalah ide gila yang tidak diterima masyarakat.
Dewa Eka Prayoga, siapa yang tidak mengenal dia? Mendadak anak muda yang terkenal dengan Dewa Selling-nya ini namanya mencuat di permukaan, terutama di kalangan pengusaha muda dan rekan muda lainnya. Publik dibuat penasaran dengan status-status Kang Dewa di sosial media, untuk menggiring rasa penasaran agar mengetahui kondisi keluarga Kang Dewa. Luar biasa trik yang dilakukan Kang Dewa. Setelah personal branding di genggamnya, dia dengan mudah menjadikan follower-nya sebagai magnet untuk memuluskan cita-citanya.
Di saat follower-nya banyak, ide gila muncul untuk menuliskan kisah sejarah hidupnya yang penuh liku. Kisah alamiah yang dialami sepasang pengantin baru dengan ujian kehidupan yang bertubi. Restu ibunda yang tidak didapatkannya, hubungan mengerikan antara orang tua Dewa dengan menantu perempuanya, kemudian terpuruknya bisnisnya karena dibohongi mitra bisnisnya, serta yang paling mengharukan adalah perjuangnnya melawan maut dengan penyakit aneh yang menggerogotinya
Dan benar, akhirnya pengusaha muda ini namanya semakin melejit gara-gara kisah nyatanya ditulis menjadi sebuah novel oleh Asma Nadia. Dan saat tawaran untuk menjadi reseller pun muncul, banyak sekali yang bergabung. Saya kembali menangkap ide gila kang Dewa, demikian dia akrab dipanggil. Di saat personal branding Kang Dewa yang sudah melejit sebagai Dewa seller-nya, anak muda yang terkenal dengan motivator ini memanfaatkan peluang terbaik. Dengan konsep menjaring reseller ke dalam kolam Pejuang Keluarga ini. Reseller diedukasi sedemikian rupa bagaimana cara untuk menawarkan kepada calon buyer, bahkan lengkap dibekali dengan tool yang memudahkan reseller untuk berjualan di akun media sosialnya. Lebih gila lagi, ribuan yang terdaftar ke dalam kolam pejuang keluarga ini, kemudian dikumpulkannya dalam suatu grup Telegram.
Ide gila kembali dilakukan Dewa, di satu sisi dia ingin menjadikan Novel Bidadari Untuk Dewa menjadi best seller saat sebelum launching, disisi lain akan banyak modal yang harus dikeluarkan untuk mencetak. Akhirnya dia menerapkan sistem PO, di mana calon buyer melakukan pemesanan dan membayar terlebih dahulu berikut ongkos kirimnya.
Spektakuler, sebelum launching sudah masuk 10.000 PO novel. Dan saat launching meningkat menjadi hampir 15.000 PO novel. Bagi kang Dewa hal ini prestasi yang luar biasa. Tanpa modal sama sekali, bahkan dia bisa mewujudkan ide gilanya. Kang Dewa bisa merealisasikan ide gila setelah dia melakukan pertimbangan matang. Dia membuat langkah detail yang akan dilakukan untuk mewujudkannya, sehingga setiap tahapannya menjadi tahapan yang terukur dan efektif untuk dilakukan.
Jadi, sebenarnya siapa pun bisa menciptakan ide gila. Termasuk kita. Hanya saja kita terkadang masih takut dengan segala resiko ketika kita merencanakan ide gila. Perlu kekuatan mental yang besar dan kemampuan teknis tentunya dalam mewujudkan ide gila. Karena tanpa kekuatan mental, kita akan lemah ketika menghadapi cibiran dan makian ketika ide gila tidak diterima khalayak. Dan tanpa kemampuan teknis pun, ide gila kita bisa berakhir tanpa hasil disebabkan kurang cakapnya dalam mengelola ide gila secara teknis.
