Bernas.id ? Kodokushi atau fenomena meninggal dalam kondisi sendirian di tempat tinggalnya adalah fenomena yang belakangan kian lazim terjadi di Jepang. Karena korban tinggal sendirian, tidak jarang mayat korban baru ditemukan berminggu-minggu setelah korban meninggal.
Kasus yang terjadi di sebuah apartemen kecil di kota Tokyo adalah salah satunya. Seorang pria yang diperkirakan berusia 50-an ditemukan sudah meninggal dalam kondisi masih ditutupi selimut. Ketiga petugas membuka selimut yang dikenakannya, belatung dan lendir terlihat memenuhi tubuh mayat.
?Ini sungguh serius,? kata Hidemitsu Ohshima yang membantu mengeluarkan jasad pria tersebut dari kamarnya. ?Anda harus mengenakan baju pelindung untuk melindungi diri anda dari serangga yang mungkin atau mungkin juga tidak menyebarkan penyakit.?
Menurut pakar kesejahteraan Jepang Katsuhiko Fujimori, fenomena kodokushi terjadi sebagai akibat kultur kekeluargaan Jepang yang sangat kuat dan perubahan dalam sektor ekonomi Jepang selama beberapa dasawarsa terakhir.
Di Jepang, seseorang lebih suka meminta bantuan kepada anggota keluarganya daripada kepada tetangganya karena terlalu banyak meminta bantuan kepada tetangga dianggap sebagai hal yang kurang sopan.
Namun seiring dengan kian banyaknya kaum muda yang terpaksa tinggal dan bekerja jauh dari kerabatnya yang sudah tua, kaum lanjut usia (lansia) terpaksa harus bergantung sepenuhnya pada dirinya sendiri.
Rendahnya angka pernikahan akibat faktor kesibukan pekerjaan kian memperburuk situasi tersebut. Sebanyak 1 dari 4 pria Jepang yang sudah berusia 50 tahun ke atas diperkirakan tidak pernah menikah. Jumlah tersebut diperkirakan bakal berubah menjadi 1 dari 3 pada tahun 2030 mendatang.
Tidak ada data resmi mengenai jumlah korban kodokushi yang mayatnya baru ditemukan beberapa minggu sesudah meninggal. Namun diperkirakan setiap tahunnya ada 30 ribu warga Jepang yang meninggal dalam kondisi demikian.
