Bernas.id – Perempuan tangguh adalah gambaran tokoh utama dari film ?Bunda: Kisah Cinta Dua Kodi?. Berangkat dari novel ?Cinta Dua Kodi? karya Asma Nadia yang terinspirasi dari kisah nyata lika-liku kisah bisnis Ike Kartika pemilik Keke Busana.
Film ini akan tayang mulai 8 Februari mendatang, mengangkat kisah perjuangan Tika yang jatuh bangun mempertahankan kelangsungan hidup keluarganya, dengan cara merintis bisnis busana muslim anak-anak yang masih sangat baru baginya.
Menurut komentar Bobby dan Ali, film yang mereka garap ini merupakan gambaran kehidupan para ibu yang mempunyai peran ganda. Menjadi istri yang juga berperan sebagai kepala keluarga dan bagi orang sekitarnya. Pemberdayaan wanita tergambar jelas di film ini bahwa tidak mudah untuk menjadi seorang pengusaha muslimah, di mana seorang wanita harus berdamai dengan aktivitasnya dan juga rumah tangganya.
Perjuangan Tika ini hampir sama dengan para aktivis dakwah muslimah yang berstatus “emak-emak” sekaligus kepala keluarga yang ketangguhannya sungguh luar biasa. Mereka rela berbagi waktu, tenaga, dan pikiran antara kewajibannya sebagai ibu rumah tangga dengan kesibukan membina para gadis muslimah di luar rumah. Berjihad mendidik, mengajari kemampuan membaca Alquran, menanamkan nilai-nilainya kepada kaumnya, dan menjadi partner dakwah yang tidak kalah “trengginas” dengan pria.
Ada diantara mereka yang juga berkarir sekaligus berdakwah di sana. Kalaupun tidak berkarir, mereka bukan pengangguran. Mereka menjadi pengurus RT/RW, takmir masjid, aktif di komunitas lingkungan, dan lain-lain.
Murabbiyah-murabbiyah tangguh ini terpanggil untuk mengalokasikan waktunya mengurus rumah tangga, guna membina para muslimah muda yang sedang mencari jati diri dan memperbaiki pemahaman agamanya. Di balik kedatangan murabbiyah hadir di majelis ilmu, ada kisah-kisah yang tidak nampak oleh mata, yang tak diketahui oleh para binaannya itu.
Seperti yang ditulis oleh Muhammad Reza seorang aktivis dakwah dari Yogyakarta ada seorang ummahat (istilah keren emak-emak aktivis dakwah) yang tetap mengisi kajian untuk binaannya di pekan HPL-nya.
Mungkin belum terdengar ke telinga para akhwat shalihah nan imut yang menjadi binaan para murabbiyah tangguh ini kisah tentang ummahat yang memiliki 14 anak, kesemuanya dibesarkan tanpa sentuhan asisten rumah tangga sama sekali! Tidak usah jauh-jauh nonton drakor, para wanita super sabar, tabah, dan tangguh itu ada di dekat lingkungan mereka sendiri; lingkungan tarbiyah yang berhasil mencetak profil muslimah patriotik, heroik, dan cinta Islam.
Banyak gadis zaman now, setelah Shubuh senang kembali memeluk bantal dan selimut. Tidakkah mereka khawatir, saat nanti menjadi seorang ibu apa jadinya jadwal sekolah anak-anak mereka bila waktu untuk menyiapkan sarapan, setrika seragam, memandikan anak, melayani suami dan segudang aktivitas yang hanya bisa dikerjakan di pagi hari, hilang dengan molor ke tempat tidur?
Kecenderungan untuk berleha-leha, sering dijumpai pada mereka yang berkecukupan materi, meski tidak selalu begitu. Para gadis kinyis-kinyis ini lupa, bahwa semua fasilitas dan kemudahan hidup berkuliah dan kemewahan ini hanyalah titipan dari Allah melalui orang tua mereka. Saat mereka menjadi ibu bagi anak-anaknya, masihkah berharap kenikmatan hidup serba berkecukupan itu selalu menetap pada dirinya?
