Bernas.id – Tanggal 31 Januari 2018 akan menjadi sebuah sejarah karena akan ada tiga fenomena alam yang terjadi. Yang pertama adalah gerhana bulan total (blood moon). Lalu bulan akan berada pada jarak terdekat dengan bumi sehingga akan terlihat lebih besar dan sinarnya lebih terang (supermoon). Yang ketiga adalah bulan purnama yang terjadi dua kali dalam satu bulan (blue moon).
Fenomena alam ini pernah terjadi 152 tahun yang lalu tepatnya tanggal 31 Maret 1866. Dan para ilmuwan memprediksi bahwa akan terjadi lagi kejadian langka ini nanti tanggal 31 Desember 2028, 10 tahun dari sekarang.
Dulu, banyak sekali mitos mengenai gerhana bulan. Seperti di India, tidak boleh memasak saat terjadi gerhana karena sudah terpapar oleh racun. Di Jepang, masyarakatnya menutup lubang-lubang sumur karena diyakini saat gerhana terjadi, ada racun yang disebarkan ke bumi melalui air sumur. Di Jawa, gerhana bulan diyakinI bahwa bulan dimakan oleh raksasa Batara Kala sehingga penduduk beramai-ramai menabuh lumpang (tempat penumbuk dari besi) dengan maksud menakuti dan mengusir Batara Kala.
Masih ada mitos lain mengenai gerhana bulan, contoh dari Bangsa Yunani Kuno yang percaya bahwa gerhana bulan adalah tanda awal terjadinya.bencana besar karena Tuhan sedang marah. Dan kata gerhana (eclipse) berasal dari bahasa Yunani Kuno ?ekleipsis? yang artinya ditinggalkan. Atau di Cina yang percaya bahwa gerhana bulan total terjadi karena bulan sedang dimakan oleh naga yang sedang marah sehingga warganya menyalakan petasan untuk mengusir naga.
Bagaimana pandangan Islam terhadap terjadinya gerhana bulan?
Dari ?Aisyah radhiyallahu ?anha, Nabi Muhammad SAW bersabda : “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah salat dan bersedekahlah.”
Berdasarkan hadis tersebut, saat terjadi gerhana bulan, umat muslim dihimbau untuk melakukan:
- Mengumandangkan Gema Takbir sebagaimana Lafadz Takbir Hari Raya. Memperbanyak Takbir, Tahlil, Tahmid dan Istighfar dari pukul 17.51 WIB awal fase gerhana terjadi hingga bulan kembali bersinar.
- Salat Gerhana Bulan berjamaah di masjid, seperti pelaksanaan salat Jumat. Dilaksanakan pukul 20.30 WIB secara serentak untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya (Bulan tertutup total berwarna merah ditandai terjadinya pasang air laut menuju daratan)
- Khotib berkhutbah gerhana dengan tema “Gerhana sebagai Kebesaran dan Kekuasaan Allah”.
- Mengumpulkan dan membagikan sedekah.
Salat Gerhana Bulan atau disebut juga Salat Khusufil Qomar terdiri dari dua rakaat, perbedaannya dengan Salat Sunnah lainnya adalah disetiap rakaat dilakukan dua kali ruku, dua kali baca Al-Fatihah dan Surah Pilihan.
Saat posisi ruku, badan kita membentuk sudut 90 derajat. Jika dua kali ruku dalam satu rakaat berarti badan kita membentuk sudut 90 derajat sebanyak dua kali dan kalau dijumlah sama dengan 180 derajat (garis lurus). Sama dengan posisi matahari bumi dan bulan yang berada pada satu garis lurus (180 derajat) saat terjadi gerhana bulan.
