Bernas.id – Menjadi seorang calon psikolog, seorang mahasiswa yang sedang mempelajari psikologi, atau calon konsultan ahli lainnya tentu memiliki banyak tantangan, sama seperti dalam bidang ilmu lainnya. Namun, ada satu hal yang mungkin pernah dialami oleh seseorang yang sedang belajar ilmu yang mempelajari tentang keadaan mental dan jiwa ini. Sebagian besar dosen psikologi atau mahasiswa psikologi pasti paham alasan mengapa mereka tidak akan menyebut profesi kepada sembarang orang, misal saat menempuh perjalanan panjang dalam satu kendaraan umum seperti kereta, atau sekedar berada di suatu ruang publik dan saling sapa.
Satu alasan terbesar para dosen atau mahasiswa psikologi enggan memberi keterangan yang jelas saat ditanya tentang profesinya ini adalah 'sebagian besar orang awam akan menganggap profesi tersebut sebagai sosok yang bisa membaca pikiran'. Biasanya orang yang dianggap bisa membaca pikiran akan tahu segalanya. Lalu akan ada dua kemungkinan yang terjadi setelah itu, yakni pihak yang menjadi lawan bicaranya akan merasa sungkan karena takut pikirannya terbaca dengan jelas, atau pihak yang menjadi lawan bicaranya itu akan mengambil kesempatan 'langka' tersebut sebagai suatu peluang emas.
Umumnya, seseorang yang mengambil kesempatan tadi akan menjadikan momen itu sebagai ajang konsultasi gratis, baik itu berkaitan tentang kepribadian mereka, sifat mereka, jalan hidup mereka, atau bahkan tentang solusi atas masalah yang sedang mereka hadapi. Sebagai manusia biasa, hal itu tentu cukup merepotkan bagi sebagian besar dosen atau mahasiswa psikologi yang mungkin saat itu sedang 'tidak ingin diganggu'. Terlebih jika orang yang beranggapan demikian, memiliki segudang masalah. Berhubung yang bersangkutan mengira orang-orang yang bergelut di bidang psikologi itu bisa membaca pikiran, maka yang bersangkutan umumnya akan langsung meminta solusi. Nah, bagaimana bisa psikolog atau konselor memberikan solusi bila mereka belum mengetahui duduk perkaranya?
Agar bisa mengetahui akar permasalahan yang dihadapi oleh seseorang, para psikolog, konselor, para dosen, atau mahasiswa psikologi akan bertanya dan menggali lebih dalam tentang masalah yang dihadapi oleh 'klien'. Saat melakukannya, tentu psikolog, konselor, calon psikolog dan konselor harus menjadi pendengar yang baik. Menjadi seorang pendengar yang baik tentu tidaklah mudah. Banyak calon psikolog dan atau konselor yang awalnya tidak memiliki kesabaran ekstra untuk melakukan hal ini, sehingga mereka harus berlatih secara konsisten dan terus-menerus. Meski demikian, tidak banyak di antara para calon psikolog atau konselor yang masih melakukan 'kesalahan' saat harus menjadi 'pendengar dan pemberi solusi dadakan' kepada 'klien'. Berikut lima kesalahan yang umumnya dilakukan oleh calon psikolog dan atau konselor secara tidak sadar:
1. Lupa Bersimpati;
Seseorang yang menjadi tempat 'curhat dadakan' tidak selalu berada pada keadaan yang benar-benar siap untuk mendengarkan, dalam arti pikiran atau perasaannya sedang tertuju pada masalah lain. Saat itulah, beberapa 'pendengar dadakan' ini sering lupa untuk menaruh simpati pada orang yang sedang 'curhat'. Padahal, simpati adalah kesan pendukung utama yang akan membuat orang lain merasa nyaman dan percaya diri untuk bercerita lebih jauh tentang dirinya. Jika masalah ini dan juga masalah kekurangmampuan untuk berempati kepada calon klien masih sering dialami oleh seorang calon psikolog atau konselor, maka besar kemungkinan mereka akan sulit mendapatkan kepercayaan dari calon klien, padahal trust adalah kunci utama pembuka sesi konsultasi atau terapi.
2. Terlalu Terpatok Pada Teori;
Sama seperti profesi yang hampir selalu berhubungan dengan klien atau pasien, seperti dokter, apoteker, dan juga konsultan di bidang lain, seperti pengacara dan konsultan keuangan, akan sangat mudah bagi mereka untuk membaur dengan klien beserta masalahnya. Hal itu akan semakin mudah seiring dengan bertambahnya 'jam terbang' yang dimiliki. Sebagai seorang calon psikolog atau konselor, jam terbang yang dimiliki tentu masih sangat sedikit, apalagi jika yang bersangkutan baru saja tamat dari pendidikan profesinya. Terkadang, sebagian besar dari mereka masih terpatok pada teori, sehingga bahasa yang digunakan untuk berbicara kepada klien akan cukup sulit dipahami oleh klien. Tidak jarang, masih banyak istilah-istilah keilmuan yang semestinya hanya disampaikan kepada rekan sejawat, malah disampaikan kepada klien. Hal ini akan cukup mengganggu, apalagi jika klien termasuk tipe orang yang sangat mudah percaya kepada ucapan seseorang yang dianggap memiliki kompetensi yang mumpuni.
3. Topik Bahasan Acak, bahkan Tidak Koheren;
Sebagai seorang konsultan pemula, seorang calon psikolog atau konselor, umumnya akan menemukan banyak kemungkinan pada masalah yang sedang dihadapi oleh kliennya, sehingga tidak menutup kemungkinan konsultan muda tersebut akan membicarakan banyak hal yang berkaitan dengan masalah kliennya tersebut. Hal ini tentu akan membuat klien sedikit merasa bingung. Meski biasanya hal tersebut tidak akan berpengaruh apapun kepada klien, namun secara tidak langsung hal itu mungkin akan membuat klien berpikir bahwa calon psikolog atau konselor tersebut sebagai orang yang kurang mumpuni, sehingga tingkat kepercayaan klien terhadap calon psikolog atau konselor akan berkurang.
4. Menceritakan Masalah Sendiri;
Bukannya memberi solusi atau alternatif jalan keluar dari permasalahan klien, seringkali seorang calon psikolog dan atau konselor justru menceritakan tentang dirinya sendiri, beserta masalah yang sedang dihadapinya. Hal ini kadang justru membuat pihak yang berperan sebagai konsultan kehilangan kendali atas dirinya sendiri karena terbawa emosi kesedihan atau kemarahan yang pernah ada di masa lalu.
5. Mendominasi Pembicaraan;
Sama seperti calon konsultan lainnya, seorang calon psikolog dan atau konselor yang masih sering kehilangan kendali atas dirinya sendiri, umumnya akan sangat mudah untuk mendominasi pembicaraan. Sesi konsultasi yang semestinya lebih banyak digunakan oleh 'klien' untuk bercerita, akan berkurang porsinya untuk kepentingan si calon konsultan. Hal ini tentu bukan hanya akan merugikan calon klien, melainkan juga calon konsultan itu sendiri.
Dari lima 'kesalahan' yang umumnya dilakukan secara tidak sadar oleh calon psikolog atau konselor, serta tidak menutup kemungkinan dilakukan juga oleh calon-calon konsultan ahli lainnya, manakah hal yang paling sering kita jumpai di tengah masyarakat? Semoga kelima 'kesalahan' tersebut akan semakin jarang kita temui di masa depan.
