Bernas.id – Alquran sebagai sumber hukum di antaranya membahas tentang akhlak. Baik akhlak terhadap Allah, manusia maupun lingkungan. Ketiga hal ini tidak dapat dilepaskan karena saling berkaitan. Jika seorang tersebut berperilaku baik terhadap Allah, maka otomatis baik pula terhadap sesama. Sebagai contoh jika kita salat lima waktunya baik, maka baiklah akhlaknya terhadap makhluk lainnya, mestinya. Namun yang terjadi banyak yang baik secara vertikal, namun kurang secara horizontal. Aneh, kan?
Dalam kancah perpolitikan di Indonesia pun tidak lepas dari hal demikian. Mestinya semua berakhlak bukan hanya ketika di rumah ibadah saja, namun di dalam segala hal kehidupan kita. Bukankah Rasululah adalah seorang praktisi politik juga. Bagaimana beliau memimpin umat dalam beribadah khusus maupun beribadah secara umum. Menjadi seorang pemimpin di tempat yang terdiri dari berbagai etnis dan agama ini memerlukan kecerdasan yang tinggi.
Bagi seorang pemimpin mesti menyadari bahwa apapun tugas yang diembannya pasti beresiko bagi dirinya. Baik dari pekerjaan itu sendiri maupun dari partai yang menjadi lawan politiknya saat dia menjabat. Jadi tak heran jika seorang pemimpin seolah dicari cari kesalahannya terutama oleh lawan yang tidak mengusungnya. Nah, dalam Islam namanya tajassasus yakni mencari-cari kesalahan orang lain. Jelas perbuatan ini haram hukumnya. Miris kan padahal ketika kita memilih seorang pemimpin bukan hanya pemimpin sebagai kepala pemerintahan, namun sebagai abdi yang akan diminta pertanggungjawabannya di akhirat kelak.
Maka seorang pemimpin hendaknya menyadari apa yang menjadi janji politiknya ketika kampanye. Karena jika tidak maka akan menjadi makanan empuk calon yang kalah olehnya. Oke dalam pertarungan memang ada kalah dan menang namun dalam kancah pperpolitikan hendaknya mengedepankan :
- Kepentingan rakyat dan Negara. Ketika pemilihan kepala daerah misalnya, ini bukan kemenangan secara pribadi. Maka siappun yang menang harus melihat kepntingan Negara diatas kepentingan partai pengusungnya.
- Melanjutkan kepemimpinan sebelumnya. Jika ada hal-hal yang baik yang sudah tertanam oleh pemimpin sebelumnya mestinya dilanjutkan saja jangan malah menjelekkannya. Yang terjadi adalah pemimpin baru dengan segala kebijakannya merombak hal yang sudah ada walaupun itu kebaikan. Seolah pendapat atau kebijakan sayalah yang paling baik dan benar serta dapat mensejahterakan. Padahal tidak demikian. So, sebaiknya pertahankan kebaikan yang lama serta melanjutkannya dan menambahkan program berikutnya yang lebih baik.
- Menjadikan para pendahulu itu sebagai tempat untuk meminta nasehat. Nah pengalaman adalah guru yang terbaik. Maka gak ada salahnya jika pejabat yang baru terpilih sedikit meluangkan waktu untuk mendengarkan pendapat para pendahulu sebelumnya. Tapi ingat bukan untuk didikte. Jika usulan pendapat tersebut baik maka lanjutkan jika tidak ya tidak harus semuanya juga diikuti.
- Jangan lupa selalu berlindung kepada Allah agar selalu diberikan petunjuk dalam memimpin umat dan dapat mensejahterakannya. Karena tak ada seorang pun yang akan berhasil jika Allah tidak menakdirkan untuknya.
- Terakhir jangan lupa bahwa pemimpin adalah amanah yang kelak akan diminta pertanggungjawabannya di akhirat kelak. Maka jadilah pemimpin yang amanah yang senantiasa menjunjung tinggi rasa keadilan untuk seluruh rakyatnya.
