Bernas.id ? Donald Trump dikenal memiliki hubungan yang kurang baik dengan media-media setempat. Baru-baru ini, Trump kembali melancarkan serangan terbarunya kepada media. Ia membuat sebuah acara penghargaan bertajuk Fake News Award (Penghargaan Berita Palsu).
Dibuatnya ajang ini merupakan kelanjutan dari komentar yang dibuat oleh Trump pada bulan November lalu. Saat itu lewat akun Twitternya, Trump berpendapat bahwa sebaiknya ada penghargaan khusus untuk media-media yang menurutnya menerbitkan ?berita palsu?. Lantas siapakah media yang memenangkan penghargaan tersebut
Hari Rabu waktu setempat (17/1/2018), Trump resmi mengumumkan siapa saja penerima penghargaan lewat situs Partai Republik. Peringkat pertama diduduki oleh The New York Times dengan artikel berisi klaim kalau naiknya Trump sebagai presiden bakal membunuh bursa keuangan.
Peringkat kedua diduduki oleh ABC News dengan artikel mengenai hubungan rahasia antara Donald Trump dengan Rusia. Di peringkat ketiga, ada majalah TIME dengan pemberitaan tidak akurat mengenai dihilangkannya patung dada aktivis antiperbudakan Martin Luther King dari kantor kepresidenan Gedung Putih.
Tindakan Trump membuat acara penghargaan ini lantas menuai kritikan pedas dari pihak-pihak lain, termasuk dari sesama anggota Partai Republik sendiri. John McCain yang pernah mencalonkan diri dalam pilpres tahun 2008 silam menuding kalau tindakan Trump ini tidak ada bedanya dengan upaya diktator untuk membungkan kebebasan pers dan pihak-pihak yang tidak sejalan.
Kalangan media massa juga turut mengkritik tindakan Trump ini. Jurnalis Chris Riotta menganggap kalau ajang ini menunjukkan kalau Trump tidak bisa menerima kritikan yang ditujukan kepada dirinya. New York Daily News secara sarkastik menyayangkan kenapa pihaknya tidak disebut sama sekali dalam acara ?penghargaan? ini.
