Bernas.id – Jakarta adalah ibukota Negara dengan kepadatan penduduk melebihi sejumlah kota besar di Indonesia. Hal yang paling mencolok dari kota sebesar Jakarta adalah kemacetan setiap hari, tak terkecuali di akhir pekan. Jakarta berudara panas dengan curah hujan normal namun terkadang menimbulkan banjir di mana-mana karena sebagian wilayah Jakarta posisinya rendah dengan sistem drainase yang masih saja buruk.
Bagi sebagian wisatawan Mancanegara, Jakarta bukanlah tujuan utama mereka. Jakarta hanya dianggap sebagai kota transit sebelum mereka sampai pada tujuan wisata, sebenarnya seperti Jogja dan Bali. Jogja, Bali dan Indonesia Timur lebih beragam obyek wisatanya di antaranya wisata alam dan budaya.
Faktanya Jakarta memiliki Landmark Negara yaitu Monumen Nasional atau dikenal dengan nama Monas dan beberapa obyek wisata seperti Taman Mini, Ancol, Kebun Binatang Ragunan, Kota Tua dan Museum Nasional. Namun itu belum memaksimalkan daya tarik kota Jakarta bagi Wisatawan Mancanegara. Inilah 7 penyebab Jakarta terlihat kurang ramah untuk dikunjungi Wisatawan Mancanegara. Apa sajakah itu?
1. Kemacetan
Kemacetan merupakan ritual standar bagi masyarakat Jakarta. Macet sepanjang hari sejak jam 6 pagi hingga jam 9 malam pada hari-hari biasa, akan berimbas pada keengganan wisatawan mancanegara untuk mengarungi kota Jakarta. Mungkin solusi bagi wisatawan nekat adalah menggunakan transportasi ojek motor online yang memang menjadi satu-satunya moda transportasi yang mampu menembus kemacetan Jakarta yang sudah pada tahap edan.
2. Pedestrian yang kurang nyaman
Bagi wisatawan Mancanegara, berjalan kaki merupakan hal biasa untuk merasakan atmosfer daerah yang mereka kunjungi. Sayangnya, Jakarta belum memaksimalkan fasilitas bagi pejalan kaki. Ada banyak fasilitas pejalan kaki yang tersedia justru dirampas oleh pedagang kaki lima dan parkir liar, belum lagi penggalian untuk pembuatan saluran dan kabel yang bisa mengundang bahaya jika tidak berhati-hati.
3. Kurangnya moda transportasi gratis langsung ke obyek wisata
Mungkin ada banyak wisatawan mancanegara yang bingung dengan cara bagaimana mereka sampai dari satu obyek ke obyek lain dalam satu hari. Dengan angkutan umum mereka mungkin sangat awam terhadap trayek yang tersedia belum lagi kerawanan kriminal di angkutan umum seperti angkot, metromini dan bajaj. Untuk menaiki Trans Jakarta, mereka diharuskan memiliki uang elektronik yang mungkin saja kurang mereka pahami.
4. Penghancuran situs bangunan tua
Pemda Jakarta kurang memperhatikan asal usul Jakarta sebagai kota yang sudah berkembang sejak pertama kali Belanda hadir di kota yang mereka namakan Batavia. Ada banyak situs tua yang terbengkalai atau termusnahkan karena motif ekonomi. Pembangunan lebih diarahkan kepada gedung-gedung modern yang melenyapkan wajah asli Jakarta, sehingga terlihat sama saja dengan kota-kota besar lainnya. Padahal keberadaan beberapa gedung tua yang kini telah lenyap bisa dijadikan sebagai museum, café dan galeri. Untuk itu Jakarta harus banyak belajar dengan Penang Malaysia, yang berhasil menjadikan Kota Tua-nya sebagai destinasi utama para pelancong dunia. Para wisatawan nampaknya enggan dengan keseragaman wajah kota Jakarta.
5. Jakarta lebih condong sebagai kota bisnis
Kota besar ini tumbuh pesat dengan berdirinya banyak gedung bertingkat untuk kepentingan bisnis dan ekonomi. Sementara, penataan masyarakat kelas bawah berjalan timpang, sehingga banyak warga kelas bawah Jakarta yang memilih pindah ke pinggir Jakarta. Pembangunan mall paling banyak adanya di Jakarta yang katanya bertujuan wisata namun kental bisnis. Wisatawan mancanegara lebih condong ingin merasakan pengalaman yang berbeda seperti mengunjungi situs budaya daripada belanja di mall yang mungkin juga ada di negara asal mereka.
6. Tingkat kriminalitas dan seringnya terjadi demontrasi
Semakin besar sebuah kota berbanding lurus dengan tingkat kriminal. Kota besar adalah tempat berkumpul orang-orang dari berbagai suku dan bangsa. Relasi antar warga kota Jakarta cenderung individual dengan diimbuhi prasangka sebelum mereka kenal. Belum lagi kota Jakarta menjadi ajang politik dengan seringnya terjadi demontrasi sehingga banyak negara suka mengeluarkan travel warning yang melarang warganya berkunjung. Hal ini yang menjadi keengganan para turis mancanegara untuk berlama-lama di kota Jakarta.
7. Kurangnya wisata alam
Jakarta hampir tidak memiliki wisata alam, kalau saja Kepulauan Seribu bukan bagian dari wilayah Jakarta. Kepulauan Seribu memiliki pesona pantai dan laut yang masih bisa dibilang lumayan untuk ukuran wisatawan lokal, tapi tidak untuk wisatawan mancanegara. Mereka lebih baik memilih laut dan pantai di Indonesia Timur yang masih sangat cantik luar biasa.
Jika Pemda Jakarta terutama Dinas Pariwisatanya mau berbenah untuk memaksimalkan kunjungan wisata, mereka harus memikirkan konsep program wisata kota Jakarta yang lebih baik. Dengan menyediakan moda transportasi langsung ke obyek wisata, menata kawasan khusus wisata yang lebih nyaman dan nyaman serta berkonsep jelas, sehingga Jakarta menjadi tujuan utama wisatawan mancanegara bukan hanya sekadar transit, sebelum mereka ke Bali atau daerah Indonesia Timur.
