Bernas.id ? Jika perang sudah terjadi di suatu negara, maka hampir semua golongan yang tinggal di negara tersebut bakal turut merasakan dampaknya. Tak terkecuali golongan pers. Al Jazeera pada hari Rabu (10/1/2018) mengumumkan kalau kantor cabangnya di kota Taiz, Yaman menjadi korban pembredelan.
Menurut pernyataan Jaringan Media Al Jazeera, penutupan tersebut terjadi pada hari Selasa waktu setempat (9/1/2018). Penutupan terjadi setelah sejumlah orang tentara yang berasal dari Komando Keamanan Tinggi di Taiz menyerbu kantor cabang milik Al Jazeera dan menutupnya secara paksa.
?Jaringan (Al Jazeera) meminta supaya otoritas yang berwenang di kota Taiz untuk segera meralat keputusannya dan mengizinkan wartawan Al Jazeera untuk menjalankan tanggung jawab profesionalnya tanpa gangguan maupun intimidasi,? tulis situs berita Al Jazeera.
Bukan sekali ini saja Al Jazeera menjadi korban dalam konflik yang tengah berkecamuk di Yaman. Bulan Januari tahun lalu, tiga staf Al Jazeera menjadi korban penculikan. Peristiwa tersebut juga mengambil tempat di kota Taiz.
Taiz sendiri merupakan kota yang strategis dan kini menjadi ajang perebutan oleh pihak-pihak yang bertikai. Lokasinya yang terletak di antara ibukota Sanaa dan Yaman selatan menjadi penyebab mengapa kota ini dianggap penting.
Perang di Yaman bermula ketika kelompok militan Syiah Houthi menguasai sejumlah wilayah di Yaman, termasuk ibukota Sanaa. Negara-negara Arab yang dipimpin oleh Arab Saudi lantas melakukan operasi militer dari udara sejak tahun 2015 untuk melemahkan Houthi. Sebanyak 10 ribu orang diperkirakan sudah menjadi korban tewas dalam perang ini.
