Bernas.id – Indonesia merupakan surganya kebudayaan. Banyak budaya dan seni yang lahir di tanah air tercinta ini. Salah satunya adalah ?udeng?. Mungkin anda akan sering menemukannya di daerah Bali. Karena di Bali kaum laki-laki sering menggunakannya baik dalam acara formal, maupun informal, juga saat sembah yang di pura. Sebenarnya dari manakah udeng berasal? Mengapa ada beberapa versi, yaitu dari Jawa, Banyuwangi (Osing), dan Bali?.
Udeng asal katanya berasal dari bahasa jawa ?mudeng? yang berarti paham. Yang memiliki makna bahwa pemakai udeng harus tahu dan paham siapa dirinya. Udeng memilki warna dan motif yang berbeda-beda, hal ini dibedakan berdasarkan status sosial si pemakai. Kaum bangsawan misalnya, harus selalu memakai udeng dengan ikatan kuat, dan ikatannya harus pas di ujung hidung. Filosofinya, karena bangsawan harus memilki sifat yang satu (kokoh dalam fikiran, tindakan, dan ucapan).
Sejarah udeng sendiri terdapat dua versi. Yang pertama berdasarkan Cerita Panji, yaitu sejak zaman Aji Saka. Berdasarkan cerita yang ada udeng memang sudah ada saat itu, dikenal dengan sebutan ?iket?. Sedangkan yang kedua berkaitan dengan pengaruh budaya Hindu dan Islam di tanah Jawa. Ketika Kerajaan Majapahit runtuh, sebagian masyarakat yang enggan memeluk Islam pergi ke arah Timur. Sebagian tinggal di Banyuwangi dan sebagian lagi pergi ke Pulau Bali.
Di Banyuwangi, udeng mengalami asimilasi antara beberapa suku, diantaranya yaitu: Madura, Jawa, dan Osing, sehingga bentuknya berbeda dengan udeng Jawa. Di Jawa Timur, udeng memilki ciri khas berupa ikatan samping yang menyerupai segitiga (trinetra). Sedangkan di Banyuwangi, ada tiga macam Udeng yang dibedakan berdasarkan umur. Tipe nungsep dipakai oleh kalangan muda. Tipe sempadan jejeg dipakai oleh kalangan yang sudah menikah. Tipe sempadan tongkos dipakai oleh kalangan tua atau sesepuh.
Di Bali, udeng memiliki simbol ?ngiket manah? (memusatkan pikiran). Terdapat tiga jenis udeng di Bali. Udeng jejeteran, digunakan untuk persembahyangan. Udeng dara kepak, yang memiliki simbol seorang pemimpin. Udeng beblatukan, dipakai oleh pemangku.
Itulah cuplikan tentang udeng yang sebaiknya kita ketahui sebagai masyarakat Indonesia yang berbudaya.
