Bernas.id – Kitab Sang Hyang Kamahayanikan yang merupakan pergulatan intelektual warisan dari abad-abad lampau seakan terkubur jauh di bawah kesadaran bangsa Indonesia. Padahal karya itu hadir sebagai kitab suci dan terjelma dalam bangunan Candi Borobudur. Walaupun tak banyak dikenali, masih ada sejumlah pihak yang peduli atas warisan peradaban tersebut.
Hal tersebut disampaikan Romo G. Budi Subanar SJ, seorang budayawan yang juga pastor Katholik saat menjadi salah satu pembicara dalam Borobudur International Conference 2018. Acara digelar di kawasan Candi Borobudur Jawa Tengah, Jumat (4/5/2018).
Romo Banar menyampaikan, Sang Hyang Kamahayanikan merupakan kitab Buddhis nusantara yang ditulis dalam aksara Sansekerta, dengan penjelasan bahasa Kawi atau Jawa Kuno. Pada bagian terakhir tertulis nama Raja Mpu Sindok (929-947) dari Kediri, Jawa Timur. Untuk pertama kalinya, kitab ini ditulis dalam aksara latin, dalam bahasa Belanda, tahun 1910, dan sempat dibuat dalam versi mocopat bahasa Jawa tahun 1988.
“Salah satu masalah yang ada dengan kehadiran Sang Hyang Kamahayanikan antara lain terkait dengan arti tersembunyi dari bahasa semu yang digunakan, karena Sang Hyang Kahamayanikan memuat ajaran rahasia dan bagian-bagian yang memuat ajaran lisan dari seorang guru,” ujar Banar.
Ia menerangkan, ada tiga pokok ajaran dalam kitab tersebut. Ada pemahaman struktur “Tri Aksara” dari kaya, wak, dan citta, yang memiliki gagasan ideal, serta daya kekuatan untuk mengungkap kenyataan. Yang kedua adalah tata laku tapa dan meditasi sebagai jalan olah rohani. Dan yang ketiga tentang mandala yang memuat ajaran rahasia untuk mencapai kebahagiaan dan ketentraman.
“Pokok-pokok ajaran sebagaimana disebut di atas dengan berbagai macam perinciannya, tentu tidak menjadi monopoli khusus dan terbatas bagi pemeluk agama Buddha,” kata lulusan Gregoriana Roma University ini.
Menurutnya, Borobudur dan Sang Hyang Kamahanayikan merupakan sumber sekaligus monumen yang menyuarakan dan menebarkan damai di tengah kebencian (hate speech) yang sedamg merebak dan mewarnai kehidupan masyarakat kita. Keduanya menurutnya menyimpan kekayaan yang tidak lekang dimakan waktu dan terus menyumbang untuk peradaban.
“Inilah yang perlu terus-menerus untuk dikumandangkan, dan disebarkan ke berbagai pihak di berbagai wilayah,” tegasnya. (Den)
