Bernas.id-Bagi mereka yang berjiwa bisnis dan ingin berjualan, bekerja tak harus di tempat tertentu, apalagi harus buka pagi dan tutup sore bahkan malam. Karena di manapun dan kapapun bisa berjualan, asalkan mau, bahkan hasilnya bisa lebih besar dari berjualan di tempat khusus atau tempat yang tetap.
Itulah yang dilakukan Yoga Rianda (28), warga Jalan Jagalan, Kec Kalasan, Kab Sleman. Setiap hari ia berangkat dari rumahnya di Kalasan dengan menumpang bus Transjogja lalu mampir ambil sepeda di tempat penitipan di Pojok Beteng Jogja. Dari sana, pemuda yang mengaku berasal dari Sumatera ini mengayuh sepeda onthel menuju Malioboro, jantung kota Yogyakarta.
“Pada hari-hari biasa sebelum puasa saya mulai berjualan pukul 06.00 di Malioboro. Wira-wiri dari utara ke selatan, lalu sebaliknya dari selatan ke utara, dengan bersepeda. Ketika ada yang membeli saya berhenti, lalu jalan lagi. Begitu seterusnya,” kata Yoga yang mengaku berjualan pulsa keliling Malioboro dengan bersepeda itu dilakukan sejak 3,5 tahun lalu kepada kumparan.com/tugujogja di ruang publik sisi timur Malioboro, tepatnya di depan Kantor DPRD DI Yogyakarta, Jumat (25/5/2018) siang.
Ide Yoga berjualan pulsa keliling di Malioboro berawal ketika ia nongkrong di Malioboro dan sering mendengar pengunjung Malioboro, termasuk para pedagang kaki lima, yang menanyakan counter atau tempat penjualan pulsa. Dan meski di Malioboro ada counter HP yang menjual pulsa, namun baru dibuka pukul 10.00 siang dan itu pun letaknya agak jauh.
Maka muncul ide Yoga untuk menjual pulsa keliling Malioboro dengan bersepeda. Bahkan sejak pagi pukul 06.00 WIB setiap hari ia sudah sampai di Malioboro. “Saya harus jualan sejak pagi karena banyak karyawan kantoran dan pedagang sudah berdatangan ke Malioboro sebelum jam 10.00. Dan pada jam-jam segitu atau sebelum pukul 10.00 WIB, banyak yang mencari counter HP untuk membeli pulsa. Saya pun menangkap peluang itu dengan berjualan pulsa keliling dan hasilnya lumayan,” kata Yoga sambil melayani beberapa pembeli pulsa di area depan Kantor DPRD DIY.
Ia mengaku dalam keadaan normal rata-rata setiap hari mendapat keuntungan bersih Rp 250.000. Bahkan pada musim-musim liburan bisa mendapat lebih dari itu. Sementara pada bulan puasa seperti sekarang pemasukan agak berkurang, selain karena ia baru datang pukul 09.00, juga karena pengunjung Malioboro sedikit pada pagi hingga siang.
Apa yang dilakukan Yoga disambut baik oleh para karyawan yang sehari-hari bekerja di Malioboro. Jiyono, pegawai UPT Malioboro yang bertugas mengawasi Malioboro, mengaku merasa terbantu dan nyaman dengan keberadaan pejual pulsa keliling seperti dilakukan Yoga. Sebab, begitu kehabisan pulsa atau paket data, ia langsung kontak Yoga.
“Bahkan bisa ngutang juga. Artinya, saat pas gak bawa duit pulsa atau paket data bisa diisi dulu, bayarnya belakangan. Namun, itu tentu hanya dilakukan dengan orang yang sudah dikenal baik dan sudah berlangganan,” kata Jiyono yang mengawasi Malioboro agar bebas dari PKL, pengamen, pemabuk dan hal-hal lain yang mengganggu kenyamanan pengunjung Malioboro dan ketertiban umum lainnya.
Menurut Jiyono, untuk menjaga ketertiban dan kenyamanan pengunjung setiap PKL yang diperbolehkan berjualan diberi pakaian seragam. Dengan demikian, tidak boleh bebas berjualan di Malioboro, tapi khusus yang mendapat izin dan itu pun sangat selektif dengan syarat harus taat dan patuh terhadap peraturan yang ada. “Ini semua dilakukan demi menjaga keamanan dan kenyamanan pengunjung Malioboro,” kata Jiyono. (lip)
