Bernas.id – Libur lebaran menyambut Idul Fitri 1439 H tinggal beberapa hari lagi, tentunya bagi para pemudik atau wisatawan yang berencana liburan ke Yogyakarta sudah mengagendakan untuk menikmati kuliner khas gudeg ikoniknya kuliner Jogja.
Banyak rumah makan dan warung-warung gudeg yang bertebaran baik yang bentuk lesehan di pinggir jalan maupun berkonsep rumah makan. Namun bagi yang pingin menikmati nuansa lebaran yang Jogja banget silakan datang di Sentra Kuliner Gudeg Wijilan sembari menikmti keindahan Plengkung Wijilan peninggalan sejarah Kerajaan Mataram Yogyakarta. Juga nuansa Njeron Beteng Kraton yang masih menyisakan beberapa bangunan rumah kuno nan indah menawan.
Berdasar data yang terdapat di Kantor Kelurahan Panembahan, ada sekitar 15 pengusaha rumah makan kuliner gudeg yang buka di sepanjang Jalan Wijilan, tepatnya di Kampung Mangunegaran, Kelurahan Panembahan, Kecamatan Kraton, Yogyakarta.
?Ada lebih dari 15an pengusaha kuliner gudeg yang buka di Jalan Wijilan, hanya sayang jejak sejarah awal keberadaan mereka belum ada yang mengupas dan tercatat. Setahu saya sekitar tahun 1970 an hanya ada dua, di depan plengkung sisi timur dan di dalam itu pun bukanya pagi sampai siang. Penjualnya pun juga dari luar, sedangkan sekarang kebanyakan oleh warga kampung setempat jam buka dari pagi sampai malam,? jelas Lurah Panembahan Purnama, SE kepada Bernas.id, Jumat (8/6/2018), di ruang kerjanya.
Kuliner gudeg yang berada di Sentra Kuliner Gudeg Wijilan ini, adalah bentuk masakan gudeg kering. Gudeg beserta kelengkapannya seperti telor, daging ayam dan sambal krecek dimasak secara kering tanpa kuah. Sehingga cukup kuat apabila sebagai buah tangan atau oleh-oleh bagi para wisatawan, dengan memakai kemasan kendil maupun dalam bentuk kalengan.
Sementara itu, masih dalam kawasan Kelurahan Panembahan, 300 meter selatan Sentra Kuliner Gudeg Wijilan, tepatnya di Jalan Suryoputran arah menuju Polsek Kraton Yogyakarta, ada varian gudeg basah. Ada dua penjual yang telah lama menekuni jual gudeg basah, yaitu Gudeg Basah Bu Saring (Bu Yanto) dan Gudeg Basah Bu Nik.
Selain cara memasaknya agak berbeda antara gudeg kering dan gudeg basah, sensasi dalam menikmatinya pun juga berbeda. Gudeg basah ada kuah khasnya bernama areh (santan kental) dan sambal kreceknya pun juga berkuah dengan cita rasa pedas, dengan tempe yang diiris kecil-kecil dan tahu pong jika dikunyah terkadang kuah sambalnya muncrat di dalam mulut menjadikan sensasi tersendiri bagi penikmat kuliner.
Untuk menyambut libur lebaran mendatang, Lurah Panembahan Purnama, SE, mengimbau agar para penjual gudeg di kawasan Sentra Kuliner Gudeg Wijilan dan sekitarnya tetap menerapkan harga yang wajar dan memberikan pelayanan terbaiknya.
?Dalam menyambut libur lebaran, kami mengimbau agar para pedagang memberikan harga yang wajar terhadap tamu wisatawan. Sedangkan bagi warga di kampung sekitar, marilah kita menjadi tuan rumah yang baik dengan memberikan kesempatan pada para wisatawan. Agar tidak menambah kemacetan ruas Jalan Wijilan dan Plengkung, parkir kendaraan diatur yang rapi dan apabila berpergian keluar sebaiknya melalui jalan-jalan alternatif yang ada di sekitarnya,?tandasnya. (ted)
