Bernas.id — Kesibukan sehari-hari pengerjaan proyek revitalisasi Malioboro, khususnya yang berada di seputaran Titik Nol, tanpa disadari oleh banyak warga pengguna ruas Jalan Pangurakan (dh Jalan Trikora), deretan kios-kios pedagang kaki lima (PKL) yang telah berdiri secara permanen puluhan tahun tepatnya di sebelah barat Kantor Pos Besar Yogyakarta, kini telah berubah bentuk menjadi kios portable.
Paska pembongkaran dan proses pembangunan pendistrian di lokasi kios selama tiga bulan, kini muncul deretan kios baru bercorak rumah Adat Jawa Limasan berjajar seragam, terlihat mungil dan lebih rapi daripada sebelumnya, walau warna masih asli seng aluunium belum ada polesan cat sama sekali.
Salah satu pemilik kios yang mengaku bernama Dwi, kepada Bernas.id, Rabu (29/08/2018), menjelaskan, bahwa deretan kios-kios yang berjumlah 17 buah merupakan pinjaman dari pengurus Koperasi PKL Alun-alun Utara Yogyakarta. Keberadaan kios baru sekitar tiga minggu dan belum semuanya buka atau terisi, dikarenakan masih ada pedagang pemilik kios yang buka apabila proyek pembangunan telah rampung.
?Kios-kios ini adalah pinjaman atas inisiatif dari kecamatan (red. Gondomanan). Jadi kios ini masih bersifat sementara, dikarenakan kami masih menunggu keputusan dari sponsor dari sebuah bank pemerintah yang akan membantu pengadaan kios. Desain dan bentuk kios ukurannya lebih kecil menyesuaikan lahan yang diizinkan untuk 17 orang pemilik, berhiaskan gambar wayang dan branding bank tersebut,? jelas Dwi.
Dwi yang juga sebagai wakil ketua paguyuban pemilik kios ini, menceritakan, kepemilikan kiosnya merupakan turun waris dari kakeknya yang telah berdagang sejak tiga puluh tahun silam bersama 16 pedagang lainnya. Awalnya kios berada di depan gedung Kantor Pos Besar, kemudian dipindah dan dibuatkan kios permanen oleh pemerintah di sisi barat gedung dan dibatasi tetap hanya berjumlah 17 kios.
?Seperti teman-teman pedagang lainnya, kepemilikan kios ini adalah turun temurun dan saya sendiri merupakan generasi ketiga pemilik kios menggantikan ibu yang telah meninggal dunia enam tahu lalu. Kami sangat bersyukur dan berterima kasih masih diizinkan untuk mencari rezeki di sini, terlebih sebagian besar pemilik kios bersetatus janda, sehingga kios sangat membantu sekali untuk menopang hidup keluarga,?ujarnya.
Pria yang bertempat tinggal di Kampung Bintara ini, menambahkan, bahwa 17 pemilik kios di sini telah berkomitmen akan selalu taat terhadap peraturan, menjaga kebersihan, ketertiban, dan kenyamanan pengguna jalan. Setiap Selasa Wage ikut libur, diisi kerja bakti membersihkan tempat berjualan sebagaimana yang dilakukan oleh PKL Malioboro.
Dwi sangat berharap agar penggadaan kios baru segera terealisasi oleh bank sponsor. Sehingga nantinya dapat menjadi contoh bagi PKL lainnya. Kedepan, kios-kios yang awalnya hanya berjualan benda-benda pos, semacam amplop, perangko, kartu pos, materai dan majalah, serta koran ini akan ditambahkan atau digantikan dengan barang dagangan yang dibutuhkan oleh wisatawan, seperti oleh-oleh dan souvenir khas Jogja. (ted)
