BANTUL, BERNAS.ID —Selama ini orang hanya mengenal produk gerabah/keramik dari Kasongan, Kasihan, Bantul. Hal ini bisa dimaklumi mengingat jumlah perajin gerabah di Kasongan yang sangat banyak dengan aneka produk gerabah yang berkualitas ekspor. Bahkan, Kasongan menjadi sentra kerajinan gerabah/keramik di Kabupaten Bantul yang sudah dikenal luas.
Namun, produksi gerabah/keramik di Bantul sebenarnya tak hanya ada Kasongan, Kasihan, tapi juga ada di Kecamatan Pundong, khususunya di Dusun Klisat, Desa Srihardono. Meski jumlah perajin relatif sedikit, namun kualitas produk keramik/gerabah di Pundong tak kalah dengan produk gerabah Kasongan. “Mungkin karena jumlah perajin di sini sedikit sehingga kurang dikenal. Padahal produk gerabah/keramik di sini juga bagus-bagus. Kualitasnya tidak kalah dengan produk gerabah/keramik di Kasongan,” kata Maryono, Pimpinan Mustika Indah Ceramic saat ditemui Bernas.id di kediaman sekaligus tempat produksi/showroom kemariknya di RT 04 Dusun Klisat, Desa Srihardono, Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul, Kamis (7/2/2019).
Maryono bersama istrinya, Siti Nurjanah, memproduksi aneka jenis keramik berkualitas ekspor. Gerabah dari tanah liat ini dibuat dalam berbagai jenis produk, seperti vas bunga, patung primitif, guci, alat-alat masak/dapur dan sebagainya. Usaha yang dirintis sejak 19 tahun lalu itu kini berkembang pesat. Produk keramik yang dikerjakan secara manual ini dijual ke trading yang menampung aneka jenis produk gerabah/keramik buatan Maryono dan Siti Nurjanah.
Siti Nurjanah yang alumni SMK 5 Yogyakarta jurusan keramik ini dengan terampil mengolah tanah liat yang sudah dihaluskan menggunakan molen menjadi produk kerajinan untuk suvenir. Tanah yang sudah dihaluskan digenggam menggunakan kedua tangan lalu dibulatkan dan kemudian diletakan di meja putar yang terbuat dari kayu. Dalam keadaan meja diputar, sesekali Siti Nurjanah mengolesi produk tersebut dengan air lalu dibentuk sesuai produk yang diinginkan. Tak sampai satu menit, gumpalan tanah liat tadi sudah terbentuk menjadi sebuah produk yang indah dan menarik.
“Dalam sehari bisa menghasilkan 200 produk kerajinan untuk suvernir berupa lonceng. Karena sudah terbiasa, maka untuk membuatnya sangat cepat dan mudah,” kata Siti Nurjanah yang mengaku tempat usahanya sering menjadi sasaran studi banding dan tempat praktik bagi siswa/siswi sekolah jurusan keramik.
Ia menjual produk kerajinan untuk oleh-oleh berupa lonceng seukuran gelas dengan harga Rp 1.500 untuk produk yang masih kasar, sedangkan produk yang sudah jadi/finishing dijual dengan harga Rp 5.000 per biji. Mereka tidak kesulitan menjual produk tersebut karena sudah ada trading/pengepul yang menampung atau membeli.
Menurut Maryono, bahan baku gerabah berupa tanah liat berasal dari Kulonprogo. Ia membeli tanah liat yang sudah dihaluskan/ dicampur pasir menggunakan molen. “Saya membeli tanah liat yang sudah dihaluskan menggunakan. Untuk 60 molen seharga Rp 250 ribu,” kata Maryono. (lip)
