LONDON, BERNAS.ID ? Sebuah obat yang digunakan untuk mengobati pembesaran prostat ternyata juga dapat mengobati penyakit parkinson. Pasalnya, kandungan terazosin dalam obat tersebut selain berkhasiat menghambat peningkatan jumlah sel pada prostat jinak dengan cara mengendurkan otot-otot kandung kemih, juga berkhasiat menghambat kerusakan sel-sel otak pada penderita Parkinson. Parkinson sendiri merupakan gangguan atau kelainan yang terjadi pada sistem syaraf yang menyebabkan seseorang mengalami kekakuan gerak tubuh. Selama ini, belum ada obat yang mampu menyembuhkan parkinson.
Sebagaimana dilansir dari BBC, sebuah tim ilmuwan yang berasal dari Universitas Iowa dan Institut Gangguan Otak Beijing memublikasikan temuannya dalam Journal of Clinical Investigation mempelajari ribuan pasien dengan penyakit prostat dan parkinson. Temuan mereka, meyakini bahwa terazosin dapat membantu mengaktifkan enzim yang disebut PGK1 untuk mencegah kematian sel otak pada penderita parkinson.
Obat tersebut awalnya diuji coba pada tikus. Hasilnya, obat tersebut mampu memperlambat hingga menghentikan hilangnya sel-sel saraf. Untuk menilai apakah obat tersebut memiliki efek yang sama pada manusia, tim peneliti kemudian mengidetifikasi catatan medis dari pasien-pasien di Amerika Serikat. Mereka mempelajari catatan medis sekitar 2.880 pasien Parkinson yang menggunakan terazosin atau obat serupa, dengan kelompok pembanding 15.409 pasien yang menggunakan pengobatan berbeda. Pasien dengan obat yang mengandung terazosin tampak lebih baik dalam hal melawan gejala parkinson.
Butuh Uji Klinis
Walau menunjukkan hasil yang baik, tim peneliti tetap menyarankan sebuah uji klinis yang lebih detail. Pasalnya, menurut pemimpin penelitian Dr. Michael Welsh, masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa obat tersebut mampu menyembuhkan parkinson. ?Saat ini, kami belum memiliki metode perawatan yang signifikan untuk menyembuhkan penyakit neurodegeneratif,? ujarnya sebagaimana dikutip BBC Health. “Keadaan itu sebenarnya menyedihkan, karena seiring bertambahnya usia, penyakit Parkinson akan menjadi semakin umum,? lanjutnya.
Uji klinis hingga obat tersebut bisa digunakan sebagai obat gejala parkinson, menurut Welsh, akan memakan waktu selama beberapa tahun. Dalam uji klinis itu, khasiat obat akan dibandingkan dengan obat lain yang mengandung plasebo, untuk memastikannya aman dan efektif bagi penderita parkinson.
Peneliti lain, Dr. Nandakumar Narayanan, yang merawat pasien dengan penyakit Parkinson mengatakan bahwa uji klinis mutlak dilakukan. “Kami membutuhkan uji coba terkontrol secara acak untuk membuktikan bahwa obat ini benar-benar mampu menghambat penyakit,? ujarnya. ?Jika obat itu benar-benar mampu menghambat penyakit, maka akan jadi terobosan yang baik,? lanjutnya. (aji)
