JAKARTA, BERNAS.ID – Peraihan suara Partai Hanura pada Pemilu 2019 lalu sangat tidak menggembirakan. Muncul selentingan, sang ketua umum, Oesman Sapta Odang (OSO) akan mengundurkan diri dan kembali ke partai lamanya, Partai Golkar.
Sekadar informasi, keluar dari Golkar, OSO sempat mendirikan Partai Persatuan Daerah (PPD). Dalam beberapa kali mengikuti Pemilu partai ini selalu gagal menembus electoral threshold. Pada 2016 OSO bergabung dengan Hanura, dan terpilih sebagai ketua umum menggantikan Jenderal TNI (Purn) Wiranto.
Kondisi Hanura terkini mendapat perhatian dari Wakil Ketua Koordinator Bidang Pratama Golkar Bambang Soesatyo (Bamsoet). Ada ucapan menarik yang dilontarkan Ketua MPR RI ini terkait karir politik OSO. Bamsoet menyeut OSO bakal kembali ke Golkar.
Hal itu diucapkan Bamsoet saat memberi sambutan dalam acara Musyawarah Besar Pemuda Pancasila (PP) ke-10 di Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu (26/10/2019). OSO juga hadir di acara itu.
Awalnya Bamsoet menyapa sejumlah tokoh yang hadir, dari Presiden Jokowi, Ketua DPD RI La Nyalla Mattalitti, hingga Ketua Umum PP Japto Soerjosoemarno. Dia kemudian menyapa tokoh-tokoh yang dinilainya sebagai senior atau pernah bergabung di Golkar.
?Senior saya, guru sekaligus mentor politik saya, Bang Surya Paloh, Ketua Umum Partai Nasdem. Tapi saya lebih senang menyebutnya senior Partai Golkar,? ucap Bamsoet.
Berikutnya, Bamsoet menyapa OSO. Dia mengatakan OSO bakal kembali ke Golkar.
?Ada Ketua Umum Hanura, senior kita juga dan saya senang menyebutnya senior Partai Golkar, Bapak OSO, Oesman Sapta Odang yang sebentar lagi beliau akan kembali ke Golkar,? lanjut Bamsoet disambut tepuk tangan dan tawa dari peserta Mubes PP.
Dalam pidatonya, Bamsoet yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum PP menegaskan bahwa PP bukan organisasi preman yang mengandalkan kekuatan fisik. Menurutnya, banyak kader PP saat ini sudah masuk ke lembaga pemerintahan, dari Ketua MPR, Ketua DPD, hingga ada yang menjabat sebagai kepala daerah.
?Kami menyadari kekuatan otot tidak lagi relevan. Mengelola bangsa ini tidak cukup ilmu pengetahuan, tapi juga ilmu pengertian. Kami akan menjelma jadi preman, buas kembali manakala ada yang mengganggu kedaulatan NKRI dan Pancasila, atau jika ada yang mengganggu Bapak Presiden sebagai kepala negara, pasti kami akan hadapi sampai titik darah penghabisan,? ujarnya.
Dia memastikan, PP tidak akan membiarkan pihak-pihak yang ingin menjatuhkan pemerintah di tengah jalan karena akan dampaknnya akan membuat rakyat Indonesia susah.
?Bagi PP, tidak boleh ada upaya menjatuhkan pemerintahan di tengah jalan karena akan mengakibatkan rakyat bertambah susah,? pungkasnya. (sbh)
