Bernas.id – Indonesia adalah bumi dengan keanekaragaman sumber daya alam yang melimpah ruah. Berbagai macam tanaman dan hewan tumbuh subur di bumi jamrud hijau ini. Dari Sabang sampai Meraoke berjuta ragam pangan dijumpai dan menjadi ciri khas masing-masing daerah.
Mulai dari beras, ubi, jagung, ketela, sagu, dan berbagai jenis umbi-umbian merupakan bahan makanan pokok sumber karbohidrat. Demikian pula sumber protein serta kebutuhan gizi tubuh lainnya semua ada dan lengkap meski pun antar daerah berbeda-beda komposisinya. Justru keberagaman inilah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisata kuliner nusantara.
Seiring pergeseran waktu serta kebijakan industri pangan global keberagaman ini mulai terkikis. Beras menjadi sumber pangan pokok sehingga konsumsi beras di Indonesia kini menjadi tertinggi di dunia. Begitu pula makanan sumber protein maupun jenis kudapan, hampir semua daerah kini seragam. Tak beda jauh. Yang lebih parah yaitu konsumsi terigu masyarakat Indonesia kian meningkat padahal bahan baku terigu yaitu gandum tidak tumbuh di sini. Berbagai jenis tepung yang dulu banyak ditemukan di daerah-daerah tergantikan dengan terigu. Indonesia 'menginternasional' sehingga Mega Food Diversity mulai menghilang.
Hal ini tidak terjadi di Indonesia saja, hampir seluruh negara mengalami keseragaman pangan ini.
Lockdown akibat pandemi Covid-19 membuka mata tentang betapa kita ternyata ketergantungan pangan terhadap dunia. Hal ini menyadarkan bahwa kini saatnya bisa kembali dalam kemandirian pangan. Tidak bergantung dari 'wilayah' luar. Kemandirian setiap wilayah untuk menjadi sumber-sumber dan mensuplai bahan makanan utama sesuai apa yang bisa tumbuh di wilayah sendiri. Mengembalikan keragaman dan kebudayaan masing-masing.
Tetapi hal ini tidak semudah membalik telapak tangan.
“30an juta petani dan produsen pangan kita (nelayan, pekebun, peternak, dll) adalah produsen mikro yang mayoritas hidup dan berproduksi di desa dengan pendapatan dan kesejahteraan yang sangat minim jauh dari berkeadilan,” tulis Dewi Hutabarat saat menjadi narasumber di webinar Konggres Kebudayaan Desa Seri 2.
Lalu bagaimana solusi visi globalnya? Kembali menurut Dewi, bahwa semua komunitas di berbagai tingkatan harus didukung membangun kemandirian pangan mereka. Mulai dari desa, kota, propinsi, hingga negara. Bahkan tingkat kawasan. Didukung oleh pemerintah lokal, negara, dan juga kumpulan pemerintahan berdaulat di suatu wilayah.
Perdagangan bahan pangan (food trade) terutama bahan yang paling banyak dikonsumsi suatu wilayah di semua tingkatan harus berbasis pada “kelebihan produksi” artinya sumber pangan tersebut harus memenuhi kebutuhan lokal wilayah sendiri terlebih dahulu, jika ada kelebihan barulah bisa 'merembes' ke wilayah lain.
