Bernas.id – Apakah kau percaya pada mitos nasib malang manusia Julung Batang?
Ada kisah tutur yang berkembang di masyarakat Kedung Pingit?sebuah desa di kaki Gunung Pandan?tentang kelahiran manusia pada waktu-waktu malang. Dikatakan malang sebab siapa saja yang terlahir dari rahim ibunya bersamaan dengan matahari tenggelam, maka ia disebut Julung Batang. Konon tubuh manusia jenis ini menebar aroma amis bagi bangsa brekasakan?makhluk tak jelas wujud dan asal-usulnya, sehingga menjadi incaran untuk dimangsa.
Ada pula yang bercerita bahwa manusia jenis Julung Batang diincar oleh Batara Kala, sosok Dewata penguasa waktu dalam mitologi Jawa. Bahwa kelahiran manusia Julung Batang sesungguhnya masih terpasung oleh pintu pemisah antara kemujuran dan kesialan nasib yang dijaga sang Kala. Untuk membebaskannya, manusia Julung Batang harus diruwat. Tidak tanggung-tanggung, untuk meruwat harus mengadakan pergelaran wayang kulit dengan persyaratan khusus. Tentu dengan biaya mahal pula.
Sementara, cerita mengenai benar tidaknya Julung Batang ini, bermula pada suatu petang, ketika matahari hendak tenggelam di langit barat, dan langit sedang dipenuhi semburat warna jingga. Tepatnya di sebuah bilik bambu, rumah Kartiyem dan Dirgo yang berdiri di dekat bantaran Kali Widas di pinggiran desa. Cerita yang dimulai dari suara nyaring melengking-lengking seperti aba-aba yang diucapkan Mbah Semi, dukun bayi di Desa Kedung Pingit.
?Tahan lagi, Yem. Tahan. Lewati candikala?senja kala, agar bayimu tidak terlahir sebagai manusia Julung Batang.?
Mulut Kartiyem mendesis-desis seperti orang kesurupan. Napasnya tersengal-sengal. Tangannya berpegangan pada ujung tikar pandan yang menjadi alas tempat tidur. Sesekali, tangan-tangan itu mencengkeram dengan kuat. Keningnya mengucurkan butir-butir keringat yang jatuh ke tikar dan bilah-bilah bambu yang menjadi penyangga tubuh meronta-ronta itu. Kartiyem merasakan sakit teramat sangat, menusuk setiap jengkal urat nadi, merayap ke segala aliran darah di tubuhnya. Rasa sakit itu kemudian berpusat pada perutnya yang sudah menggelembung.
?Sudah kubilang, janganlah kau hamil lagi, Yem,? ucap Mbok Sinah, mertuanya, ketika mengetahui Kartiyem muntah-muntah pada suatu pagi. Ucapan itu bukan saja keluar dari mulut Mbok Sinah, tetapi juga dari Mbah Soma, Pakde dari Dirgo, suami Kartiyem.
?Entah apa sebabnya, semua keturunan Mbah Sastro, buyutku, selalu lahir bersamaan dengan datangnya candikala, ketika matahari tenggelam. Mungkin karena Mbah Sastro adalah seorang dalang wayang kulit ruwatan yang kerap menyelamatkan bocah-bocah Julung Batang dari buruan Batara Kala, anak cucunya yang menjadi pelampiasan Dewata penguasa waktu itu,? tutur Mbah Soma kepada Kartiyem dan Dirgo setahun silam.
?Dua anakmu yang Julung Batang lampus sebab kau tak mau meruwatnya. Gudik dan Kurep juga sudah sakit-sakitan. Sekarang malah kau tambah lagi satu bocah,? gerutu Mbok Sinah.
?Bukan tak mau, tetapi Kang Dirgo memang belum punya uang untuk meruwat, Mbok,? sanggah Kartiyem.
Sebenarnya ucapan Mboh Sinah bukan tanpa alasan. Pernah suatu waktu datang pagebluk yang menurut Pak Mantri dari kecamatan bernama wabah Malaria. Sebagai permukiman yang digelung lebatnya rimba Gunung Pandan, Desa Kedung Pingit memang mudah dilanda musibah semacam itu. Dua anak Kartiyem tak luput dari amukan pagebluk. Nahas, keduanya lampus sebelum datang rombongan besar dari puskesmas kecamatan. Menurut desas-desus, bocah-bocah malang itu tidak selamat sebab Julung Batang. Sementara pagebluk yang terjadi adalah tebaran dari Batara Kala.
Berbeda dengan Simbok dan Pakdenya, Dirgo justru menolak anggapan bahwa dua bujangnya meninggal sebab belum diruwat. Dirgo kerap menyanggah bahwa garis nasib seseorang berada di tangan Penciptanya. Bukan Dewata jahat macam Batara Kala. Itu sebabnya, hingga Gudik dan Korep menginjak usia tujuh dan enam tahun, ia tidak menggebu-gebu mencarikan uang untuk mengadakan pergelaran wayang kulit sebagai syarat meruwat keduanya.
Lagi-lagi sanggahan Dirgo juga tanpa alasan. Sebagai canggah?keturunan keempat?dari Mbah Sastro, ia juga terlahir dengan status Julung Batang. Manusia incaran Batara Kala. Orang tuanya tak pernah meruwat Dirgo. Bahkan sampai sekarang beranak-pinak dengan Kartiyem, ia tak mengalami kesialan nasib, atau bahkan mati mengenaskan. Meskipun hidupnya serba kekurangan, Dirgo dilimpahi tubuh yang jauh dari penyakit.
Kerap sekali jika petang telah datang dan ia pulang dari sawah, Dirgo melakukan sebuah kenekadan. Ia sengaja berhenti di atas gumuk?bukit?yang ada di selatan Kedung Pingit. Dari puncak gumuk itu, ia menunggu sejengkal demi sejengkal pergerakan matahari yang sedang rebah di balik punggung Gunung Pandan. Ketika semburat wana jingga memenuhi langit, Dirgo tak menemukan mata Batara Kala di sana. Padahal menurut cerita orang-orang tua Kedung Pingit, ketika candikala datang, bersamaan dengan pergantian waktu dari siang menuju malam, Batara Kala akan menampakkan diri di bentangan langit.
Kejadian itulah yang menguatkan keyakinan Dirgo bahwa kesialan nasib manusia Julung Batang dan Batara Kala di Kedung Pingit hanya kisah tutur semata. Sebagai cara orang-orang zaman dahulu memberi nasihat agar candikala dan ruwatan dijadikan sebagai pengingat: kodrat manusia adalah tempat kesalahan, kesialan. Ruwatan sebagai tradisi pembuangan salah dan sial itu adalah simbol agar orang-orang senantiasa memperbaiki perilaku diri masing-masing.
Namun keyakinan itu justru berbalik seratus delapan puluh derajat, manakala suatu petang yang lain, persis di saat candikala datang, Mbah Soma datang tergopoh-gopoh menghampiri Dirgo di puncak gumuk.
?Lekas pulang, Dirgo. Lekas!?
?Ada apa, Pakde??
?Dua bocahmu sudah bertemu Hyangning Lawang.?
Dua bocah yang disebut Mbah Soma adalah kedua bujangnya yang tiga hari ini ikut terserang pagebluk.
Dirgo gemetar. Puncak gumuk yang dipijaknya terasa amblas. Pandangan matanya mendadak dipenuhi ratusan kunang-kunang. Kesadarannya kian menipis ketika ia merasakan Mbah Soma merangkulnya. Tepat sebelum tubuhnya benar-benar ambruk, ia masih sempat melihat ke arah puncak Gunung Pandan. Langit di atasnya berwarna jingga. Semburat warna itu seolah-olah membentuk wujud sedemikian rupa yang menyerupai sepasang mata berukuran raksasa. Dengan bibir bergetar pula, Dirgo menyebut sebuah nama, ?Batara Kala??
***
Kartiyem gelisah, ketika selepas zuhur ia merasakan perutnya mulas. Tidak seperti sakit perut biasa, berkali-kali ia mondar-mandir ke jamban di belakang rumah, tetapi tak bisa menuntaskan hajatnya. Sesuatu yang ada di perutnya selama berbulan-bulan, menyadarkan Kartiyem bahwa sakit yang dialaminya adalah penanda bahwa sudah tiba waktunya ia bersalin.
Entah ini kebetulan atau bukan, rasa sakit yang dialami Kartiyem datang persis pada waktu ia hendak melahirkan empat anak sebelumnya. Rasa mulas itu berawal ketika matahari tepat berada di atas ubun-ubun, lalu berakhir ketika tenggelam di kaki cakrawala. Kali ini Kartiyem memiliki tekad: bayi kelimanya harus lahir setelah candikala berakhir.
Matahari semakin condong ke barat, setengah jengkal lagi akan tersungkur di kaki langit. Perjuangan Kartiyem dalam bilik belum usai. Sesekali terdengar suara Mbah Semi memberi semangat kepada Kartiyem dengan menghitung bilangan satu sampai tiga. Hikayat tentang julung batang membuat Kartiyem merasa perjuangannya kian berat. Di ruang tengah rumah berdinding bambu itu, Dirgo dikepung kecemasan luar biasa. Sementara dua bujangnya, Gudik dan Kurep yang sakit-sakitan, meringkuk lelap di atas tikar pandan, tak jauh dari tempatnya mondar-mandir. Mulutnya tak henti mengucap doa: Jangan Julung Batang ? jangan ? jangan! (*Heru Sang Amurwabumi)
Catatan kaki:
Julung Batang = Manusia yang lahir ketika matahari terbenam. Termasuk jenis sukerta?manusia yang menurut mitologi Jawa akan bernasib sial, disimbolkan menjadi mangsa Batara Kala.
Hyangning Lawang = Nama lain Batara Kala.
