Bernas.id – Terinspirasi kesenian wayang Timplong khas Nganjuk, sanggar seni Candraning Ayu Bayu Smata (CABS) SMA Negeri 3 Nganjuk juarai Olimpiade Pariwisata 2020 yang diumumkan kemarin (19/11) secara daring melalui akun instagram Olimpiade Pariwisata UGM.
Sanggar Seni CABS adalah sanggar seni yang bernaung di lembaga SMA Negeri 3 Nganjuk di bawah bimbingan Kokok Wijanarko, S.Sn. dan Ika Supadmi, S.Sn. Sebelum masa pandemi Covid-19, sanggar seni ini melakukan latihan rutin setiap pekannya pada waktu jam ekstrakurikuler serta di sela-sela aktivitas sekolah jika mendekati event. Namun sejak diberlakukan sekolah daring, jadwal latihan pun dilaksanakan secara virtual. Hanya pada waktu-waktu mendekati perlombaan saja mereka berlatih secara langsung dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.
Seperti jelang mengikuti Olimpiade Pariwisata #9 yang digelar oleh UGM ini. Meski perlombaan dilaksanakan secara virtual tetapi sanggar seni CABS tidak mau main-main dalam mempersiapkannya. Dimulai dari pendaftaran yang dibuka mulai 14 September – 14 Oktober kemudian pelaksanaan pada tanggal 16 – 18 November dan diakhiri dengan pengumuman hasil olimpiade pada tanggal 19 November kemarin. Terhitung sanggar seni ini membutuhkan waktu hampir tiga bulan untuk menampilkan pagelaran tari yang berjudul Timplong ini.
“Bahkan sebelum pengumuman olimpiade di-publish, kami sudah mempersiapkannya. Hal ini berdasarkan pengalaman tahun sebelumnya. Jadi kami sudah punya gambaran kapan dan bagaimana olimpiade ini akan digelar,” jelas Kokok. Perlu diketahui bahwa tahun 2019 sanggar seni ini juga menyabet juara 1 kategori karawitan dan juara 3 kategori kreasi tari.
Pada tahun ini, sanggar seni CABS menampilkan tari Timplong yang terinspirasi dari kesenian wayang khas Nganjuk. Wayang ini konon mulai ada sejak tahun 1910 dari Dusun Kedung Bajul Desa Jetis, Kecamatan Pace, provinsi Jawa Timur. Wayang ini terbuat dari kayu, baik kayu waru, mentaos, maupun pinus. Instrumen gamelan yang digunakan sebagai musik pengiring, juga sangat sederhana. Hanya terdiri dari Gambang yang terbuat dari kayu atau bambu, ketuk kenong, kempul dan kendang. Berawal dari sinilah Ratriana Sari, S.Pd. meracik gerakan sehingga tersaji tari Timplong yang telah berhasil menarik hati para juri Olimpiade Pariwisata #9 kategori Tari Kreasi tingkat nasional untuk menduduki juara 1 mengalahkan tim dari SMAN 1 Semarang dan tim SMK Telkom 2 Medan sebagai juara 2 dan 3.
Sebuah pencapaian yang luar biasa mengingat banyak kendala di awal-awal perlombaan. Selain durasi latihan yang terbatas mengingat adanya Covid-19, perlengkapan tari baik kostum maupun piranti yang digunakan pun sangat terbatas. Jika sesuai versi asli dari sang penata tari (Ratri, red), tari Timplong ini menggunakan piranti gunungan berbahan bulu burung merak, tapi karena situasi dan kondisi, Kokok yang juga seorang pengrajin perlengkapan tari harus memutar otak dan akhirnya memodifikasi gunungan bulu merak menjadi berbahan spon ati. Meski terbuat dari bahan sederhana tapi tetap elok dan tidak mengurangi makna tari Timplong ini. Kendala lainnya adalah pada saat pengambilan video.
“Kami harus berburu waktu dengan angin saat pengambilan video karena dilakukan di gazebo sekolah yang terbuka. Meski telah ditutup geber tapi karena Nganjuk memang sedang musim angin jadi ya sempat ketar–ketir juga. Takut waktu shooting angin kencang datang tapi syukurlah semuanya bisa berjalan lancar hingga selesai,” tambah Kokok.
Selain mendapat penghargaan, tim penari yang dilakonkan oleh:
- Hana Maria Ulfa Wandan Sari (XII IPS 1)
- Yuvi Della Yunita (XII IPS 2)
- Aulya Septy Rahmasari (XII MIPA 1)
- Firda Aulia Salsabillah (XI MIPA 3)
- Amalia Dwi Safitri (XI IPS 4)
- Anggi Puji Lestari (XI MIPA 5)
- Fany Natalia Hariyono (X MIPA 6)
juga memiliki kesempatan diterima di UGM pada jurusan-jurusan tertentu dengan prestasi yang telah diraih. Beasiswa jalur seni. (tan)
