Bernas.id – Perkembangan zaman yang cepat membuat seluruh kegiatan manusia juga harus cepat beradaptasi dengan perubahan. Teknologi dan pandemi adalah dua hal yang saat ini berpengaruh besar terhadap kegiatan ekonomi, termasuk di antaranya sektor pariwisata. Keduanya membawa transformasi yang fundamental, sehingga membutuhkan sebuah peralihan paradigma.
Hal ini dibahas menyeluruh pada bincang-bincang ?Talkshow Indonesia: Tourism Outlook 2021 & Beyond? yang diselenggarakan oleh BSI (Bina Sarana Informatika), World Tourism Day Indonesia, dan didukung oleh organisasi profesi bidang pariwisata. Dalam webinar tersebut, hadir tokoh-tokoh penting di bidang pariwisata, seperti Sapta Nirwandar (Chairman Indonesia Tourism Forum), Sandiaga Salahuddin Uno (Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif), Prof. Azril Azahari (Ketua Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia).
Sandi memberikan sebuah peringatan yang berkaitan dengan urgensi dari rencana memulihkan industri pariwisata.Peringatan dari Sandi menyebutkan bahwa penurunan jumlah wisatawan yang hampir mencapai 70%, akan berdampak sangat besar pada lebih dari 50% penduduk Indonesia yang menggantungkan hidupnya dengan berkarya di dunia kreatif dan pariwisata.
Dari Volume ke Value
Begitu juga Prof. Azril Azahari yang memberikan sebuah pencerahan tentang perlunya sebuah pergeseran paradigma agar pelaku pariwisata bisa sukses bertahan di masa pandemi ini. Azril menjelaskan bahwa untuk menuju masa depan pariwisata yang lebih baik, harus ada perubahan paradigma yang tegas. Paradigma volume tourism, atau pariwisata berbasis volume yang mendasari suksesnya pariwisata sebelum tahun 1980 sudah tidak relevan lagi di masa sekarang.
Teknologi dan pandemi sangat berpengaruh dengan bagaimana paradigma volume tourism, sudah beralih ke pariwisata berbasis nilai (volume vs value). Yang mana, pariwisata sekarang diharap bisa memenuhi permintaan paket perjalanan yang unik, dirancang kustom, yang memenuhi pelanggan yang memiliki permintaan minat khusus. Sudah tidak bisa lagi membuat satu paket pariwisata yang bisa untuk semua orang.
Di akhir sesi, Sandiaga memberikan penguatan kepada para pelaku bisnis pariwisata di Indonesia, agar mau jemput rejeki, Gercep (Gerak Cepat), Geber (Gerak Bersama), dan Gaspuol (Garap Semua Potensi Usaha dan Lapangan kerja) untuk membangkitkan ekonomi kreatif dan pariwisata Indonesia. (TAF)
