Bernas.id ? Kelompok lanjut usia atau Lansia menyumbang angka kematian kasus Covid-19 cukup tinggi. Berdasarkan data terakhir KPCPEN (Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional angka kematian lansia mencapai 47.3%. Sebab itulah vaksinasi kepada kelompok tersebut sangatlah diperlukan. Namun, penggunaan vaksin Sinovac sebelumnya hanya diperuntukkan untuk kelompok dewasa yaitu pada rentan usia 18-59 tahun.
Menggunakan hasil uji klinik Brazil dan China terhadap vaksinasi pada kelompok lanjut usia, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI akhirnya mengizinkan penggunaan vaksin Sinovac pada kelompok lanjut usia di Indonesia. Pengesahan ini disampaikan Kepala BPOM, Penny Lukito pada konferensi pers secara daring pada Minggu (7/2/2021)
Dari hasil uji klinik sinovac fase 1 dan 2 di China dengan subjek 400 lansia dan fase 3 di Brazil dengan subjek lansia sebanyak 600 orang menunjukkan hasil imunogenisitas yang baik. Pasca vaksinasi selama 28 hari kadar antibodi subjek meningkat hingga berada di angka 97,98%.
Kedua uji klinik di atas menyebutkan tidak ada efek samping yang serius. ?Dari hasil uji klinik yang dilakukan juga efek samping umumnya ringan, yaitu nteri, mual, demam bengkak kemerahan pada kulit dan sakit kelapa sekitar 1,9%,? ungkap Penny.
Bagaimana prosedur vaksinasi lansia di Indonesia?
Vaksinani lansia dimulai sejak Senin (8/2/2021) pada tenaga kesehatan dan orang yang berisiko tinggi. Kabarnya vaksinasi sinovac juga akan dilakukan sebanyak 2 kali. Bedanya jika kelompok usia 18-59 tahun jadwal imunisasinya adalah 2 dosis dengan selang waktu 2 minggu dengan dosis 0,5 mL persuntikan, sedangkan pada kelompok lanjut usia 2 dosis dengan selang waktu 4 minggu dengan dosis 0.5 mL persuntikan.
Pemberian vaksin pada kelompok lanjut usia memang perlu pertimbangan. Karena di usia tersebut sangatlah rentan dan berpotensi memiliki penyakit penyerta lainnya atau comorbid.
Dikatakan oleh Penny proses screening sebelum vaksinasi pada lansia juga diperlukan. ?Harus dilaksanakan sebaik-baiknya sebagai langkah antisipasi mitigasi risiko apabila terjadi KIPI (Kejadian Ikutan Pasca ? Imunisasi). Risiko-risiko tersebut perlu kita antisipasi apa yang akan terjadi,? kata Penny.
Berikut beberapa kategori lansia yang harus melaporkan ke petugas kesehatan dan melakukan screening sebelum disuntik vaksin menurut keterangan BPOM.
- Lansia di atas usia 70 tahun. Tidak ada larangan bagi lansia di atas 70 tahun. Namun, perlu pertimbangan khusus dan penuh kehatian-hatian untuk pemberian vaksin pada usia tersebut.
- Lansia yang mengalami kesulitan menaiki 10 tangga
- Lansia yang mengalami penurunan aktivitas fisik (sering merasa kelelahan)
- Lansia yang memiliki 4 dari 11 penyakit diantanya hipertensi, diabetes, kanker( selain kanker kulit kecil), penyakit paru kronis, serangan jantung, gagal jantung kongestif, nyeri dada, asma, nyeri sendi, stroke, dan penyakit ginjal.
- Lansia yang mengalami kesulitan berjalan 100 sampai 200 meter
- Lansia yang mengalami penurunan berat badan yang signifikan selama satu tahun.
Jika tidak termasuk kategori di atas, bisa dilakukan vaksinasi sinovac tanpa screening atau penanganan khusus.
Jika vaksinasi pada lansia telah diizinkan, bagaimana dengan anak-anak?
Terkait pemberian vaksin pada anak di bawah usia 18 tahun, BPOM belum mengeluarkan surat izin vaksinasinya. Menurut keterangan BPOM, penerbitan surat izin vaksin sinovac pada anak-anak membutuhkan waktu hingga satu tahun. (muu)
