Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki beragam suku dan budaya. Setiap suku memiliki keunikan budayanya masing-masing. Salah satunya pada rumah adatnya. Ada banyak jenis rumah adat yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
Setiap rumah adat di Indonesia memiliki perbedaan dari segi bentuk, bahan baku, fungsi, hingga filosofinya. Perbedaan tersebut disebabkan oleh latar belakang kepercayaan, sumber daya alam, dan letak geografis. Seperti halnya rumah adat betang.
Rumah adat Betang berasal dari Provinsi Kalimantan Tengah. Rumah adat ini merupakan tempat tinggal masyarakat suku Dayak. Di beberapa daerah di Kalteng, rumah bentang masih banyak ditemukan.
Rumah adat Betang banyak ditemukan di hulu sungai di Kalimantan. Pasalnya, masyarakat Dayak memang biasa membuat pemukiman di kawasan tersebut. Hal itu nantinya juga akan menjawab pertanyaan; apa hubungan rumah adat bentang dengan kondisi geografis?
Baca Juga: Inilah 10 Sertifikasi di Bidang SDM yang Ada di Universitas Mahakarya Asia
Rumah adat suku Dayak memiliki keunikan dan fungsinya tersendiri. Apa saja? Berikut penjelasannya.
Keunikan Rumah Adat Betang
Suku Dayak merupakan salah satu suku yang hingga kini masih kuat mempertahankan budaya mereka. Mereka mampu tinggal secara harmonis di pedalaman hutan Kalimantan dan tidak mudah terpengaruh budaya luar.
Bahan Baku
Keunikan rumah adat bentang terletak pada bahan bakunya. Pembangunan rumah tersebut menggunakan kayu ulin. Kayu ulin merupakan jenis kayu yang kuat dan awet atau tahan lama. Oleh karena itu, rumah adat bentang dapat menghadapi perubahan iklim, mulai dari musim panas hingga hujan.
Pemilihan bahan baku tersebut juga menyesuaikan dengan kondisi lingkungan rumah tersebut. Berada di pinggiran sungai membuat rumah bentang sering dilalui banjir. Dengan kayu ulin yang tahan lama, rumah masyarakat Dayak dapat selama bertahan-tahun tanpa keropos.
Pembagian Ruang
Ada sistem pembagian ruang dalam rumah adat bentang. Karena bentuknya yang besar dan memanjang, rumah adat tersebut dibagi menjadi beberapa ruangan. Setiap ruangan memiliki fungsi masing-masing.
Ruang sado digunakan sebagai tempat rapat adat atau musyawarah. Selain itu, sado juga digunakan untuk menumbuk padi hingga menganyam kerajinan. Sementara ruang yang bernama sadong berfungsi untuk berkumpul dan menerima tamu.
Ada satu ruangan khusus yang tidak boleh dimasuki oleh sembarang orang, letaknya ada ruang tengah. Tempat tersebut merupakan ruangan milik tetua atau ketua adat. Untuk dapurnya terletak di ruangan belakang, begitu pula dengan ruangan suami-istri dan anak-anak. Ruangan-ruangan tersebut disekat menggunakan kelambu.
Di bagian belakang rumah betang masih ada satu ruangan lagi yang bernama Tukau. Tukau berfungsi untuk menyimpan berbagai peralatan dan perlengkapan sehari-hari. Lalu ruangan bawong digunakan untuk penyimpanan senjata. Ruangan bernama sandung digunakan sebagai semacam kuburan atau tempat menyimpang tulang-belulang keluarga yang sudah meninggal.
Ornamen dan Hiasan
Seperti rumah pada umumnya, rumah adat Betang juga dihiasi dengan ornamen. Hiasan ornamen yang berupa patung menjadi indentitas dan keunikan rumah tersebut. Ornamen yang berada di ruangan paling depan bernama sapundu. Sapundu adalah patum atau totem berbentuk manusia.
Totem tersebut digunakan untuk tiang pengikat binatang saat upacara adat. Di dekat pintu biasanya juga ada hiasan patung yang bernama rancak. Rancak digunakan sebagai persembahan kepada nenek moyang suku Dayak. Karena sakral, untuk meletakkan rancak harus memakai prosesi adat.
Selain patung, di rumah adat betang juga terdapat relief atau ukiran di dinding. Ukiran tersebut menggambarkan falsafah hidup masyarakat Dayak. Berhubungan dengan ukiran, suku Dayak juga terkenal dengan tatto rajah di tubuh.
Bentuk Rumah Adat Betang
Rumah adat betang memiliki ukuran yang panjang dan lebar. Tiang-tiang penyangganya setinggi tiga hingga lima meter. Karena ditinggali secara berkelompok, rumah ini memiliki aula yang luas.
Dinding rumah Betang terbuat dari kayu dan beraksitektur jengki. Atapnya berbentuk pelana yang memanjang. Karena bentuknya yang tinggi, rumah ini memiliki tangga untuk naik ke rumah.
Pemilihan arah hadap rumah ini pun tak sembarangan. Rumah Betang yang berada di hulu sungai akan dibangun menghadap timur. Sedangkan rumah yang di hilir sungai akan dibuat menghadap ke arah barat. Hal tersebut berdasarkan aturan adat Dayak.
Fungsi Rumah Adat Betang
Rumah adat betang memiliki banyak fungsi yang berkaitan dengan kondisi lingkungan. Berikut fungsi-fungsinya.
1. Bertahan dari Banjir
Rumah adat betang dibuat untuk menghindari banjir. Oleh karena itu, rumah ini dibuat berbentuk rumah panggung. Masyarakat Dayak yang tinggal di kawasan sungai sangat berpotensi dilAnda banjir sewaktu-waktu. Dengan rumah panggung mereka akan terapung di atasnya dan dapat bertahan dari rendaman air.
2. Bertahan dari Gempa
Model rumah panggung seperti rumah adat Betang ini dapat bertahan dari bencana gempa. Rumah adat yang dibuat tanpa paku maupun material seperti beton, semen, dan pasir tersebut tidak akan rubuh oleh guncangan gempa. Tiang-tiang penyangganya yang terbuat dari kayu justru akan saling menguat ketika ada terkena guncangan.
Itu tadi informasi mengenai rumah adat betang. Rumah adat Betang tidak dibangun dengan sembarangan. Namun bentuk hingga bahan baku yang dipilih memiliki fungsi-fungsi tertentu. Selanjutnya untuk Anda yang membutuhkan informasi perguruan tinggi impian, UNMAHA, bisa menjadi solusi. Punya pertanyaan seputar PMB atau program studi? Admin UNMAHA siap membantu menjawab semua kebutuhan informasi. Hubungi langsung melalui WhatsApp di nomor resmi UNMAHA, dan dapatkan respons cepat serta informasi akurat. Selain itu, Universitas Mahakarya Asia juga telah membuka kesempatan bagi Anda yang ingin mendapat beasiswa berupa gratis pembayaran SPP kuliah.***5
