YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Nama kelompok Hamas selau dikait-kaitkan dengan konflik Israel-Palestina. Beberapa hari lalu, Organisasi Islam Palestina yang bermarkas di Gaza itu aktif menyuarakan kemerdekaan Palestina.
Kelompok Hamas pula yang beberapa waktu lalu menyetujui gencatan senjata dengan Israel. Sebenarnya, apa itu Hamas?
Merangkum ensiklopedia Britannica, nama Hamas merupakan singkatan dari Ḥarakat al-Muqawamah al-Islamiyyah yang bermakna gerakan perlawanan Islam. Jika ditinjau dalam bahasa Arab, kata Hamas sendiri bermakna semangat.
Kelompok Islam terbesar di Palestina ini memiliki sayap politik dan militer yang sangat aktif menyuarakan kemerdekaan Palestina.
Namun, organisasi ini juga dinyatakan sebagai organisasi teroris karena sayap militernya sering menyerang warga Israel.
Sejarah singkat Hamas
Hamas dibentuk pada tanggal 14 Desember 1987 sebagai “titisan” perjuangan Ikhwanul Muslimin atau Islamic Brotherhood.
Ikhwanul Muslimin adalah prasarana gerakan Islam yang diprakarsai oleh Hasan al Banna.
Penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Center of Middle Eastern Studies pada 2015 menyebutkan, ulama di balik berdirinya Hamas adalah para petinggi dari al-Mujamma' al Islami, salah satunya Syaikh Ahmad Yassin yang kini menjadi tokoh kharismatik Hamas.
Gerakan politik Hamas di Palestina dimulai saat terjadi gerakan protes karena tewasnya beberapa rakyat Palestina dalam tragedi angkutan umum yang ditabrak truk Israel.
Dari peristiwa itu, petinggi al-Mujamma' al Islami berkumpul di rumah Syaikh Ahmad Yassin untuk mencari cara merespons gerakan protes yang semakin melebar itu.
Tepat pada 14 Desember 1987, Syaikh Ahmad Yassin menyerukan kepada seluruh rakyat Palestina agar bersatu melawan militer Israel. Dari sinilah akhirnya Hamas terlahir.
Maksud utama berdirinya Hamas adalah untuk menentang pendekatan sekuler Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) terhadap konflik Israel-Palestina dan menolak upaya untuk menyerahkan bagian mana pun dari Palestina.
Ideologi berdirinya Hamas
Ideologi dibalik terbentuknya Hamas adalah munculnya kekecewaan sebagian besar masyarakat Palestina terhadap Organisasi Pembebasan Palestina atau Palestine Liberation Organization (PLO) pimpinan Yasser Arafat yang dianggap.
PLO dianggap hanya merugikan Palestina dan semakin memperkuat posisi Israel. Karena itu, Hamas berdiri untuk menentang pendekatan sekuler PLO untuk konflik Israel-Palestina dan menolak upaya untuk menyerahkan bagian mana pun dari Palestina.
Hamas mencita-citakan berdirinya sebuah Negara Islam Palestina yang merdeka berdaulat, memperjuangkan kebebasan dan kemerdekaan Palestina.
Hal ini berbeda dengan ideologi Fatah (fraksi terbesar dalam PLO) yang cenderung mewujudkan Negara Palestina yang nasionalis sekuler.
Sebagai titisan Ikhwanul Muslimin, pada 18 Agustus 1988 dikeluarkan piagam yang menyebutkan bahwa Hamas merupakan bagian dari Ikhwanul Muslimin di Palestina.
Sejak saat itu, Hamas dikenal sebagai organisasi Islam yang bertujuan membebaskan wilayah Palestina dari penjajahan Israel melalui jalur diplomasi dan ataupun kekuatan militer.
Hamas juga mulai bertindak secara independen dari organisasi Palestina lainnya. Hal ini menimbulkan permusuhan antara kelompok tersebut dan nasionalis sekuler.
Serangan Hamas yang dinilai semakin membabi buta terhadap sasaran sipil dan militer mendorong Israel untuk menangkap sejumlah pemimpin Hamas pada 1989, termasuk Sheikh Ahmed Yassin yang merupakan pendiri organisasi tersebut.
Sistem kepemimpinan Hamas
Sistem kepemimpinan Hamas dikenal dengan nama Majelis Syuro atau sistem kepemimpinan bersama. Syaikh Ahmad Yassin, yang menjadi pendiri Hamas juga dipercaya menjadi pemimpin dengan bantuan keenam pimpinan Majlis.
Namun, Syaikh Ahmad Yassin telah wafat pada 17 April 2004 akibat terkena tembakan tiga buah rudal yang dilepaskan dari helikopter Apache milik tentara Israel.
Kemudian kepemimpinan Hamas berlanjut ke tangan Khaled Meshaal, Kepala Politbiro Hamas, lalu Mahmoud Zahar, mantan Menlu Palestina.
Kini tampuk kepemimpinan Hamas berada di tangan Ismail Haniya, Perdana Menteri Palestina setelah menang Pemilu Legislatif Palestina pada 25 Januari 2006.
