YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Jas merah, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Inilah yang memang harus dipegang teguh oleh generasi penerus bangsa saat ini. Salah satu wujudnya, tiga nama pahlawan nasional diabadikan menjadi nama ruangan di Makorem 072/Pamungkas Yogyakarta.
Komandan Korem 072/Pamungkas, Brigjen TNI Ibnu Bintang Setiawan, SIP, MM mengatakan, tiga nama pahlawan tersebut memiliki ikatan sejarah yang kuat dengan Korem Pamungkas. “Banyak yang tidak tahu, dulu Mohammad Hatta itu kantornya di kantor Komandan Korem Pamungkas saat Ibukota Republik Indonesia di Yogyakarta,” jelasnya di acara Coffee Morning dengan Media, Jumat (28/5/2021).
“Barangkali aura kebesaran itulah yang membuat Soeharto dan SBY, mantan Danrem Pamungkas dulu bisa menjadi presiden,” imbuhnya dengan santai diikuti gelak tawa hadirin.
Ibnu menyebut untuk dua nama pahlawan lainnya, yaitu Brigjen Katamso dan Kolonel Sugiyono yang dikenal sebagai Pahlawan Revolusi. “Brigjen Katamso dan Kolonel Sugiyono dulu pernah menjabat Danrem 072/Pamungkas dan Kasrem 072/Pamungkas yang meninggal karena korban keganasan PKI,” ujarnya.
Baca Juga : Korem Pamungkas Sinergi dengan Media Yogyakarta Siap Kawal Pilkada Aman dan Selamat
Ganis Sugiyono, putra dari Kolonel Sugiyono mengapresiasi langkah Danrem 072/Pamungkas untuk menamai nama ruangan di Makorem 072/Pamungkas dengan nama Pahlawan Revolusi. “Suatu apresiasi yang sangat besar, kami ucapkan terima kasih, kami masih dianggap keluarga besar Korem 072/Pamungkas,” ujarnya.
Ganis bercerita saat itu ayahnya Kolonel Sugiyono dilantik menjadi Kasrem Yogyakarta di Semarang. “Keesokan harinya, ia ingin melapor ke Danrem Jogja dengan naik mobil merek Gazz. Sampai di Magelang, sebenarnya Mayor Suryotomo sudah mencegahnya karena Yogyakarta tidak aman, tapi ngeyel,” tuturnya.
“Sore hari, Pak Giyono sampai di Korem, tapi tidak ada Pak Katamso sehingga datang ke rumah dinas Pak Katamso di Jalan Jenderal Sudirman,” tambahnya.
Saat Kolonel Sugiyono datang ke rumah dinas, Brigjen Katamso sudah tidak ada, tapi bertemu bertemu dengan salah satu anaknya yang mengatakan setelah mandi sore, bapak dijemput Kompi L ke Kentungan Jalan Kaliurang.
“Dalam sejarah, Pak Katamso itu dibawa paksa atau diculik, belum memakai pakaian dinas, hanya memakai piyama,” imbuhnya.
Karena tidak ketemu dengan Brigjen Katamso, Ganis mengatakan Kolonel Sugiyono pulang ke Makorem. Namun, staf di Makorem sudah berganti dengan staf yang sudah terkontaminasi G30S/PKI. Lalu, salah satu staf mengatakan bahwa Pak Giyono ditunggu Pak Katamso di Yon L Kentungan.
“Ketika sampai di Yon L, baru turun mobil, Pak Giyono langsung dipukul kunci mortir. Tersungkur dan diseret ke lubang kotak berukuran 3 x 5 meter. Jadi Ayah saya ini tidak diculik tapi ibarat ulo marani gebug,” imbuhnya.
Acara penamaan tiga ruangan dengan nama pahlawan ditandai dengan penyerahan lukisan Mohammad Hatta dari Setyo Priyo selaku pelukis, lalu lukisan Brigjen Katamso dari Tumariyanto selaku pelukis, dan lukisan Kolonel Sugiyono dari Sigit Raharjo selaku pelukis kepada Danrem 072/Pmk dan pemberian cinderamata dari Danrem 072/Pmk kepada para pelukis dan keluarga para pahlawan. (jat)
