YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Pandemi Covid-19 membuat sebagian ibu di rumah harus menghadapi kenyataan pahit karena suami mereka tidak lagi bekerja.
Wabah ini bikin sejumlah perusahaan dan usaha gulung tikar. Padahal, dapur mesti terus mengepul. Tak jarang, para moms berinisiatif untuk membangun usaha dari rumah.
Namun, mereka masih terganjal modal dan perlunya pelatihan lebih mendalam agar bisnis tidak seumur jagung. Inilah yang diincar dari platform digital MomWork di Jakarta.
MomWork melihat potensi perempuan dalam mengubah keadaan, termasuk terkait keuangan keluarga.
Baca Juga: Cuan di Tengah Pandemi: Sertiva, Startup Sertifikat Digital (Bagian 1)
Melihat penelitian dari McKinsey Global Institute Analysis (2018), Indonesia mampu menambahkan sekitar US$135 miliar pada PDB tahunan pada 2025 atau lebih tinggi 9%.
Tiga hal yang menjadi pendorong ekonomi itu berasal dari dari tiga kontribusi, antara lain partisipasi angkatan kerja perempuan yang lebih tinggi, jumlah perempuan yang bekerja penuh waktu lebih banyak ketimbang paruh waktu, dan lebih banyak perempuan bekerja di sektor produktivitas tinggi seperti manufaktur daripada pertanian.
Di sisi lain, teknologi digital sudah mulai membuka jalan bagi perempuan pengusaha untuk menjual produk mereka pada pasar yang lebih besar.
Menurut McKinsey, UMKM milik perempuan telah berkontribusi sebanyak 35% dari pendapatan salah satu e-commerce terbesar di Indonesia.
Apa itu MomWork?
Berangkat dari cita-cita untuk memberdayakan perempuan, baik ketika menghadapi situasi pandemi maupun pascapandemi, MomWork mengajak para ibu untuk produktif melalui dapur di rumah mereka.
MomWork adalah platform digital yang mempertemukan antara pemilik usaha kuliner dengan para ibu yang memiliki dapur di rumah.
Baca Juga: Cuan di Tengah Pandemi: Cara Startup Sertiva Awali Bisnis dengan Modal Rendah (Bagian 2)
Dengan menggunakan konsep share kitchen & share economy, para ibu itu akan menghasilkan produk bagi pemilik usaha kuliner sehingga mereka bisa menghasilkan uang dari rumah.
CEO & Founder MomWork Holy Sie mengatakan ide bisnis ini berawal dari harapan agar para ibu dapat survive di tengah kondisi ekonomi yang tidak pasti, setelah pandemi berimbas pada pekerjaan suami mereka.
“Kalau mereka (ibu) mengurus anak di rumah, mereka nggak mungkin keluar rumah untuk cari kerja di perusahaan,” katanya kepada Bernas.id.
“Saya bilang pada suami saya, kita coba bikin satu startup atau platform di mana mereka ini bisa kita bantu untuk mendapatkan kerjaan dari rumah,” ucapnya.
Dia menyampaikan salah satu potensi usaha yang bisa dikerjakan dari rumah adalah bidang memasak. Para ibu tentu telah memiliki modal awalnya, yakni dapur.
Melalui micro cloud kitchen, para ibu bisa membangun usaha kuliner tanpa harus memiliki fasilitas makan di tempat, seperti halnya restoran atau warung makan.
“Kita menyebutnya micro cloud kitchen. Kita mau bangun itu di rumah para moms. Karena mereka punya modal, yaitu dapur, kan tiap hari mereka masak,” kata Holy.
“Nah, kenapa nggak coba masak untuk dijual sekalian. Mereka memang kan belum punya produk, nah produknya kami yang akan suplai. Kalau seandainya mereka disuplai, produknya itu yang ready-to-cook,” imbuhnya.
Salah satu program dari MomWork ini adalah MomKitchen. Para ibu bisa menjadi mitra yang memasak makanan dari pemilik usaha kuliner di dapur rumah.
Lalu, para moms bisa memperoleh keuntungan dari setiap makanan yang terjual. Mitra tidak perlu memikirkan produk, penjualan, bahan memasak, atau pelayanan konsumen. Dengan begitu, para ibu hanya fokus pada membuat pesanan makanan.
Pengembangan aplikasi
Setelah mengasah ide pembuatan MomWork, Holy dan suami kemudian mengajak co-founder lain yang memang sudah biasa menangani bisnis kuliner, salah satunya adalah Chef Erlina.
Saat ini, MomWork aktif melalui website dan media sosial. Sementara aplikasi sedang dalam tahap pengembangan karena perlu perubahan agar semakin nyaman digunakan.
“Aplikasi mau diubah total lagi karena awalnya kita inginnya hanya sebagai platform saja. Tapi setelah ngobrol dengan para visi, mereka advice agar kita turun tangan untuk bantu para moms bikin dapurnya jadi micro cloud kitchen,” ujar Holy.
Baca Juga: Rapel: Ketika Sampah Disulap Jadi Bernilai Melalui Aplikasi Digital
Setelah soft launching pada 22 Desember 2020, MomWork mulai turun tangan pada April 2021 untuk mengupayakan dapur para ibu di rumah agar sesuai standar kebersihan.
“Artinya, mereka benar-benar bisa memisahkan antara di rumah dan barang untuk bekerja di dapur. Jadi nggak boleh dicampur,” katanya.
“Sehingga para moms ini bisa naik kelas, mereka tahu SOP kebersihan dapur, termasuk SOP ketika terjadi bencana kebakaran di cloud kitchen,” imbuhnya.
Kesulitan para moms
Holy menceritakan pelaksanaan micro cloud kitchen ini bukan tanpa hambatan. Biasanya, para moms kesulitan dalam memberi peralatan memasak.
Untuk membangun dapur yang memenuhi standar, mereka butuh modal tak lebih dari Rp 10 juta.
“Kita lagi cari pembiayaan tersebut, sementara sistem delivery pakai platform yang sudah ada. Jadi sedang kita integrasikan sehingga pada saat mulai jalan, semuanya berjalan mulus,” ujarnya.
Terkait pembiayaan, Holy mengatakan ada tawaran P-to-P lending. Namun, bunga yang ditawarkan cukup besar sehingga akan menyulitkan para ibu dalam mencicil pinjaman.
“Kita sedang cari lembaga yang punya pembiayaan dengan bunga yang reasonable. Kita sedang mencoba galakkan supaya bisa bekerja sama dengan pemerintah,” ucapnya.
Menurutnya, para moms yang menjadi mitra kebanyakan unbankable atau belum memenuhi persyaratan untuk meminjam modal dari bank.
Holy meyakini, apabila para ibu bisa memperoleh penghasilan tambahan maka dampaknya akan luar biasa, seperti peningkatan kualitas pendidikan anak, kesehatan, dan tabungan masa depan. Dengan begitu, kualitas sumber daya manusia di Indonesia akan meningkat.
“Kita ingin memberdayakan dan mengedukasi dan juga mengelevasi perempuan. Sebenarnya di Indonesia itu ada 12 juta perempuan dimasukkan dalam kategori pengangguran,” katanya.
Baca Juga: McKinsey: Ada 3 Cara agar Perusahaan Digital Tidak Ditinggal Konsumen Pascapandemi
“Jumlah tersebut cukup banyak. Kalau mereka dapat pemasukan, sebenarnya menurut McKinsey itu PDB Indonesia bisa naik,” lanjutnya.
“Jadi secara makro ekonomi (para ibu) bisa membantu, dan secara mikro juga. Mereka ini kan sumber daya manusia yang luar biasa kalau bisa dimanfaatkan dengan baik,” tutur Holy.
Perempuan dan digital
McKinsey menyampaikan dalam laporannya, hanya 24% perempuan di Indonesia yang mengakses internet sehingga perlu pembangunan infrastruktur yang memadai.
Namun, peningkatan akses digital bagi perempuan masih menemui hambatan, seperti:
Literasi digital
Sebuah survei menemukan 40% perempuan Indonesia mengaku masih memerlukan bantuan ketika menggunakan ponsel.
Persepsi manfaat
Dalam sebuah penelitian, perempuan Indonesia memandang internet sebagai alat komunikasi dan informasi yang berkaitan dengan pendidikan anak-anak mereka.
Perempuan memiliki sedikit pemahaman tentang penggunaan ponsel dan internet yang lebih luas.
Sikap sosial
Beberapa sikap patriarki telah membatasi penggunaan teknologi oleh perempuan. Dalam survei di Jakarta, lebih dari sepertiga pria setuju tentang “laki-laki punya tanggung jawab untuk membatasi akses perempuan terhadap internet”.
McKinsey menyebut, hambatan itu bisa diatasi dengan meningkatkan infrastruktur, membekali perempuan dengan keterampilan dan pemahaman peluang digital, serta menyadarkan masyarakat tentang perempuan yang berpotensi sebagai pengusaha.
Menurut Bank Dunia, Indonesia merupakan salah satu negara dengan perempuan pengusaha terkuat di dunia. UMKM milik perempuan menyumbang 9,1% dari PDB nasional.
