YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Siapa sih yang nggak mau jadi pengusaha? Punya penghasilan, tidak terikat kontrak kerja, bisa libur sesuka hati, dan menjadi pimpinan. Enak kan?
Memang kelihatannya membangun bisnis itu menghasilkan cuan yang menjanjikan, tapi perjuangan tentu menentukan hasil akhir. Selalu ada jatuh bangun di balik kesuksesan sebuah usaha.
Startup atau perusahaan rintisan kini diminati generasi muda sebagai pilihan untuk berburu profit. Mengutip data dari Startup Ranking, Indonesia berada di posisi kelima dunia dengan jumlah startup sebanyak 2.241.
Peringkat pertama masih diduduki oleh Paman Sam dengan jumlah startup mencapai 99.052, kemudian India dengan 10.170 startup, Inggris 5.668 startup, dan Kanada 2.925 startup.
Lalu, bagaimana memulai langkah merintis bisnis ala startup digital?
Bernas.id menghubungi salah satu startup yang berfokus pada produk sertifikat digital di Yogyakarta, Sertiva, Rabu (19/5). Platform ini menerbitkan sertifikat yang dibutuhkan pengguna.
Bentuknya tidak lagi selembar kertas yang memiliki kelemahan, melainkan digital sehingga keaslian dan keabsahan bisa diverifikasi secara online.
Selama pandemi, bisnis Sertiva menunjukkan geliat positif. Dari awal perintisannya, perusahaan ini baru menerbitkan sekitar 5.000 sertifikat.
Namun kini, sudah lebih dari 100.000 sertifikat yang dirilis Sertiva dari berbagai user.
Co-Founder Sertiva Saga Iqranegara mengatakan untuk merintis bisnis digital selalu dimulai dengan rumus validasi permasalahan. Dari situlah dikembangkan menjadi ide bisnis.
“Jadi ide di sini adalah permasalahan, ada apa sih masalah di luar sana yang memang itu dirasakan banyak orang dan punya nilai ekonomi,” katanya.
Berangkat dari ide, rencana bisnis dilanjutkan dengan eksekusi yang masih berupa purwarupa atau prototype.
Meski produk Sertiva masih diawali dengan prototype, namun telah mampu memecahkan permasalahan dan memberikan solusi. Setelah itu, produk dikembangkan untuk segmen yang lebih luas.
“Setelah itu, baru kemudian mencari tahu kira-kira pengguna apakah mau melakukan pembayaran, atau membayar untuk mendapatkan solusi tersebut atau tidak?” kata Saga
“Jika iya, bagaimana caranya, bagaimana bisnis modelnya, itu semua yang divalidasi di tahap berikutnya,” imbuhnya.
Baca juga: Cuan di Tengah Pandemi: Sertiva, Startup Sertifikat Digital (Bagian 1)
Sertiva melihat peluang dari tren kebutuhan sertifikat untuk berbagai hal, terutama di bidang ketenagakerjaan dan pendidikan vokasi.
Seperti diketahui, pendidikan vokasi diharapkan mencetak lulusan yang siap bekerja sesuai dengan kemajuan teknologi dan tren bisnis. Sertifikat menjadi salah satu penunjang untuk membuktikan keterampilan seseorang di dunia kerja.
Modal Serendah Mungkin
Merintis usaha tidak hanya perlu rencana bisnis, tapi juga modal. Peluang di depan mata kadang terganjal dengan modal tipis.
Saga menuturkan Sertiva memulai semuanya dengan menekan modal serendah mungkin melalui penggunaan prototype.
“Artinya, mulai dari prototype sederhana dulu, semurah mungkin, baru kemudian perlahan-lahan kita kembangkan sehingga modal yang kita keluarkan tidak terlalu banyak,” ucapnya.
Terkait pemasaran, dia menggarisbawahi pentingnya mengetahui target pasar. Dari situ, kemudian bisa dirumuskan langkah strategi pemasaran yang paling tepat.
Sebagai informasi, Sertiva menargetkan lembaga pendidikan, mulai tingkat Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi, dengan fokus utama pada pendidikan vokasi.
Saga punya pesan khusus kepada milenial agar berani memulai bisnis atau membangun startup.
“Semakin dini untuk memulai, itu semakin baik, karena gagal pasti selalu ada, tapi dari situlah kita bisa belajar,” katanya.
“Kalau tidak segera memulai artinya terlalu banyak konsekuensi dari kegagalan tersebut. Karena usianya muda biasanya konsekuensinya tidak terlalu banyak kalau kita gagal dalam berbisnis,” ujarnya.
Jadi, siapkah kalian berpetualang di dunia bisnis?
