YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Usaha mengurangi sampah plastik dengan cara reuse, reduce, dan recycle, atau yang dikenal dengan 3R, terbukti penting dalam mengurangi sampah plastik.
Laporan World Economic Forum pada April 2020 menyebutkan, Indonesia menghadapi krisis polusi plastik yang terus meningkat. Ada sekitar 6,8 juta ton sampah plastik per tahun yang dihasilkan.
Volume sampah di Tanah Air diperkirakan tumbuh 5% setiap tahunnya. Butuh komitmen dari pemerintah, industri, dan masyarakat untuk mengatasi masalah sampah plastik.
Sementara itu, 70% sampah plastik itu atau sekitar 4,8 juta ton per tahun tidak diurus dengan semestinya. Sebagian besar dari sampah itu dibakar (48%). Pembakaran sampah secara terbuka justru melepaskan zat bahaya ke udara.
Yang lain memilih membuat sampah ke tanah atau tempat pembuangan yang tidak deikelola dengan baik (13%), dan sisanya berada di saluran air dan laut (9% atau sekitar 620.000 ton sampah plastik).
Padahal kalau sampah plastik yang tidak dikelola dengan baik, tentu akan mencemari ekosistem dan merusak wisata alam serta perikanan.
Itu semua akan berdampak pada perekonomian, terutama sektor pariwisata kelautan dan perikanan. Sampah anorganik yang sampai ke laut juga dapat menganggu infrastruktur kapal.
Di sisi lain, metode 3R yang seandainya diterapkan oleh seluruh warga, bisa mendatangkan manfaat ekonomi.
Sampah dan program sosial
Menjelang Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada 5 Juni mendatang, sejumlah kelompok menunjukkan aksi peduli untuk mengelola sampah secara benar.
Business Development Rapel, aplikasi jual sampah ramah lingkungan, Christopher Nugroho mengatakan pemilahan sampah sejak dari sumbernya merupakan salah satu kunci untuk mengatasi permasalahan sampah.
Gerakan pemilahan dan daur ulang sampah anorganik perlu terus disosialisasikan kepada masyarakat, industri, lembaga pendidikan, dan bahkan organisasi sosial.
Dia menyebut Rapel terus memperluas kampanye pemilahan sampah ke daerah-daerah, termasuk melakukan kerja sama dengan PMI Surakarta dan Politeknik Akbara baru-baru ini.
“Gerakan tersebut juga dapat ditingkatkan menjadi program sedekah sampah yang hasilnya dapat digunakan untuk membiayai program sosial,” katanya, Selasa (2/6/2021).
Sebagai informasi, sekitar 72% limbah plastik di Indonesia berasal dari daerah pedesaan dan kota kecil hingga menengah.
“Salah urus sampah plastik adalah tantangan domestik, yang butuh tindakan substansial dan perubahan kebijakan level setempat untuk mendorong perubahan secara nasional,” tulis laporan World Economic Forum.
Hambatan pengelolaan sampah
SEA Circular, sebuah inisiatif dari PBB, menyebut pengelolaan sampah di Indonesia terhambat oleh kurangnya data dan teknologi.
Selain itu, sebagian orang juga masih kurang terampil dalam menangani sampah plastik dan kurangnya partisipasi sektor swasta dalam pengelolaan sampah plastik.
“Ada kekurangan dana yang cukup besar di level regulator sehingga pemantauan, pengendalian, dan penegakan, serta pengelolaan pembuangan sampah plastik menjadi tidak memadai,” tulis laporan SEA Circular.
Menurut Greenpeace, hanya 9% sampah plastik di dunia yang didaur ulang. Bahkan di negara maju, tingkat daur ulang plastik yang berasal dari rumah tangga masih jauh dari 50%. Sampah-sampah untuk daur ulang yang dikirim oleh negara-negara di Global Utara ke Global Selatan, sebutan untuk negara berpendapatan rendah di bagian selatan bumi.
Sebelum melarang perdagangan sampah, China telah mengimpor hampir 8 juta ton sampah plastik per tahun. Sekarang, negara di Asia Tenggara jadi tujuan sampah-sampah itu.
Minimnya infrastruktur dan regulasi menyulitkan langkah pencegahan masuknya sampah dari luar negeri, bahkan dari dalam negeri sekalipun.
