BANTUL, BERNAS.ID – Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Bantul melalui Bidang Sejarah, Bahasa Sastra dan Permuseuman menyelenggarakan Sarasehan Sejarah, Kamis (17/6/2021) bertempat di Balai Kalurahan Panggungharjo. Kali ini tema yang diangkat adalah Sejarah Sumbu Filosofi.
Pada acara ini Lurah Panggungharjo yang diwakili oleh Kamituwa Kalurahan Panggungharjo, Hosni Bimo Wicaksono, A.Md, mengapresiasi Sarasehan Sejarah yang dilaksanakan di Kalurahan Panggungharjo terutama terkait dengan Panggung Krapyak sebagai sumbu filosofi.
Yohannes Supramono dari Balai Pengelolaan Kawasan Sumbu Filosofi, menyampaikan bahwa sumbu filosofi memiliki nilai-nilai penting yang harus diketahui oleh generasi muda. Tidak hanya dikenal sebagai tempat berburu, tetapi juga sebagai representasi awal kehidupan.
Baca Juga : Sumbu Filosofis Jogja Harus Bebas Macet
“Sumbu Filosofi dari Panggung Krapyak menuju Kraton melambangkan Sangkan (siklus hidup mulai dari kehidupan, kelahiran, remaja, perkawinan, pembentukan keluarga) dan perjalanan dari Tugu Yogya ke Kraton melambangkan Paraning Dumadi (Kembalinya ke sang Pencipta),” paparnya.
Pemerintah juga berencana mengelola dan menata Kawasan Panggung Krapyak serta menjaga nilai-nilai budaya yang ada di kawasan tersebut.
Selanjutnya Panewu Sewon, yang diwakili oleh Plt Jawatan Sosial, Juwari, S.IP, menyampaikan bahwa peran pemerintah dalam mengembangkan Panggung Krapyak sebagai Sumbu Filosofi dengan sosialisasi kepada masyarakat.
“Selain itu juga mengajak masyarakat untuk melestarikan, mendukung Panggung Krapyak sebagai Warisan Budaya Dunia dan menciptakan suasana yang kondusif di sekitar Panggung Krapyak,” katanya.
Acara Sarasehan Sejarah kali ini dipandu oleh Drs. Yuli Hernadi, S.Sos dari MSI Komisariat Kabupaten Bantul dan dihadiri oleh Lurah se Kapanewon Sewon, dukuh-dukuh di Kalurahan Panggungharjo, guru, instansi, dan komunitas. (cdr)
