BERNAS.ID – Pemerintah terus melanjutkan BLT UMKM atau Bantuan Produktif Usaha Mikro (BPUM) melalui sejumlah bank BUMN, termasuk BRI. Bantuan senilai Rp1,2 juta per bulan itu, pendaftarannya dibuka hingga akhir Juni 2021.
BRI BPUM menjadi salah satu stimulus yang digunakan pemerintah untuk pemulihan ekonomi. Bicara soal bank penyalur BLT, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) menjadi penyalur terbesar bantuan untuk usaha mikro ini.
Lalu, sebenarnya bagaimana peran BRI dalam membantu pemulihan ekonomi di masa pandemi?
BRI tercatat sebagai penyumbang dividen terbesar bagi negara pada 2020. Laporan dari Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan menyebutkan bank dengan kode emiten BBRI itu berkontribusi 26,4% dari keseluruhan dividen BUMN.
Persentase itu setara dengan Rp11,7 triliun. Sementara, total dividen yang diperoleh dari semua BUMN mencapai Rp25 triliun. Pada 2020, aset BRI tumbuh positif hingga menyentuh Rp1.511,81 triliun. Laba yang dibukukan BRI tercatat Rp18,66 triliun.
“BRI memang fokusnya di segmen mikro namun apa yang dikerjakan BRI berdampak makro terhadap perekonomian nasional,” kata Corporate Secretary BRI Aestika Oryza Gunart melalui keterangan resmi.
Dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi XI DPR di Jakarta pada 15 Juni 2021, Direktur Utama BRI Sunarso mengatakan aset BRI terus tumbuh positif hingga kuartal I/2021.
Tercatat, aset BRI tumbuh 6,8% mencapai Rp1.374,38 triliun. Meski begitu, jumlah tersebut sebenarnya menurun jika dibandingkan per Desember 2020.
Baca Juga: IHSG Kembali Melemah Hari Ini, BBRI dan BBCA Tetap Jadi Incaran Investor Asing
Hingga akhir tahun lalu, aset BRI mencapai Rp1.511,81 triliun. Menurut Sunarso, penurunan tersebut karena merger BRI Syariah menjadi Bank Syariah Indonesia yang konsolidasinya oleh Bank Mandiri.
“Baik kredit, dana pihak ketiga, kemudian aset dikonsolidasi ke Bank Mandiri, terutama karena diberlakukannya konun di Aceh. Dari bank syariah yang digabung itu, BRI yang terbesar,” katanya.
Sementara itu, pertumbuhan kredit tercatat 1,4% menjadi Rp896,5 triliun. Deposit atau simpanan dana masyarakat tumbuh 5,6% menjadi Rp1.033,2 triliun. Sementara, Non Performing Loan atau NPL nerada di level manageable yaitu 3,12%.
“Selain NPL, kita juga harus waspada dengan loan at risk keliatannya lancar tapi karena restrukturisasi, kebijakan, dan lain-lain, masih tinggi, menempati porsi 28,8% dari total portofolio,” ucap Sunarso.
Menjangkau Mikro
BRI terus mendorong upaya penetrasi penyaluran kredit mengingat potensi usaha mikro di Indonesia yang terus tumbuh.
BRI menargetkan kontribusi usaha mikro sebesar 45% dari total keseluruhan penyaluran kredit pada 2021. Perusahaan negara itu meyakini dalam rentang 2020 hingga 2025, ada lebih dari 45 juta usaha mikro yang siap menyerap kredit.
Dari angka itu, sekitar 22 juta usaha mikro diyakini akan menyerap Kredit Usaha Rakyat (KUR) Mikro.
“BRI mengambil peran untuk membantu dan berkolaborasi dengan kebijakan-kebijakan pemerintah untuk menyalurkan berbagai stimulus. Terutama untuk meningkatkan konsumsi rumah tangga dan mendorong daya beli masyarakat,” kata Sunarso.
Total penyaluran kredit BRI pada kuartal I/2021 mencapai Rp914,19 triliun, dengan porsi kredit UMKM sebesar 80,6%.
Secara rinci, Sunarso menyebutkan meski situasi sedang sulit namun permintaan kredit di sektor usaha mikro masih tumbuh dua digit yakni 12,43%.
Jumlah kredit yang disalurkan BRI untuk segmen mikro hingga Maret 2021 mencapai Rp360 triliun atau 40% dari total kredit. Sementara kredit untuk usaha kecil dan menengah tercatat minus 2,2%, kredit konsumer tumbuh 1,7%.
