BERNAS.ID – Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mempunyai tugas yang berat di tengah situasi pandemi Covid-19. Untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi di atas 5%, minimal investasi yang harus masuk ke Indonesia sebesar Rp900 triliun.
Demikian pernyataan Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia beberapa waktu lalu pada Rapat Koordinasi Nasional untuk Percepatan Investasi.
Bercermin dari tahun lalu, dia menyebutkan pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat minus 2,19%. Namun jika dibandingkan dengan negara-negara G20, Indonesia berada di posisi kedua, atau tepat di bawah China.
Baca Juga: Menteri Investasi Bicara soal Aksi “Pencak Silat” Penghambat Penanaman Modal
Seperti diketahui, ekonomi China pada 2020 tercatat 2,3%. Angka tersebut membuat Negeri Panda sebagai negara yang masih mencapai pertumbuhan positif di tengah wabah.
“Kita adalah PDB (Produk Domestik Bruto) terbesar nomor dua untuk G20 setelah China. Artinya, struktur pondasi ekonomi kita itu memang masih jauh lebih baik,” kata Bahlil.
Dia mengibaratkan, perekonomian Indonesia pada tahun lalu sebagai orang sakit yang harus ditempatkan pada ruang ICU. Berikut sejumlah catatan terkait investasi di Indonesia sepanjang 2020 hingga kuartal I/2021:
Koreksi Target Investasi
Badai pandemi membuat pemerintah harus mengoreksi target realisasi investasi. Bahlil menyebutkan, target realisasi pada 2020 diturunkan menjadi Rp817 triliun, dari sebelumnya sekitar Rp856 triliun.
Meski begitu, realisasi investasi sepanjang Januari hingga Desember 2020 tercatat sebanyak Rp826,3 triliun, atau surplus sekitar Rp9 triliun dari target yang telah dikoreksi. Investasi tersebut telah menyerap 1,1 juta tenaga kerja Indonesia dari 153.349 proyek investasi.
Lebih Banyak Investasi di Luar Jawa
Bahlil juga memamparkan pencapaian investasi di luar Pulau Jawa lebih besar daripada Pulau Jawa. Sesuatu yang baru pertama kali terjadi di Indonesia selepas reformasi.
Dari realisasi investasi 2020, sebesar 50,5% merupakan proyek yang berada di luar Jawa dengan 54.994 proyek senilai Rp417,5 triliun. Sementara, penanaman modal di Pulau Jawa tercatat senilai Rp408,8 triliun, yang terdiri dari 98.355 proyek.
“Masa depan Indonesia tidak hanya di Pulau Jawa, di luar Pulau Jawa adalah masa depan Indonesia, dan ini sudah kita mulai,” katanya.
PMDN Lebih Besar Ketimbang Modal Asing
Lebih lanjut, Bahlil mengemukakan jika penanaman modal dalam negeri (PMDN) sepanjang 2020 lebih besar dibandingkan penanaman modal asing atau PMA.
Tercatat, PMDN senilai Rp413,5 triliun atau sekitar 50,1% dari total investasi yang masuk. Jumlah itu terdiri dari 153.349 proyek. Sementara, PMA dilaporkan senilai Rp412,8 triliun atau 49,9%, dengan total 56.726 proyek.
“Tidak pernah dalam sejarah pascareformasi, PMDN itu lebih besar daripada PMA. Sekarang di era pandemi 2020, PMDN lebih besar daripada PMA,” ujarnya.
Meski begitu, nilai PMA di Tanah Air masih lebih baik ketimbang di hampir semua negara yang mengalami penurunan 30% hingga 40%.
“Di Indonesia, turunnya tidak lebih dari 10%,” lanjut Bahlil.
Investasi Mangkrak
Pria kelahiran Maluku Tengah ini menyebut telah menangani sejumlah investasi mangkrak. Senilai Rp708 triliun disebut terbengkalai selama 4-6 tahun.
Hal itu disebabkan karena konflik akibat egosektoral kementerian/lembaga, serta aturan yang tumpang tindih antara kabupaten dan provinsi.
“Contohnya Lotte, selama 6 tahun (investasi) tersandera di Cilegon, baru kemarin kita selesaikan. Nilai investasinya Rp62 triliun untuk bangun petrochemical. Persoalan tanahnya yang nggak selesai,” kata Bahlil.
Dari Rp708 triliun tersebut, sebanyak Rp517,6 triliun atau 73,1% telah difasilitasi oleh Kementerian Investasi/BKPM. Penyelesaian masalah investasi mangkrak dinilai sebagai salah satu strategi promosi untuk menarik minat investor.
Pencapaian Kuartal I/2021
Perkembangan realisasi investasi Indonesia sepanjang Januari-Maret 2021 tercatat mencapai Rp219,7 triliun atau 24,4% dari target investasi senilai Rp900 triliun. Dari pencapaian tersebut, penanaman modal itu telah menyerap 311.793 tenaga kerja Indonesia.
Baca Juga: Upaya Pemulihan Ekonomi Bisa Terhambat oleh Lonjakan Kasus Covid-19
“Target investasi, sekarang presiden meminta kepada kami dengan pertumbuhan ekonomi di atas 5%, berarti minimal investasi yang masuk Rp900 triliun,” ujarnya.
“Ini pekerjaan yang berat sekali,” kata Bahlil.
Investasi menjadi motor utama penggerak pertumbuhan ekonomi. Sebanyak 79% pendapatan negara berasal dari penerimaan pajak.
Dengan begitu, meningkatnya investasi akan mendorong kenaikan penerimaan pajak. Selain itu, membuka lapangan pekerjaan, meningkatkan ekspor, dan memberi nilai tambah terhadap barang. Ketika lapangan kerja tersedia, maka pendapatan masyarakat akan meningkat sehingga mendorong daya beli konsumen.
