Bernas.id – Istilah smart city akhir-akhir ini sering diperbincangkan banyak orang. Bahkan di media massa, pembahasan mengenai masterplan smart cities pun juga santer diberitakan. Yah, hal ini memang wajar terjadi karena Presiden Jokowi memang sedang menggenjot 100 masterplan smart cities di kota dan kabupaten Indonesia.
Konsep smart city atau kota cerdas ini dianggap mampu menjadi solusi untuk mengatasi permasalahan di perkotaan yang padat penduduknya. Karena itu, smart city ini juga diklaim banyak pakar mampu mendukung pembangunan berkelanjutan.
Namun, suatu kota atau wilayah bisa masuk dalam kriteria smart city atau kota cerdas jika kota tersebut telah memiliki kualitas hidup dan tingkat kecerdasan yang baik.
Smart City membutuhkan tenaga IT andal yang mampu mengelola sistem berbasis data. Jika ingin memperdalam keterampilan ini, Sertifikasi Big Data Scientist dapat menjadi pilihan tepat. Program ini membekali kemampuan analisis data dan kecerdasan buatan yang sangat dibutuhkan dalam industri teknologi modern.
Ide awal terbentuknya smart city di Indonesia ini digagas oleh seorang guru besar dari Institut Teknologi Bandung, Profesor Suhono Harso Supangkat. Karena itu, membahas smart city selalu tak bisa lepas dari sosok pria asal Yogyakarta ini. Seperti apa sih, sosok Prof Suhono sang bapak smart city Indonesia ini? Berikut kisahnya.
Baca juga: Smart Home Lighting. Inspirasi Penerangan Ruangan
Berawal dari Teknik Elektro
Pria 58 tahun asal Yogyakarta ini sedari kecil memang tertarik dengan dunia elektro. Karena hal itu pula, Suhono memutuskan untuk melanjutkan kuliah jurusan teknik elektro di Institut Teknologi Bandung (ITB). Seperti yang kita ketahui, ITB merupakan perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Sebagai salah satu kampus terbaik di Indonesia, tentu tidak mudah untuk lolos seleksi masuk ITB.
Merasa beruntung mampu mengalahkan banyak pelamar yang berebut kursi di ITB, Suhono tak ingin menyia-nyiakan hal tersebut. Ia terus mewarnai masa perkuliahannya dengan prestasi gemilang. Hal ini terbukti bahwa dirinya mampu menamatkan pendidikan dengan baik dengan membawa gelar B.S.
Baginya, elektro bisa menjadi penggerak berbagai hal dalam kehidupan.Oleh karena itu, ia memutuskan untuk melanjutkan studi di bidang teknik elektro.
“Elektro itu menjadi penggerak semuanya, Kita bisa telepon, mendapatkan akses listrik, dna semua aktivitas kita juga memerlukan elektro,” ungkap Prof. Suhono melalui sambungan telepon dengan Bernas.id.
Gayung pun bersambut. Tekadnya untuk mendalami teknik elektro pun seolah mendapatkan dukungan dari alam semester. Sekitar dua hingga tiga tahun lulus dari ITB, pria yang lahir 3 Desember 1962 silam ini pun mendapatkan tawaran untuk mengikuti beasiswa Monbukagakusho.
Berkat beasiswa Monbukagakusho, Prof. Suhono berhasil meraih gelar master dari Meisei University, – Jepang dan meraih gelar Doctor of Engineering dari Sekolah Pascasarjana Sistem Informasi University of Electro-Communication.
Beasiswa Monbukagakusho merupakan beasiswa Jepang yang memberikan bantuan biaya kuliah gratis. Bagi kalian yang ingin kuliah di luar negeri tanpa biaya, beasiswa Monbukagakusho ini bisa menjadi solusi.
Namun, untuk berhasil lolos seleksi beasiswa Monbukagakusho seperti Prof. Suhono tentu tidak mudah. Sebab, ada banyak orang yang juga mengikuti seleksi beasiswa Jepang tersebut. Agar bisa lolos seleksi seperti Prof. Suhono, kita harus menjadi kandidat yang menonjol dari pengalaman lainnya.
“Agar bisa lolos seleksi beasiswa Monbukagakusho, pastikan kalian punya proposal dan portofolio yang berkaitan dengan pentingnya pendidikan lebih lanjut. Jadi, kuncinya itu ada di proposal yang kita ajukan waktu mendaftar. Pastikan proposal yang kita ajukan itu punya kaitan erat dengan rencana belajar kita nantinya,” ungkap Prof. Suhono.
Baca juga: Jokowi Genjot 100 Masterplan Kota Cerdas, Ahli Smart City ITB Ini Bilang Begini
Pengalaman kuliah di Jepang
Prof. Suhono bercerita bahwa suasana di Jepang sangat kondusif dan membantu proses studinya. Selain itu, banyak hal menarik dari Jepang yang bisa kita contoh untuk meningkatkan taraf kehidupan.
Seperti yang tertuang dalam catatan, sebelum menjadi negara maju, Jepang mengalami dinamika yang luar biasa. Namun, Jepang berhasil melalui semua itu dan kembali bangkit menjadi super power. Hingga saat ini, Jepang juga menjadi rujukan banyak negara di dunia. Hal inilah yang menurut Prof. Suhono berhasil membuatnya banyak memetik pelajaran berharga selama berada di negeri Sakura tersebut.
“Selama kuliah di Jepang itu, saya banyak belajar bagaimana bangkit dari keterpurukan. Yah, Jepang kan sempat menjadi negara yang terpuruk, Setelah perang dunia kedua pun, Jepang masih banyak mengalami benturan budaya bahkan sempat ada restorasi Meiji, Namun Jepang berhasil melangkah maju hingga mencapai puncaknya di awal tahun 1990-an,” ungkapnya.
Prof. Suhono juga merasa kehidupan di Jepang sangatlah nyaman. Ia juga merasa sistem keamanan di Jepang sangat terjamin sehingga tidak ada hal yang perlu ditakutkan selama berada di tempat yang jauh dari tanah air.
“Kalau saya punya anak perempuan di Jepang, saya nggak perlu khawatir karena sistem keamanan di sini sangat bagus,” ungkapnya.
Selain itu, etos kerja orang Jepang juga patut diacungi Jempol. Menurut Prof. Suhono, masyarakat di Jepang sangat pekerja keras sehingga membuatnya dirinya juga tertantang untuk mengikuti semangat kerja orang Jepang.
“Orang Jepang itu sangat kerja keras. Jadi, saya banyak belajar bagaimana membangun jaringan dan mendapatkan pengetahuan di sana. Di Jepang itu, kita bisa belajar bagaimana praktik langsung untuk menghasilkan kontribusi. Jadi, di kampus dari pagi sampai malam itu hal biasa selama di sana,” tambahnya.
Bagi Prof. Suhono, belajar bisa dilakukan di mana saja. Namun selama di Jepang, ia belajar banyak tentang kedisiplinan dan kerja keras, yang mungkin tak bisa didapatkannya ketika berada di negara lain.
Baca juga: Ini Beberapa Bukti Kehebatan Teknologi Jepang
Membangun Padepokan
Sepulangnya dari Jepang, Prof. Suhono tak ingin ilmu yang dibawanya terbuang sia-sia. Ia pun mengamalkan apa yang didapatkannya selama di Jepang untuk kemajuan Indonesia dengan membangun sebuah padepokan.
“Di Jepang itu, profesor biasanya memiliki associate tertentu yang membahas ilmu-ilmu baru serta persoalan di lapangan. Nah, hal itu saya bawa ke Indonesia dengan membangun padepokan,” ungkapnya.
Melalui padepokan yang dibentuknya, Suhono pun beragam mahasiswa dan akademisi untuk mendiskusikan pengetahuan dan ide baru serta saling memberi masukan.
“Sepulangnya dari Jepang, saya langsung bikin padepokan. Padepokan itu sekarang punya anggota sekitar 20 orang, ada mahasiswa S1, S2, S3, dan para profesor. Setiap minggunya kami mengadakan pertemuan,” ucapnya.
Strategi pemasaran infrastruktur di digital terus berkembang, dan bisnis harus beradaptasi dengan pendekatan omnichannel. Dengan Omnichannel Sales Growth dengan Teknologi AI, dapat mengintegrasikan berbagai saluran penjualan dan meningkatkan kepuasan pelanggan dengan sistem berbasis kecerdasan buatan.
Baca juga: Perjalanan Profesor Khairurrijal, Dari Sistelnas hingga Guru Besar ITB
Membentuk Smart City
Ide smart city dari Prof. Suhono berawal dari pengembangan smartphone yang dilakukan atas kerjasama dengan ITB dan sebuah perusahaan telepon genggam. Bersama timnya, Prof. Suhono mencoba mengembangkan jaringan informasi yang bisa dikelola oleh semua lapisan masyarakat.
Sejak tahun 1998, Prof. Suhono terus mengadakan konferensi untuk mengumpulkan orang-orang sejawat dan satu profesi setiap tahunnya. Lalu di tahun 2005, ia menginisiasi adanya e-Indonesia Initiatives Forum, yaitu forum terkait elektro dan sistem informasi, yang juga dihadiri oleh Presiden.
Dalam forum itulah, ia memberikan masukan kepada presiden untuk menerapkan smart city di Indonesia. Berkat hal itu pula, tahun 2007 sampai dengan 2009 diangkat sebagai Penasihat Khusus Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Menkominfo). Bahkan, sejak tahun 2000 ia telah membantu beberapa kegiatan Pemerintah dan industri, terutama di bidang Regulasi dan Tata Kelola teknologi informasi.
Lalu di tahun 2012, Prof. Suhono dan Menkominfo melakukan riset mengenai smart city di Indonesia untuk mengukur parameter yang dibutuhkan. Hingga kini, riset mengenai smart city pun terus berjalan dengan bantuan berbagai pihak. Bahkan, Prof. Suhono pun melakukan survei rutin mengenai penerapan smart city di Indonesia.
“Kami juga menyelenggarakan rating mengenai smart city setiap dua tahun sekali. Rating smart city tahun ini kan dilaksanakan di 98 kota. Tahun depan, rencana mengenai rating smart city ini akan dimulai dari tingkat kabupaten,” tambahnya.
Pilihan Program Studi untuk Masa Depan Teknologi
Tertarik mendalami teknologi yang berperan dalam Smart City? Program Studi Informatika di Universitas Mahakarya Asia (UNMAHA) menawarkan kurikulum berbasis teknologi dan inovasi. Program ini membekali mahasiswa dengan keterampilan pemrograman, analisis data, serta pengembangan sistem berbasis kecerdasan buatan.
Anda bisa langsung kunjungi situs resmi PMB untuk informasi lengkap pendaftaran. Jika butuh konsultasi langsung, hubungi kami melalui WhatsApp agar tim kami dapat membantu Anda memilih program terbaik.
Peluang Bisnis Menjanjikan dengan Menjadi Reseller Produk Teknologi
Perkembangan Smart City tidak lepas dari kebutuhan akan perangkat teknologi canggih. Dengan menjadi reseller di Adolo, Anda berkesempatan untuk menjual berbagai produk, termasuk laptop berkualitas tinggi yang mendukung era digital. Peluang ini sangat cocok bagi Anda yang ingin merintis bisnis di bidang teknologi.
Bergabunglah sebagai reseller Adolo dan dapatkan keuntungan menarik! Anda akan mendapatkan akses ke produk eksklusif, dukungan pemasaran, serta kesempatan untuk memperluas jaringan bisnis. Jangan lewatkan kesempatan ini—jadilah bagian dari revolusi digital dengan bergabung di Adolo sekarang!*** 4
