Bernas.id – Bisa menginjakkan kaki ke berbagai belahan dunia tentu menjadi impian banyak orang. Sayangnya, problematika biaya seringkali membuat kita mengubur dalam-dalam mimpi tersebut.
Namun, pria asal Klaten bernama Wahyu Indra Widodo ini berhasil membuktikan ke dunia bahkan keterbatasan bukan alasan untuk kita mewujudkan impian.
Bermodal doa ibu, Wahyu, begitu sapaan akrabnya, berhasil menjejakkan kaki di lebih dari 80 negara. Bagaimana perjalanan panjang Wahyu menembus keterbatasan diri hingga mampu meraih mimpi? Berikut kisahnya:
Gagal Jadi Tentara, Sukses Besar Berkat Pariwisata
Sebelum memilih pariwisata, Wahyu bercita-cita menjadi TNI. Sayangnya, ia mengalami sakit usus buntu yang membuatnya memiliki bekas luka operasi. Wahyu juga memiliki karakteristik kaki yang tidak masuk dalam kriteria sebagai prajurit negara. Karena itu, ia menghapus impiannya untuk menjadi tentara.
Setelah mengubur impiannya menjadi tentara, Wahyu bersikeras untuk bisa kuliah di jurusan akuntansi dan manajemen di Universitas Gadjah Mada (UGM). Lagi-lagi, keberuntungan tidak berpihak kepadanya. Ia kembali menelan pil pahit menyadari dirinya tidak bisa meraih impian.
“Daftar UGM waktu itu tidak terima karena grade jurusan yang saya ambil memang tinggi sekali. Lalu saya pilih kuliah vokasi jurusan pariwisata di STP AMPTA Yogyakarta karena mendapatkan keringanan biaya dan bisa langsung kerja setelah lulus,” ucapnya.
Menurut Wahyu, bidang pariwisata memiliki jangkauan luas yang bisa diakses siapa saja. Karena itulah, Wahyu menganggap bidang pariwisata ini memiliki peluang yang sangat menjanjikan.
Pilihan Widodo pun ternyata tak salah. Terbukti, ia berhasil menjadi lulusan termuda dan meraih banyak penghargaan di bidang pariwisata. Bahkan, bidang pariwisata yang dipilihnya telah berhasil membawanya menjejakkan kaki di lebih dari 80 negara dan menerima penghargaan dari MS Rotterdam.
“Bisa dibilang memilih jurusan pariwisata ini adalah kecelakaan yang berbuah manis. Kalau dipikir-pikir lagi, saya ini bukan siapa-siapa. Hanya orang yang beruntung saja. Tuhan sangat sayang dengan saya,” tambahnya.
Baca juga: Kisah Margareta Astaman, Asa Jadi Penulis hingga Bawa Buah Lokal ke Pasar Global
Kerja Sambil Kuliah
Karena tak ingin menyusahkan keluarga yang telah membiayai kuliahnya, Wahyu memutuskan untuk kuliah sambil kerja. Berbagai macam pekerjaan paruh waktu pun tak segan ia lakukan untuk mendapatkan uang tambahan.
“Saya kerja apa pun waktu itu. Waktu awal kuliah, saya kerja jualan undangan. Ah, waktu jualan undangan itu pengalamannya banyak. Diteriaki orang dan dikejar anjing itu sudah menjadi hal biasa,” ucapnya.
Wahyu bercerita semua pengalaman buruknya ketika bekerja paruh waktu tersebut justru membentuk karakter baik dalam dirinya. Pengalaman tersebut membuatnya tak lagi menjadi sosok yang pemalu.
“Saya dulu pemalu. Bertemu orang saja grogi. Sejak punya pengalaman itu, sekarang saya bisa jadi sosok yang lebih berani. Jadi, saya sangat berterima kasih sekali dengan semua pengalaman tak mengenakan itu,” tambahnya.
Setelah memasuki pertengahan masa kuliah, Wahyu mulai mendapatkan pelajaran praktik food and beverage. Berbekal pengetahuan dari bangku kuliah itulah, Wahyu akhirnya mencoba untuk bekerja paruh waktu di sebuah hotel ternama kota Yogyakarta.
“Setelah melalui masa training, akhirnya saya menjadi part timer harian. Yah, pekerjaan itu ternyata lumayan menguras energi dan membuat kuliah saja hampir berantakan,” tambahnya.
Namun siapa yang akan menyangka. Pekerjaan paruh waktu yang hampir membuat kuliahnya berantakan justru membuatnya lulus lebih cepat daripada teman-teman seangkatannya.
Selama bekerja paruh waktu, Wahyu banyak bergaul dengan mahasiswa semester akhir. Dari situlah, akhirnya Wahyu terinspirasi untuk membuat skripsi terlebih dahulu.
“Waktu itu saya masih semester tiga tapi sudah menentukan judul skripsi. Lalu di semester empat, di mana waktu itu belum diajari metodologi penelitian, saya sudah membuat proposal skripsi. Yah, mahasiswa semester akhir yang saya temui selama kerja paruh waktu itu yang mengajari saya,” tambahnya.
Apa yang dilakukan oleh Wahyu ternyata berbuah manis. Ia pun berhasil menyelesaikan kuliahnya lebih cepat daripada teman-teman seangkatannya dan menjadi lulusan termuda. Setelah lulus, ia pun bekerja di kapal pesiar. Hal inilah yang kemudian menjadi awal langkah Wahyu menjejaki lebih dari 80 negara di berbagai belahan dunia.
“Waktu lulus, impian saya sangat sederhana. Saya hanya ingin memegang Patung Liberty, ‘memegang’ kepala Sphinx , dan ‘kencing’ di Menara Eiffel. Yah, alhamdulillah semua itu sudah saya lakukan,” ucapnya.
Mendapat Penghargaan MS Rotterdam
Berkat kinerjanya yang gemilang selama mengabdi di kapal pesiar, Wahyu pun dipercaya untuk melakukan set up kapal MS Rotterdam. MS Rotterdam adalah kapal pesiar kelas Pinnacle yang dibangun untuk Holland America Line (HAL), anak perusahaan Carnival Corporation. Melihat keberhasilannya alam melakukan setup kapal, pihak MS Rotterdam pun merasa puas hingga memberikan penghargaan khusus untuk Wahyu.
Keberhasilan Wahyu tentu tidak ia dapatkan secara mulus. Ia harus menghadapi berbagai ejekan dari orang-orang yang meragukan kemampuannya. Namun, Wahyu hanya membalas semua itu dengan terus mengasah kemampuannya.
“Karena saat itu saya hanya orang dari daerah, bukan kota besar, banyak yang meragukan saya. Bahkan, mereka bilang kemampuan Bahasa Inggris saya masih buruk karena waktu berbicara Bahasa Inggris masih ada akses Jawanya,” ungkapnya.
Wahyu menerima ejekan tersebut tanpa dendam. Ia hanya terus mengasah kemampuannya hingga takdir pun berpihak padanya. Wahyu mendapat kepercayaan untuk melakukan set up kapal di Italia hingga mendapatkan penghargaan tersebut.
“Saat diminta set up kapal tersebut, sebenarnya saya ragu. Tapi, saya terus maju. Saya terus bertanya pada orang yang lebih ahli lalu mempelajari dan mempraktekkannya,” tambahnya.
Baca juga: Endah Saraswati, Seniman Multitalenta yang Sukses Populerkan Campursari
Sukses Besar Berkat Doa Ibu
Setelah 19 tahun bekerja di kapal pesiar, Wahyu memutuskan untuk berbagi ilmu dan pengalaman dengan menjadi pengajar di STP AMPTA Yogyakarta dan AKPAR Buana Wisata. Dengan kemampuan dan pengalamannya yang luar biasa, Wahyu kini berhasil menjabat sebagai komisaris BUMN PT Properti TBK.
Wahyu mengaku kesuksesan besar yang didapatnya saat ini adalah berkat kerja keras dan doa dari sang ibu. Bahkan saat ia berada di titik terendah, sosok ibu yang berhasil menyelamatkannya. Karena itu, tanpa sosok sang ibu ia merasa tak akan bisa meraih kesuksesan besar seperti yang didapatkannya saat ini.
“Waktu SMA saya pernah rangking terakhir. Yah, waktu itu memang saya tergolong bandel. Lalu saat malam hari, saya dengar ibu saya menangis. Saya tanya kenapa dia menangis, dia jawab ‘kamu itu mau jadi apa. Nanti kamu enggak bisa kuliah di negeri, ibu bayarnya pakai apa’,” ucapnya.
Dari peristiwa itulah, Wahyu mulai termotivasi untuk belajar lebih giat lagi. Wahyu tak segan menanyakan semua pelajaran yang tak ia pahami ke guru dan teman-temannya.
Usaha Wahyu tak sia-sia, prestasinya langsung melejit. Semasa sang ibu hidup, Wahyu pun selalu meminta doa darinya dan selalu berusaha menghubungi sang ibu di sela-sela kesibukannya yang luar biasa.
Dan kini ketika sang ibu telah tiada, Wahyu selalu mengingatnya di dalam doa dan setiap langkah kakinya.
