BERNAS.ID – Banyak anggapan bahwa menjadi seorang perempuan harus sempurna, terutama yang dituntut dari diri seorang perempuan adalah tampilan fisik yang menarik atau biasa anak muda jaman sekarang bilangnya “gak Good Looking gak bakalan dihargai”.
Naahh, anggapan ini tanpa disadari menjadikan seorang perempuan akan berusaha semaksimal mungkin untuk membenahi diri. Contohnya nih diet mati-matian, skincare-an mahal-mahal walaupun dalam kondisi low buget karena banyak yang bilang “lo kok gendutan sihh, diet napa”, “muka lo jerawatan tuhh, gak pernah perawatan kali ya?”
Kalimat seperti ini biasanya diucapkan secara spontan ataupun melalui berbagai komentar di sosial media, kalau anak muda bilangnya Body Shaming (perilaku menjelek-jelekkan dan mengomentari penampilan fisik orang lain).
Sehingga tanpa disadari kalimat ataupun kata-kata tersebut salah satu bentuk dari tindakan bullying dimana hal tersebut bisa menyakiti hati orang lain.
Dari berbagai kejadian yang pernah kita dengar banyak kasus bunuh diri akibat tindakan bullying baik dari kalangan anak muda sampai orang dewasa. Apa yang menyebabkan hal tersebut terjadi???
Baca juga: Seberapa Besar Kadar Toleran Anak? Yuk Deteksi Dini Sikap Intoleran Pemecah Belah Bangsa
Tentunya karena mental mereka tengah terganggu. Bukan hanya karena kasus bullying mental seseorang bisa menjadi tidak sehat. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi hal tersebut seperti anak remaja yang sedang putus cinta, kekerasan yang terjadi di lingkungan mereka, pelecahan, tuntutan ekonomi dan masih banyak lagi, dimana hal tersebut juga dapat mempengaruhi kondisi keluarga, teman-teman, bahkan kesehatan reproduksi seorang wanita dapat terganggu.
Ada Gak Sih Cara Agar Mental Kita Tetap Sehat???
Perlu teman-teman ketahui bahwa mental setiap orang berbeda-beda, ada yang kuat ada juga yang cepet down. Nah dari sini kita sebagai remaja harus pandai dalam berpikir dan bersosialisasi. Beberapa cara yang dapat kita lakukan agar mental kita tetap dalam kondisi normal adalah berusaha agar aktivitas kita tetap produktif, kita sebagai remaja yang sehat masih bisa melakukan kegiatan aktif baik di sekolah maupun dilingkungan masyarakat.
Misalnya mengikuti lomba atau mengambil beasiswa yang produktif untuk diri sendiri, mengikuti organisasi-organisasi yang ada, dan mengembangkan bakat dan minat yang ada dalam diri sendiri.
Lalu Bagaimana dengan Sosial Media? Apakah Harus Off Sebagai Pengguna??
Semakin pesatnya penggunakan teknologi dan informasi di Indonesia tidak dapat kita pungkiri bahwa kita juga happy dalam bersosial media seperti bermain TikTok, Instagram, Twiter, Facebook dan banyak lagi. Kita sebagai anak muda tak bisa menyangkal bahwa “mereka” menyenangkan.
Tak sedikit dari kita berlomba-lomba memperbanyak follower, bahkan sudah banyak dari kita mempertontonkan hal yang tidak sepantaskan diperlihatkan demi sebuah “waah, viewer gue banyak sumber duit nihh”.
Tanpa disadari akan banyak mendapat hujatan-hujatan dari para “netizen Indonesia” yang katanya kalau udah ngatain bakal kenal mental.
Kenal mental? Mereka sadar bahwa mental seseorang akan terganggu tapi tetep melontarkan kata-kata kasar yang semestinya tidak pantas. Bukan hanya itu, zaman sekarang pelecehan perempuan dapat dilakukan secara online.
Hadeeh netizen Indonesia memang gak ada obat.
Eittss, oleh sebab itu kita sebagai pengguna sosial media harus bijak dalam mempertontonkan segala hal, “karena semua yang kita terima adalah buah dari segala yang kita perbuat” (quotes by Intan).
Penulis: Intan Christi
Disupervisi: Herliana Riska, SST., M.Keb
