SLEMAN, BERNAS.ID – Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman mengimbau masyarakat untuk mengawal PPKM Level 2 dengan disiplin protokol kesehatan. PPKM level 2 masih ada pembatasan-pembatasan sehingga tidak boleh lengah dengan landainya kasus konfirmasi Covid-19.
Kepala Dinas Kesehatan Sleman, Cahya Purnama mengatakan mobilitas masyarakat saat ini sudah semakin tinggi. Hal itu akan berpotensi menyebarkan virus Covid-19. “Warga luar Sleman tidak tahu sudah divaksin atau belum dan banyak masuk dengan kendaraan pribadi. Untuk itu, PPKM Level 2 harus dikawal betul,” tuturnya, Rabu (27/10/2021).
“Kalau ada 1 kasus OTG yang lolos, jangan sampai lepas ke masyarakat berbahaya. Inang kena, belum vaksin, ketemu virus, berbahaya. Bisa menjadi kluster,” imbuhnya.
Baca Juga PPKM Jawa-Bali Diperpanjang, 43 Wilayah Ini Sekarang Berstatus Level 2
Untuk itu, lanjut Cahya, kalau di aplikasi Peduli Lindungi menemukan yang hitam atau merah, harus segera dibawa ke isoter karena bisa menularkan. “Kasus yang melandai ini, kalau tidak dijaga masyarakat secara penuh, akan sulit menuju ke level 1. Untuk itu, harus betul-betul dikawal, nanti bisa repot karena akan menimbulkan gelombang ketiga,” katanya.
“Lansia dan orang dengan komorbid akan rawan kalau terjadi gelombang ketiga. Untuk itu, kita sasar vaksinasi dengan jemput bola,” imbuhnya.
Cahya juga menyampaikan situasi rumah sakit saat ini cukup melegakan. Kalau ada pasien datang dengan kondisi ringan dan tidak lagi berat seperti pneumonia. “Saya kira ini pengaruh vaksin juga. Vaksin sudah bekerja untuk menghambat Covid-19,” ucapnya.
“Saat ini, Sleman juga sudah banyak pekerja migrannya, meski sudah tersortir di pusat, harus dipantau di wilayah masing-masing,” imbuhnya.
Cahya mengatakan Dinas Kesehatan akan mengawal PPKM Level 2 dengan testing seperti yang dilakukan di PTM terbatas. “Secara kontinyu, kita akan melakukan testing lagi kalau ada kasus bisa segera ditangani agar tidak melebar,” katanya.
Selain memiliki rencana untuk melakukan testing dalam waktu dekat di sejumlah sekolah, Cahya mengatakan testing akan dilakukan di tempat wisata atau pasar. “Kita nanti akan kembangkan ke tempat wisata atau pasar,” katanya.
Data per Senin 25 Oktober 2021 untuk hunian shelter, total ada 6 pasien, yaitu 4 pasien di Asrama Haji dan 2 pasien di Rusunawa Gemawang.
“Shelter Unisa sudah tutup dan UII mau akan kita tutup,” imbuh Cahya.
Cahya memaparkan tingkat kepatuhan memakai masker di Kabupaten Sleman mencapai 95 persen. “Mencuci tangan dan hand sanitizer mencapai 93 persen. Jaga jarak mencapai 84,1 persen. Menjauhi kerumunan mencapai 89,5 persen, dan mengurangi mobilitas, 87,1 persen,” tukasnya. (jat)
