Bernas.id – Daerah Sunda membentang dari Ujung Kulon hingga ke Sungai Cipamali Brebes. Istilah sunda sudah tidak asing di telinga masyarakat Indonesia. Sunda didefinisikan sebagai sekelompok etnis atau suku dari wilayah barat pulau Jawa.
Suku Sunda adalah etnis terbesar kedua di Indonesia. Sunda memiliki arti yang bagus, putih, baik, dan cemerlang sehingga orang Sunda diyakini sebagai pribadi yang memiliki etos dan karakter baik sebagai usaha menuju kehidupan yang sehat (cageur), baik (bageur), benar (bener), terampil (singer), dan cerdas (pinter).
Ikatan keluarga bagi masyarakat Sunda memiliki peranan penting dan terikat erat sehingga nilai individu bergantung pada penilaian masyarakat. Dampaknya, terjadilah perbedaan status sosial antara kelompok elite dan masyarakat umum berdasarkan latar belakang ekonomi, pendidikan, kekuasaan, dan privilege lainnya.
Dahulu status sosial masyarakat Sunda mudah diidentifikasi melalui pakaian yang dikenakan. Namun, pada zaman modern yang didukung kebebasan berekspresi seperti saat ini pengelompokkan pakaian adat Sunda berdasarkan tingkatan status sosial dinilai tidak relevan.
Baca juga: Inilah 7 Jenis Pakaian Adat Riau Unik dan Elegan Dilihat
Daftar Isi :
Pakaian Adat Sunda dan Status Sosial
Menengok masa silam, masyarakat Sunda mengenal tiga jenis pakaian adat berdasar status sosial. Berikut ini merupakan pembagian ketiga pengguna pakaian daerah Sunda:
1. Pakaian Adat Rakyat Jelata
Pakaian adat pertama rakyat jelata laki-laki identik dengan celana longgar bersabuk, baju kurung, dan ikat kepala bernama lohen. Tak lupa, menyelempangkan kain sarung poleng dan memakai sandal tarumpah sebagai pelengkap penampilan. Sementara itu, perempuan jelata mengenakan kain panjang kebat yang dilengkapi dengan ikat pinggang, kebaya, selendang batik, dan kamisol, serta beralas kaki sandal jepit keteplek.
2. Pakaian Adat Kaum Menengah
Kedua, kaum menengah yang biasanya berprofesi sebagai pedagang atau saudagar akrab dengan baju bedahan putih, kain kebat batik, sabuk, dan ikat kepala. Tambahannya, arloji rantai emas digantungkan di saku baju untuk mengukuhkan penampilannya.
Di sisi lain, perempuan di golongan kaum menengah tampak memakai atasan kebaya beragam warna dengan kain kebat batik sebagai setelannya. Untuk menunjang penampilannya, perempuan dari kalangan menengah juga mengenakan selendang, ikat pinggang, dan alas kaki selop serta perhiasan berupa kalung, gelang, dan cincin berbahan emas atau perak.
3. Pakaian Adat Bangsawan
Ketiga, kaum bangsawan laki-laki mudah dikenal dari jas beludru dan celana panjang beludru berwarna hitam berhiaskan sulaman benang emas yang dikenakannya. Tak cukup sulaman emas, bangsawan laki-laki melengkapi penampilannya dengan sabuk emas atau benten, iket sebagai penutup kepala, dan sendal selop hitam. Di samping itu, perempuan bangsawan terbiasa memakai kebaya beludru dengan hiasan sulam emas, kain kebat bermotif rereng, selop beludru dengan manik-manik atau sulaman emas, serta ditunjang lagi dengan aksesoris dan perhiasan emas atau berlian.
Baca juga: Pakaian Adat Kalimantan Utara, Ta'a dan Sapei Sapaq’ yang Indah
Jenis Pakaian Adat Sunda
Zaman berganti, pengelompokkan pakaian Sunda berdasarkan status sosial pun tak lagi dipakai. Kini masarakat cenderung mengenal pakaian Sunda berdasarkan fungsi dan tujuannya. Setidaknya ada delapan jenis pakaian Sunda yang familiar di tengah masyarakat, yaitu Pangsi, Kebaya Sunda, Bedahan, Menak, Beskap, Pakaian Pernikahan, dan Mojang Jajaka. Masing-masing jenis pakaian tentu memiliki fungsi yang berbeda dan dikenakan untuk tujuan atau acara yang berbeda pula.
1. Pangsi

Pangsi merupakan setelan kemeja polos dan celana cingkrang yang longgar serta dipadukan dengan kulit atau ikat pinggang. Atasan Pangsi disebut dengan Baju Salontreng, yaitu baju dengan pola jahitan sederhana yang identik dengan warna hitam.
Baju Salontreng cocok dipasangkan dengan Sarung Poleng yang terselampir menyilang ke badan. Tak ketinggalan, ikat logen digunakan sebagai penutup kepala dan terompah kayu sebagai alas kaki. Pakaian khas Sunda yang terkesan simpel ini biasa digunakan untuk acara santai atau semi formal.
2. Kebaya Sunda

Kebaya Sunda tak bisa lepas dari warna-warna cerah, seperti merah muda, ungu, dan putih. Hal ini sesuai dengan kepribadian orang Sunda yang dianggap cemerlang. Ciri khas Kebaya Sunda yang membedakannya dengan kebaya dari Jawa Tengah dan Jawa Timur adalah model potongan lehernya membentuk huruf V.
Kebaya Sunda serasi dipadukan dengan Sarung Kebat atau Sinjang Bundel dengan beraneka motif khas Sunda. Setelan Kebaya Sunda layak dipakai untuk acara formal ataupun informal.
3. Baju Bedahan

Baju Bedahan adalah jas khas Sunda yang tampak seperti jas takwa dengan kerah seleher dan berkancing serta dilengkapi dengan satu saku di bagian atas dan dua saku di bagian bawah. Pada zaman dulu Baju Bedahan dijahit dari kain berwarna hitam tapi seiring perkembangan zaman Baju Bedahan pun dibuat dengan berbagai warna dan bahan.
Baju Bedahan biasanya dipakai bersamaan dengan kain batik bermacam corak. Selain itu, arloji emas yang digantungkan di saku baju menambah kesan elit pakaian ini. Saat ini Baju Bedahan sering dipakai oleh masyarakat, termasuk Gubernur dan Walikota untuk menghadiri acara formal.
Baca juga: Keunikan Rumah Adat Sumatera Utara: Ciri Khas, Nilai Filosofis
4. Menak
Menak terbuat dari bahan beludru yang dijahit membentuk jas dengan sulaman benang emas. Tampilan Menak menyuguhkan kesan mewah sehingga sering digunakan untuk acara-acara resmi. Menak sangat apik dipasangkan dengan celana hitam panjang berhiaskan lilitan jarit sepanjang pinggang sampai lutut. Kesan mewah pemakai Menak kembali ditunjang dengan aksesoris berupa penutup kepala, selop, dan benten bagi laki-laki, serta konde, bros, dan perhiasan dari emas ataupun berlian.
5. Beskap
Beskap adalah pakaian khas Sunda untuk laki-laki dan digunakan untuk acara resmi. Beskap identik dengan warna gelap dan polos, kerah tanpa lipatan, serta tekstur kain yang tebal. Keunikan Beskap tampak dari bagian depan yang dipotong tidak simetris.
Desain dari Beskap bertujuan untuk mengantisipasi pemakaian aksesoris yang cukup berat, seperti keris. Selain itu, pola kancing yang menyamping juga menambah kesan unik pakaian ini. Beskap semakin elegan ketika dipadukan dengan jarik, bendo, sendal selop, dan jam rantai berkelir emas.
Pakaian pernikahan khas Sunda yang dikenakan pengantin saat ini adalah hasil modifikasi Kebaya Sunda dengan tetap mempertahankan nilai historisnya. Biasanya atasan pakaian pernikahan untuk pengantin wanita yang berupa kebaya dibuat dari bahan brokat dengan kelir yang cerah dan kalem lalu dipadukan dengan bawahan dari kain batik bermotif Lereng Eneng Prada yang terinspirasi dari busana putri kerajaan. Sementara itu, pengantin laki-laki memakai Jas Prawengdana dengan bawahan batik.
6. Mojang
Mojang Jajaka merupakan setelan yang dipakai oleh sepasang laki-laki dan perempuan. Kebaya polos dengan bawahan kain kebat dipakai oleh pihak perempuan bersamaan dengan Karembong (selendang), aksesoris, dan Beber (ikat pinggang) serta sandal selop. Sementara itu, pihak Jajaka atau laki-laki mengenakan beskap dan celana panjang yang disertai dengan pemakaian bendo, selop, dan jam yang dijepitkan di saku bagian kiri atas. Ciri khas pakaian Mojang Jajaka adalah pakaian laki-laki dan perempuan harus memiliki warna yang senada.
Aneka ragam pakaian khas Sunda di atas adalah ukiran identitas masyarakat yang berasal dari warisan leluhur. Warisan ini ibarat sebuah karya yang menjadi pembeda (khas) dari daerah Sunda dengan daerah lainnya sehingga harus dilestarikan. Caranya, tanamkan pada diri sendiri sikap bangga memakai dan mengenalkan pakaian adat di depan publik serta menyelenggarakan pelatihan dan event khusus pakaian adat.
Baca juga: Rumah Adat Bali: Ciri Khas, Sejarah, dan Filosofi
