Bernas.id – Pakaian adat Papua merupakan salah satu kekayaan Indonesia dari bagian timur. Papua menyimpan bayak pakaian adat, selain Koteka yang harus lebih dikealkan lagi ke masyarakat luas.
Ciri khas dari pakaian adat Papua adalah mampu mempertahankan jati diri di tengah gempuran modernisasi serta bentuk atau model pakaian antara laki-laki dan perempuan yang terlihat serupa. Keunikan pakaian adat Papua memiliki daya tari kersendiri.
Baca juga: 8 Jenis Pakaian Adat Sumatera Utara Berdasarkan Suku yang Ada
Daftar Isi :
1. Koteka

Kata Koteka sebenarnya memiliki arti pakaian. Bahasa ini berasal dari suku yang mendiami Painai, salah satu daerah di Papua. Koteka yang dikenal sebagai pakaian tradisional masyarakat Papua sejak lama ternyata memiliki nama kedaerahan lain, yaitu holim, hilon, harim, atau bobbe.
Koteka adalah pakaian adat Papua dengan bentuk unik yang diperuntukkan bagi laki-laki. Pemakaian Koteka dimaksudkan untuk menutupi sekaligus melindungi bagian kemaluan laki-laki.
Proses Pembuatan Koteka
Bahan dasar Koteka berasal dari kulit labu air atau labu cina (kalabasah) yang biji dan dagingnya sudah dibersihkan. Labu yang diproses menjadi Koteka harus berusia tua sehingga tekstur kulitnya setelah dikeringan tidak mudah rapuh.
Setelah mengering, Koteka dipasangkan ke pinggang dengan ujung yang runcing menghadap ke atas dan diikat melingkari pinggang dengan tali berwarna hitam. Pada ujung Koteka yang meruncing dihiasi bulu burung atau ayam hutan.
Koteka dan Maknanya
Penggunaan Koteka bagi setiap laki-laki di Papua menyiratkan makna tertentu. Namun, secara umum Koteka mambawa nilai kebersamaan, kepemimpinan, kebanggaan, kebesaran dan nilai kebaikan hidup bagi pemakaianya. Cara pemakaian Koteka juga dapat mewakili keadaan pemakai. Koteka yang dipakai tegak lurus menunjukkan bahwa pemakai adalah perjaka yang belum pernah berhubunganbadan.
Koteka yang dipakai miring ke kanan menunjukkan status sosial kebangsawanan yang tinggi dari pemakai. Koteka yang dipakai miring ke kiri menunjukkan bahwa pemakaianya keturunan panglima perang atau laki-laki dewasa golongan menengah. Selain itu, ukuran Koteka yang lebih besar melambangkan kedudukan adat yang lebih tinggi.
Sebaran Pemakai Koteka
Di Papua terdapat variasi ukuran Koteka, yaitu Koteka kecil atau halus dan Koteka pendek besar. Ukuran Koteka kecil dijumpai di daerah Lembah Baliem, khususnya di Kecamatan Wamena Kota, Kecamatan Kurulu, dan Kecamatan Asologaima.
Sementara itu, Koteka pendek besar dikenakan oleh sebagaian besar masyarakat Dani, sedangkan Koteka besar terdapat di Ilaga, Yalimo, Oholim, Welarak, Apalahapsili, Tiom, dan Welarak. Koteka adalah salah satu hal yang penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Papua.
Baca juga: 6 Pakaian Adat Daerah Sunda, Mengulik Sisi Uniknya
2. Rok Rumbai

Keunikan Rok Rumbai
Rok Rumbai adalah pakaian khas yang dipakai perempuan Papua. Meski begitu, terkadang laki-laki Papua juga memakai rok rumbai sebagai bawahan dan atasannya bertelanjang dada.
Rok Rumbai terbuat dari daun sagu kering yang dirajut membentuk rok. Sementara itu, penutup kepala sebagai pelengkap pemakaian Rok Rumbai dibuat dari rambut ijuk, anyaman daun sagu, dan bulu kasuari yang dihias sedemikian rupa.
Rok Rumbai dapat dipakai sebagai bawahan serta bawahan sekaligus atasan. Rok Rumbai yang digunakan sebagai bawahan dapat disetelkan dengan baju kurung khas Papua atau akesoris dan lukisan yang digunakan untuk menghias tubuh bagian atas.
Lazimnya hiasan yang dipilih bermotif flora dan fauna dan digambar menggunakan tinta alami. Di sisi lain, penggunaan Rok Rumbai sebagai bawahan sekalius atasan semakin unik dengan hiasan kepala dari bulu kasuari.
3. Baju Kurung

Keindahan Baju Kurung Papua
Baju Kurung Papua merupakan baju berbahan beludru yang dipadukan dengan rok rumbai. Baju Kurung disebut pula sebagai pakaian adat modern Papua karena modelnya sudah dipengaruhi oleh budaya lain di luar Papua. Biasanya Baju Kurung dihiasi dengan ornamen berupa hiasan rumbai bulu di bagian leher, lengan, atau pinggang. Baju Kurung sangat apik dipadukan dengan rok rumbai sebagai bawahannya.
Penampilan perempuan dengan Baju Kurung Papua dapat dipercantik lagi dengan tambahan aksesoris berupa gelang dan kalung. Gelang dan kalung yang menunjang penampilan perempuan berbaju kurung bukan terbuat dari emas atau perak, melainkan dibuat dari biji-bijian yang dirangkain dengan benang. Selanjutnya, penutup kepala dari bulu kasuari tersemat elegan di kepala untuk menambah kesan anggun dan unik.
Baca juga: Rumah Adat Bali: Ciri Khas, Sejarah, dan Filosofi
4. Baju Kain Rumput

Proses pembuatan Baju Kain Rumput
Proses pembuatan Baju Kain Rumput terbilang rumit. Baju Kain Rumput terbuat dari daun sagu yang dipetik dari pucuknya saat air laut sedang pasang. Setelah dipetik, daun sagu direndam lalu dikeringkan. Kemudian, serat daun sagu yang telah kering dipintal atau dianyam hingga membentuk baju dan dipasangkan karet atau tali yang terbuat dari rumput kering pada bagian pinggang. Proses penganyaman Baju Kain Rumput hanya menggunakan alat tradisional berupa kayu sepanjang satu meter yang berfungsi untuk mengaitkan ujung-ujung tali.
Baca juga: Keunikan 5 Rumah Adat dari Provinsi Sulawesi Selatan, Tiap Suka Punya Jenis dan Nama Tersendiri
5. Pakaian Adat Sali

Pengguna Pakaian Adat Sali
Pakaian Adat Sali khusus dibuat untuk dikenakan oleh perempuan yang masih lajang atau belum menikah. Perempuan yang sudah menikah dan tidak lajang tidak diperkenankan memakai Pakaian Adat Sali lagi.
Pakaian Adat Sali adalah pakaian adat Papua yang bahannya berasal dari pohon khusus. Pohon khusus yang dipilih untuk membuat Pakaian Adat Sali harus memiliki kulit dengan warna cokelat alami. Warna cokelat ini penting dan dibutuhkan karena Pakaian Adat Sali identim dengan warna cokelat yang sempurna, menarik, dan bagus.
Baca juga: Rumah Adat Bali: Ciri Khas, Sejarah, dan Filosofi
