YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Setelah sempat gagal digelar di Jogja, 2020 lalu karena pandemi COVID-19 yang tak urung selesai, Temu Karya Taman Budaya Se-Indonesia akhirnya kembali digelar tahun ini.
Mengambil tema “Pesona Ekpresi Seni di Tengah Pandemi COVID-19, kegiatan silaturahmi dan komunikasi antarpelaku seni dan pengelola taman budaya se-Indonesia kali ini digelar di Bandar Lampung, 16-18 November 2021 mendatang.
Kepala Taman Budaya Yogyakarta (TBY) Diah Tutuko Suryandaru, mengatakan meski sejumlah kegiatan seni sempat berhenti karena pandemi COVID-19 dan penerapan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat, namun hal itu tidak membuat pihaknya berhenti beraktivitas.
Salah satunya adalah dengan tetap mempersiapkan diri untuk menghadapi kegiatan tahunan temu karya taman budaya. TBY tetap mempersiapkan sejumlah karya yang akan ditampilkan dalam kegiatan tersebut.
“Karena masih dalam masa pandemi, tentu persiapannya berbeda. Format penyajian karya juga berbeda,” kata Diah, Minggu (7/11/2021).
Ia menjelaskan, selain menampilkan empat karya lukis yang diseleksi, TBY juga akan menampilkan tari kreasi baru secara daring berjudul “The Colour of Yogyakarta”. Tarian karya Satriyo Handriyatno ini telah dikemas dalam bentuk materi audio visual selama sepuluh menit.
Baca juga: Pertunjukan Budaya Tradisional Disajikan TBY Secara Daring Akhir Maret
Baca juga: Buku Profil TBY Dihadirkan Untuk Jadi Jendela Bagi Masyarakat
“Untuk penarinya ada sekitar 12 penari. Proses pembuatan materi telah dilakukan dan siap kirim. Kami melibatkan beberapa pihak dalam penataan musik dan juga busananya,” sambung Kepala Seksi Penyajian dan Pengembangan Seni Budaya TBY Budi Supardi.
Menurut dia, tari kreasi baru berjudul The Colour of Yogyakarta tersebut akan mengangkat berbagai kesenian rakyat yang berbeda di antara tiap wilayah. Dari keberagaman itu kemudian dihimpun menjadi spirit budaya rakyat. Selain itu, dalam tari tersebut juga akan digambarkan mengenai keberadaan sumbu filosofis Yogyakarta.
“Kemasannya dalam sebuah sinematografi. Itulah kenapa dinamakan The Colour of Yogyakarta,” ungkap Budi.
Ia menambahkan, selain menampilkan dan mengapresiasi karya yang dikirimkan oleh masing-masing taman budaya, kegiatan temu karya juga digunakan sebagai ajang silaturahmi dan membahas mengenai eksistensi taman budaya dan organisasi yang menaunginya.
“Karena kebetulan, pada temu budaya kali ini juga akan dilakukan pemilihan pengurus baru [organisasi yang membidangi taman budaya],” ungkap Budi. (den)
