BANTUL, BERNAS.ID – Kekhawatiran musnahnya aksara Jawa membuat para penuturnya mencari cara pelestariannya. Kampanye penggunaan aksara Jawa digiatkan dengan berbagai bentuk. Salah satu caranya dengan membuat Taman Aksara Kampung Aksara Pacibita di Payak Cilik 01, Srimulyo, Piyungan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Taman yang diberi nama Pacibita itu menjadi wahana bagi masyarakat untuk belajar dan praktik menulis dan membaca aksara Jawa. “Taman di mana kita bisa melihat aksara Jawa di setiap sudutnya dan di situ juga terdapat metode cepat menghafal aksaranya, sehingga masyarakat bisa bermain sekaligus belajar aksara. Karena di taman aksara juga didukung keindahan alam sehingga membuat nyaman dan kita berharap bisa menjadi pusat belajar aksara Jawa, sehingga bisa memberantas buta aksara,” kata Ketua Taman Aksara Pacibita, Sukadi, Senin (13/11/2021).
Baca Juga Unik, Pegiat Aksara Jawa di Jogja Justru Bukan Orang Jawa
Ia menyebut, dengan gerakan seperti itu, masyarakat Jawa bisa lebih njawani karena marwah suatu bangsa terdapat pada aksaranya. Selain itu juga dalam aksara Jawa mengandung filosofi kehidupan masyarakat yang sangat luhur sehingga dengan belajar aksara Jawa akan membentuk pribadi yang baik, bertatakrama dan menjunjung tinggi adat Jawa yang penuh kesantunan.
“Kami juga memimpikan kelak bisa melihat di setiap baliho dan produk masyarakat Jawa bisa bertuliskan aksara Jawa, sehingga kepercayaan diri kita akan tumbuh dan bangga dengan aksaranya sendiri. Itu yang memotifasi kita membuat taman aksara,” kata Sukadi.
Komunitas Kampung Aksara Pacibita adalah komunitas para penggerak dan pegiat aksara Jawa yang berlokasi di Kawasan Padukuhan Payak Cilik RT 01 dan Padukuhan Bintaran Wetan 06, Kalurahan Srimulyo, Kapanewon Piyungan, Bantul. Komunitas Ini berdiri pada 3 Maret 2020 atas inisiatif dari beberapa pegiat aksara Jawa di wilayah ini untuk menyemarakkan kampung mereka dengan aksara Jawa. Salah satu yang dilakukan adalah membuat papan nama Kepala Keluarga di setiap rumah di lingkungan kedua RT tersebut.
Kegiatan terus berlanjut dengan mengadakan pelatihan-pelatihan aksara Jawa untuk internal komunitas dan anak-anak. Pada Maret 2021 mulai menerbitkan buletin Jum'at “Mataraman” beraksara Jawa dan disebarluaskan di beberapa masjid di DIY. Penerbitan buletin dimaksudkan sebagai upaya mendorong masyarakat untuk kembali menengok eksistensi aksara Jawa dan memanfaatkannya dalam tradisi membaca dan menulis.
Atas dukungan Dinas Kebudayaan, pada pertengahan tahun 2021, Kampung Aksara Pacibita menerbitkan buletin “Kampung Aksara” dan buletin Jumat “Mataraman” mulai Juli-Oktober dan diedarkan di seluruh DIY, menjangkau 80 Masjid dan 110 Kalurahan.
Kampung Aksara Pacibita bertujuan melestarikan aksara Jawa sebagai tradisi kepenulisan masyarakat. Kegiatannya antara lain melakukan digitalisasi naskah-naskah beraksara Jawa ke dalam bentuk teks agar mudah diakses oleh publik menyelenggarakan pelatihan-pelatihan tata tulis aksara Jawa kepada masyarakat dewasa dan anak-anak, memanfaatkan aksara Jawa untuk keperluan komunikasi, publikasi dan layanan umum di ranah sosial.
Taman Aksara Pacibita dilengkapi dengan 4 buah gazebo untuk keperluan istirahat, makan dan minum para pengunjung. Ada ruang pelatihan berbentuk limasan ukuran 4 x 6 meter, dapur, langgar (musala), pendapa dan fasilitas kamar mandi. Juga ada homestay bagi yang ingin menginap serta ada jaringan internet.
Baca Juga Kongres Aksara Jawa Digelar Lagi Setelah Tahun 1922
Menurut Akhmad Fikri, inisiator dan pembina Kampung Aksara Pacibita, upaya ini merupakan visi dan juga ambisi sebagai pusat pelatihan dalam pemberantasan buta aksara Jawa agar generasi muda khususnya semakin mencintai warisan budaya mereka.
“Aksara Jawa adalah ruh bagaimana menemukan identitas dan masa lalu kita yang gemilang. Ia menjadi anak panah yang melesat kencang menembus kesadaran kita dalam menghadapi tantangan modernitas dan revolusi digital,” kata Ahmad Fikri.
Baginya, sangat berbahaya jika kaum muda tidak mampu membaca aksara Jawa. Menurutnya, bisa saja aksara Jawa ini hilang dan musnah tinggal sejarah jika tidak ada upaya melestarikannya. “Aksara Jawa harus digunakan masif pada ranah kehidupan sosial,” kata Fikri.
Di kampung Aksara itu, lanjut Fikri, kaum muda akan memperoleh pelatihan-pelatihan pembelajaran aksara Jawa. Meskipun di sekolah dasar hingga menengah telah dipelajari, tapi kebanyakan mereka sudah lupa karena aksara Jawa tidak digunakan dalam kehidupan sehari-hari termasuk di sosial media. “Harapannya, masyarakat Jawa tak kehilangan kejawaan mereka. Ini juga merupakan pengejawantahan atas pencanangan Yogyakarta sebagai Kota Hanacara, Aksara Jawa Hanjayeng Bawana,” tuturnya.
Dian Lakshmi Pratiwi, Kepala Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengapresiasi adanya Taman Aksara apalagi lokasinya terletak Situs Payak. “Kami mengapresiasi kerja keras semua pihak yang secara mandiri dan berinisiatif mewujudkan Taman Aksara,” katanya.
“Saya berharap dengan adanya Taman Aksara ini, bahasa Jawa lebih membumi, semakin lazim, dan berkembang. Aksara Jawa tidak hanya menjadi dekorarif semata, tapi kita bisa mengamalkan nilai-nilai filosofinya. Nilai itu bisa kita implementasikan dalam perilakunya kita sehingga menjadi identitas dan jati diri,” imbuhnya.
Dian pun berharap Taman Aksara bisa menjadi tempat inspirasi dan tempat pembelajaran kelurahan lain. “Semoga ke depannya, kita terus dapat bersinergi ke depan untuk melestarikan Aksara Jawa,” tukasnya. (jat)
