BERNAS.ID – Dalam buku 7C's Leadership Pyramid for Hospitality Industry (Swabawa. Ketut, Percetakan Gramedia Jkt, 2019) saya mengangkat dan memperkenalkan salah satu motivasi : CHANGE IS CHANCE… ketika seorang pemimpin memasuki fungsi pengawasan yang diimprovisasi dengan cognitive skill : curiosity.
Dan melihat fenomena pada pandemi Covid-19 yang telah melanda dunia selama 2 tahun ini (note: buku saya ditulis dalam rangka merespon fenomena VUCA dan Industrial Revolution 4.0 saat itu), konsep chanGe is chanCe ini semakin kuat dan banyak dijalankan, bahkan sebagai exit and winning strategy di tengah lesunya (bahkan mati suri) existing activities.
Sehingga disrupsi, transformasi dan shifting (strategi dalam IR 4.0 oleh Prof Renald Kasali) menjadi lanskap baru bagi wajah perekonomian dan bisnis tak terkecuali industri pariwisata.
Strategi inklusif yang dahulu dikenal “katrok” dan tidak mengikuti jaman tiba2 naik daun dan menepis tindakan “ekslusif” yang sempat menjadi kebanggaan prestige beberapa kalangan pengusaha. Kolaborasi dan sinergitas dalam pemasaran, penjualan, promosi, penyediaan produk, operasional, asosiasi/jejaring dan sebagainya.
Bagaimana dengan Pariwisata pada 2022 Nanti?
1. #Rethinking_Tourism
Bagaimana setiap stakeholder pariwisata dapat berperan secara kontributif untuk menguatkan positioning industri ini, bahwa industri pariwisata merupakan industri yang mampu sebagai lokomotor pergerakan ekonomi wilayah (desa/kab/kota/prov/negara), selain sebagai industri pemersatu antar bangsa yang universal dan harmonisasi peradaban dunia.
Semua stakeholder pariwisata harus solid dan sinergitas tinggi dalam meyakinkan dunia, bahwa industri pariwisata merupakan sektor lokomotor sekaligus berfungsi sebagai lintas sektoral industry yang mampu menarik gerbong-gerbong industri lainnya di luar pariwisata (perdagangan, pendidikan, kesehatan, pertanian, maritim, dan lainnya ke dalam industri pariwisata).
2. #Community_Based_Tourism
Pertumbuhan inklusif melibatkan lingkungan sekitar. Promosi wisata harus dimulai dari destinasi beserta segala lapisan di dalamnya, bukan dari produk wisatanya. Hal ini untuk menarik minat calon wisatawan untuk “melihat hal baru” ketika berwisata ke suatu wilayah.
Melalui CBT juga dapat mengakselerasi kondusifitas dan destination readiness seiring tahapan reaktivasi destinasi paska pandemi yang membutuhkan partisipasi masyarakat di destinasi wisata.
Desa Wisata merupakan salah satu bentuk pembangunan kepariwisataan yang berkualitas, dan berkelanjutan skala mikro dengan aktulisasi konsep CBT dimana keterlibatan masyarakat di desa sangat mendominasi, serta dapat bertumbuh dengan baik.
3. #N_E_W_A_tourism
Setiap masa ada trend nya dan setiap trend lahir dari berbagai pertimbangan dan proses dinamika seiring shifting, disruption, kemajuan teknologi dan lainnya. MICE tourism, Sport tourism Shopping tourism, Medical tourism bisa menjadi trend atau karakteristik sebagai USP sebuah destinasi.
Perubahan perilaku manusia selama pandemi Covid-19 berdampak pada gaya pola hidup bersih dan sehat, selain kreatif dan inovatif dari segi konten wisata. Ditambah lagi dengan penguatan digitalisasi seiring kemajuan teknologi dalam revolusi industri, maka semesta ini serasa lebih sempit untuk dikunjungi karena magnet promosi di dunia internet of things (IOT) ini.
Aksesabilitas bukan lagi sebatas fisik, namun sudah lintas maya. Melihat hal tersebut, akibat pandemi Covid-19 selama ini akan melahirkan kebangkitan dan juga kejayaan Wisata alam (Nature), Wisata konservasi (Eco), Wisata kebugaran (Wellness) dan Wisata petualangan (Adventure) akan menjadi trend mendunia pada industri kepariwisataan paska pandemi ini.
Semoga di tengah masa sulit seperti sekarang, para insan pariwisata mampu meraih peluang melalui ide kreatif dan inovatif dalam semangat adaptasi dan kolaborasi.
(Penulis : Ketut Swabawa, Ketua Umum DPP Association of Hospitality Leaders Indonesia/AHLI)