Bernas.id – Media sosial sempat dihebohkan oleh penemuan alat pengubah air menjadi bahan bakar kendaraan bermotor. Penemuan tersebut dilakukan oleh warga Cirebon, Jawa Barat, yang bernama Aryanto Misel.
Alat tersebut diberi nama oleh sang penemu dengan sebutan Nikuba, yang merupakan gabungan dari dua kata “Niki” dan “Banyu”. Dalam bahasa Jawa, dua kata tersebut bermakna ini Air.
Dalam unggahan di akun Instagramnya, Misel mengaku bahwa Nikuba buatannya bisa mengubah air menjadi energi mesin dalam (Internal Combustion Engine, ICE) di mobil atau motor. Bahkan, alat Nikuba tersebut telah diuji di jalan Tanjakan di Cililin, Bandung, oleh Anggota TNI Kodam Siliwangi, dengan 1 cc air bisa menempuh jarak hingga 40 Km dengan tenaga super maksimal.
Apakah Air bisa Menjadi Bahan Bakar?
Air sendiri tersusun dari dua molekul Hidrogen dan satu molekul Oksigen (H20). Setelah mengalami proses elektrolisis, maka H2O akan berubah wujud menjadi HHO atau yang dikenal dengan nama oksihidrogen.
Dalam Webinar bertajuk “Serial ITB untuk Bangsa”, disebutkan oleh Prof Tri YusWidjajanto bahwa HHO juga tidak dapat menggantikan Bensin karena produksi HHO terbatas oleh pasokan listrik dari accu. Kemampuan maksimal dari accu hanya bisa memproduksi 0,7% energi yang diperlukan sepeda motor.
Jika produksi HHO ditingkatkan, maka accu akan “tekor” sehingga sepeda motor akan “mogok” karena tidak ada pasokan listrik ke busi. Meski demikian, HHO hanya dapat berfungsi sebagai “suplemen” tetapi andil terhadap efisiensi kemungkinan akan rendah saja.
Adanya produk reaksi berupa H2O dan adanya uap air yang terikut dalam HHO dapat memunculkan bahaya korosi pada komponen ruang bakar dan terbentuknya emulsi minyak lumas yang akan meningkatkan laju keausan komponen transmisi daya. Jadi, perlu dilakukan penelitian lengkap jangka panjang (minimal 3x periode ganti minyak lumas), sebelum menggunakan NiKuBa.
Hal senada juga diungkapkan oleh Wai Cheng, seorang profesor teknik mesin dan direktur Lab Otomotif Sloan, memutuskan ikatan molekul air akan membutuhkan lebih banyak energi. Sebab, molekul air sangat stabil sehingga dibutuhkan energi besar untuk memisahkan atomnya.
Baca juga: Viral Nikuba, Bisakah Air Menjadi Bahan Bakar?
Mengenal HHO
Oksihidrogen (HHO) atau Brown Gas ditemukan Yull Brown tahun 1974. Dia mengklaim telah menemukan cara untuk memisahkan molekul hidrogen dan oksigen dalam air menggunakan listrik, sehingga memungkinkan dia untuk menggunakan dua elemen untuk hal-hal seperti pengelasan atau bahan bakar mobil.
Dalam riset yang diterbitkan Journal of Mechanical Engineering and Mechatronics, disebutkan bahwa Hydroxy Gas (HHO) telah dikenal sebagai sumber energi alternatif yang efisien. HHO yang dianggap sebagai alternatif pengganti bahan bakar fosil atau dicampur dengan bahan bakar lain dalam rasio yang berbeda.
Metode yang paling dikenal untuk menghasilkan gas oksi-hidrogen (HHO) adalah dengan metode elektrolisis. Elektrolisis adalah dekomposisi kimia yang dihasilkan dengan melewatkan arus listrik melalui cairan atau larutan yang mengandung ion.
Pada tahun 2007, Departemen Perhubungan AS mengeluarkan laporan akhir yang menguraikan penggunaan bahan bakar hidrogen dalam kendaraan komersial. Laporan tersebut menyatakan penggunaan sistem injeksi hidrogen, pada dasarnya sistem HHO, dapat digunakan untuk meningkatkan jarak tempuh dan mengurangi emisi pada kendaraan diesel komersial. Laporan tersebut seolah menjadi jawaban mengenai pertanyaan air sebagai bahan bakar masa depan.
Namun, lagi-lagi para ilmuwan membuktikan bahwa dibutuhkan lebih banyak energi untuk menciptakan gas tersebut. Para kritikus juga mendesak pihak-pihak yang berkepentingan untuk melihat berapa banyak gas yang dibutuhkan untuk menggerakkan mobil, dibandingkan dengan berapa banyak oxyhydrogen yang diperlukan untuk mengganti jumlah bahan bakar yang setara. Lebih penting lagi, alternator mobil tidak dapat menghasilkan arus untuk menghasilkan HHO sebanyak itu.
