BANTUL, BERNAS.ID- Event rutin Minggu Pon bertajuk “Wisata Numpak Gerobak Jodogkarta” di lapangan Jodog Bantul Yogyakarta menarik perhatian Komunitas Siswa Peneliti dari SMAN 1 Bambanglipuro, Zambarecom. Inilah yang menjadi fokus penelitian siswa SMAN 1 Bambanglipuro Bantul Yogyakarta.
Baca Juga Festival Lereng Merapi Tanamkan Pendidikan Karakter
Penelitian tersebut pun berhasil memikat para dewan juri sehingga para peneliti, Aditama Bayu Saputra, Ridwan Yoga Saputra, dengan pembimbing penelitian, Nuri Rahmawati, lolos final Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) tingkat nasional yang diselenggarakan Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Gerobak sapi semula merupakan alat angkut tradisional, hampir punah dan dipandang sebelah mata di era modern. Namun, kini merekonstruksi diri hingga bernilai istimewa lantaran statusnya sebagai warisan budaya yang telah ditetapkan oleh UNESCO serta inovasinya menjadi paket wisata.
Transformasi gerobak sapi dari sekedar alat transportasi memiliki daya tarik pada sektor pariwisata dengan sajian atraksi budaya yang unik dan otentik karena menjadi simbol eksklusif dari warisan budaya yang hidup.
Penelitian yang berlatar sejarah dan budaya ini disambut baik oleh ketua Paguyuban Gerobak Sapi Bantul, Isdiyono. “Kepedulian remaja terhadap warisan budaya seperti inilah yang kami harapkan, supaya gerobak sapi tetap akan lestari,” ucapnya.
Ucapan selamat dan apresiasi atas capaian ini juga datang dari Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih. “Semoga dengan penelitin ini akan dapat mendukung pelestrian gerobak sapi, serta mendukung pengembangan sektor pariwisata di Kabupaten Bantul,” katanya.
Baca Juga Dharma Wanita Sleman Salurkan Bantuan Air Bersih Di Tangisan
Aditama dan Ridwan sebagai peneliti menerangkan hasil penelitian, yaitu sekarang gerobak sapi telah menjadi ikon penting dalam menarik wisatawan, menciptakan peluang ekonomi bagi masyarakat setempat, dan mempromosikan warisan budaya Bantul.
“Dengan demikian, gerobak sapi bukan hanya sarana transportasi tradisional, tetapi juga sarana untuk menjelajahi dan memahami sejarah, seni rakyat, dan nilai-nilai tradisional masyarakat Bantul,” tutup Aditama. (Jat)
