BERNAS.ID – Bayangkan seorang bayi yang baru saja lahir, namun berjuang untuk bertahan karena ia terlahir dengan berat yang jauh di bawah normal. Ini adalah kenyataan yang dihadapi oleh 15-20% bayi di seluruh dunia, terutama di negara-negara berkembang.
Kondisi ini dikenal sebagai Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), sebuah istilah medis untuk bayi yang lahir dengan berat kurang dari 2.500 gram. Penyebabnya bisa bermacam-macam, mulai dari faktor genetik, nutrisi ibu, hingga komplikasi kehamilan.
Menariknya, bukan hanya faktor medis yang berperan. Gaya hidup ibu, seperti merokok selama kehamilan, dan faktor sosioekonomi, seperti akses terhadap perawatan kehamilan yang baik, juga mempengaruhi risiko BBLR. Bayi dengan BBLR seringkali mengalami kesulitan dalam berbagai aspek, seperti menjaga suhu tubuh dan gula darah, serta rentan terhadap infeksi.
Pemeriksaan rutin selama kehamilan sangat penting untuk mendiagnosis dan memonitor kondisi ini. Teknologi seperti USG prenatal dan amniosentesis membantu dokter dalam mengevaluasi kesehatan janin.
Baca Juga : Totalitas Bestie Digadang-gadang Turunkan Kematian Ibu, Bayi, dan Anak di Sleman
Namun, ketika seorang bayi terlahir dengan BBLR, perawatannya menjadi kompleks. Bayi tersebut memerlukan perawatan intensif, seperti berada dalam inkubator dan mungkin memerlukan ventilasi mekanik.
Baca Juga : 5 Makanan yang Harus Dihindari Ibu Hamil Demi Kesehatan dan Perkembangan Janin
Untuk masa depan, ilmu pengetahuan menjanjikan solusi yang lebih inovatif. Terapi genetik, misalnya, mungkin dapat memperbaiki faktor genetik yang menyebabkan BBLR. Kemajuan dalam teknologi pemantauan janin dan terapi berbasis sel punca juga diharapkan dapat mengurangi dampak dari kondisi ini.
Yang paling penting, penelitian dan inovasi terus berusaha mengurangi insidensi BBLR. Pengembangan nutrisi khusus untuk neonatal, penggunaan kecerdasan buatan untuk memprediksi dan mengelola BBLR, serta terapi biomolekuler yang dapat meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan neonatal, adalah beberapa contoh inisiatif yang sedang berlangsung.
BBLR bukan hanya masalah medis, tetapi juga sebuah tantangan sosial yang membutuhkan perhatian dan sumber daya yang cukup. Dengan terus meneliti dan mengembangkan solusi inovatif, kita dapat memberikan kesempatan yang lebih baik bagi bayi-bayi ini untuk tumbuh dan berkembang menjadi individu yang sehat.
(Penulis: Dokter Dito Anurogo, M.Sc., Ph.D.(Cand.) adalah dosen tetap di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Makassar; kandidat doktor dari IPCTRM College of Medicine Taipei Medical University, Taiwan; Ketua Komisi Kesehatan Ditlitka PPI Dunia, penulis puluhan buku, reviewer jurnal nasional dan Internasional, trainer bersertifikasi BNSP)
