YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Sejarah Waria Yogyakarta: Kisah Ketahanan Komunitas Terpinggir adalah judul sebuah buku yang dirasa mampu membuka hati pembacanya akan pentingnya empati, pengertian, dan penerimaan terhadap keberagaman gender, serta menghadirkan suara yang lama terpinggirkan untuk didengar dan dipahami.
Ini adalah sebuah buku yang disusun dengan sederhana dan mudah dibaca untuk menggambarkan secara mendalam tentang kekuatan manusia untuk menemukan dan merangkul kebenaran diri mereka sendiri.
Hal itu menjadi konklusi dalam launching dan diskusi buku “Sejarah Waria Yogyakarta: Kisah Ketahanan Komunitas Terpinggir” karya Masthuriyah Sa’dan yang dilaksanakan oleh Yayasan Kebaya (Keluarga Besar Waria Yogyakarta) bekerjasama dengan Prodi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga, juga Prodi Humanitas Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW). Kegiatan ini dilaksanakan Kamis, 05 September 2024 di kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Masthuriyah Sa’dan selaku penulis buku menyampaikan, buku kelimanya ini ditulis karena ia merasa menjadi bagian dari teman-teman waria. Ia mengaku tulisannya adalah bentuk advokasi kepada mereka yang tidak mampu bersuara.
“Saya turut berempati akan apa yang mereka rasakan,” kata dia.
Baca juga: Ada Pesantren Waria? Ini Buktinya
Hingga kini, buku-buku tentang waria atau kelompok LGBTQ itu sangat sedikit. Karena itu pihaknya melakukan wawancara mendalam kepada 19 informan dan 17 waria, dan melakukan FGD selama 3 kali, serta 4 kali observasi lapangan, hingga menghasilkan buku. Ini sebagai bentuk bagian dari kampanye perlindungan waria melalui media literasi.
“Mungkin sekarang tidak didengar orang, tapi 10 tahun lagi siapa yang tahu,” kata dia.
Baca juga: Begini Aksi Lucu Waria Tangkap Jambret Sampai Nangis
Pembicara lain, Ignatius Praptoraharjo, Ph.D dari Pusat Penelitian HIV AIDS Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya menjelaskan, buku yang baru saja diluncurkan tersebut mudah untuk dipahami. Secara terbuka, buku itu mampu mengungkap berbagai konflik dalam komunitas waria.
“Ini menjadi buku sejarah yang terbuka, membantu kita memahami gerakan waria secara umum,” kata dia, sambil menyebut pembaca akan bisa memahami bahwa waria tidak semata-mata hidup dengan berjualan seks.
Dosen psikologi Universitas Katolik Soegijapranata Semarang Dr. Lita Widyo Hastuti, S.Psi, Msi menambahkan, buku ini adalah data yang sangat berharga dan bisa dijadikan rujukan untuk riset selanjutnya. Ada tiga bagian penting yang dipaparkan dari buku ini, yakni tentang survival (bertahan hidup), pengalaman psikologis, dan kebutuhan manusiawi.
“Mereka ini luar biasa karena, di balik kerentanannya yang berlapis, bisa tetap maju dan berkembang,” ujarnya. (den)
