YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta menggelar simulasi mitigasi bencana gempa bumi dengan tema “Perempuan Tangguh Tanggap Bencana”, Kamis (7/11/2024) yang dilaksanakan secara serentak di 17 asrama dan diikuti 1.400 orang.
Unik Rasyidah, M.Pd., Direktur Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta menyampaikan, populasi perempuan sejumlah 51 persen dari jumlah penduduk layak dibekali kemampuan untuk menanggulangi bencana.
“Setidaknya bagi siswi Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah dan orang terdekat jika terjadi bencana,” ujar Unik disela acara.
Karena Yogyakarta sebagai daerah dengan potensi bencana yang bisa datang setiap saat, menurut Unik Rasyidah kaum perempuan harus dibekali dengan keterampilan dasar penyelamatan dan penanggulangan jika terjadi bencana.
Baca Juga : Status Siaga Gunung Merapi Diperpanjang, Sleman Simulasi Mitigasi Bencana
“Siswi Mu’allimaat diharapkan menjadi agen penanggulangan yang mengajarkan pengetahuan dasar bencana dan penanggulangannya sampai dengan membantu petugas jika terjadi bencana,” terangnya.
Unik menambahkan, pengetahuan mitigasi bencana sangat penting, hal ini karena potensi perempuan secara fisik dan mental juga sama dengan laki-laki, bahkan melebihinya.
“Perempuan tangguh tanggap bencana sebagai upaya memperkuat mitigasi bencana dengan melibatkan masyarakat dan kelompok masyarakat. Dengan pengetahuan dasar itu nantinya bisa membantu siswi Mu’allimaat dan masyarakat sekitar jika terjadi darurat bencana atau harus menolong korban dan membantu petugas di lapangan,” jelasnya.
Baca Juga : Merapi Siaga Level 3, Komisi A DPRD DIY Dorong Pemda Perkuat Mitigasi Bencana
Simulasi dimulai dengan tanda bahaya saat terjadi bencana. Siswi Mu’allimaat kemudian dikumpulkan untuk membagi diri dalam beberapa kelompok yang bertugas menyisir daerah bencana untuk menemukan korban. Kelompok lainnya menyiapkan area pertolongan dan peralatan P3K.
Selama kegiatan berlangsung terlihat semua siswi Mu’allimaat saling bekerjasama dalam situasi penuh tekanan dan memastikan setiap orang melakukan upaya penyelamatan. Baru kemudian, jika terdapat korban luka maupun lainnya, kelompok yang berhasil mengevakuasi korban menyerahkan penanganan kepada kelompok lainnya.
Di area pertolongan terlihat kelompok mendampingi petugas medis dan tenaga lapangan untuk mulai mengidentifikasi korban. Korban luka ringan langsung diobati dan korban luka parah dibawa ke rumah sakit.
Beberapa ambulan juga dilibatkan dalam simulasi dan mulai mengangkut korban. Dalam simulasi bencana tersebut tergambar kecekatan dan keterampilan para siswi Mu’allimaat dalam menangani korban yang dilakukan dalam situasi mendekati peristiwa sebenarnya, bahkan dalam detail mengatur lalu lintas ambulan dalam kondisi darurat. (cdr)
