YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2024 akhirnya digelar. Mengangkat tema “Metanoia” yang menggambarkan transformasi sinema Asia dalam menghadapi tantangan global, JAFF 2024 dimulai pada malam hari ini (30/11/2024) hingga delapan hari kedepan (7/12/2024).
Pembukaan acara digelar di area XXI Empire Yogyakarta, Sabtu (30/11/2024). Hadir dalam pembukaan Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan sejumlah artis film terkemuka tanah air seperti Dian Sastrowardoyo.
Fadli Zon mengapresiasi atas keberhasilan Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) dalam penyelenggaraan JAFF Market untuk pertama kalinya. “Melalui festival ini, kita tidak hanya merayakan karya-karya terbaik perfilman Indonesia, tapi juga menggali potensi terbaik anak bangsa, khususnya insan perfilman Indonesia, yang mampu bersaing dengan film-film mancanegara,” ujar dia.
Fadli Zon mengungkapkan, saat ini Indonesia telah memiliki Kementerian Kebudayaan yang berdiri sendiri, sebagai kementerian yang bertugas memajukan kebudayaan nasional. Undang-Undang Republik Indonesia nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan menjadi fondasi dalam kerangka pengembangan nilai-nilai luhur budaya bangsa, untuk memperkaya keberagaman budaya, memperteguh jati diri bangsa, dan memperkokoh persatuan dan kesatuan.
Di samping itu, melalui Undang-Undang nomor 33 tahun 2009 tentang Perfilman, pemerintah berkomitmen memajukan perfilman Indonesia sebagai sarana pencerdasan kehidupan bangsa, pembinaan potensi diri, dan pemajuan kesejahteraan masyarakat.
“Untuk itu saya berharap, agar film dapat menjadi cerminan budaya dan jatidiri bangsa, serta menjadi instrument diplomasi kebudayaan bangsa Indonesia di kancah global,” kata dia.
Pada penyelenggaraan festival ke-19 kali ini, untuk pertama kalinya JAFF Market digelar. Kehadiran lebih dari 100 perusahaan film nasional dan internasional turut berpartisipasi aktif, menunjukkan kehebatan JAFF bagi perfilman dunia – yang merupakan platform efektif dalam mendorong transformasi berkelanjutan sinema baik di Indonesia, Asia, maupun global.
“Saya berharap, potensi perfilman ini dapat terus dikembangkan melalui keterlibatan lebih banyak insan perfilman nasional dan internasional. Oleh karena itu, semoga JAFF dapat terus memainkan peran dalam mendorong kerja sama dan kolaborasi di bidang perfilman, sehingga terus lahir bakat-bakat dan ide-ide baru di dunia perfilman Indonesia,” kata Fadli Zon.
Baca juga: JAFF 2018 Resmi Dibuka, 124 Film Siap Diputar
Garin Nugroho selalu Pendiri Festival menjelaskan, ketika mendiskusikan program JAFF 19, tercetus kemudian kata “market“. Merujuk pada FGD yang dilakukan baik dengan para profesional dan industri lokal atau dengan tamu – tamu luar negeri, JAFF menurut dia berani membuat program “market”, mengingat dinamika market film di Indonesia.
“Ekosistem industri Indonesia memang bertumbuh positif , penonton film mencapai 60 juta penonton setelah tahun sebelumnya (2023) mencapai 55 juta,” kata dia.
Pada sisi lain, menurut dia market film bertambah dinamis dengan dinamika berbagai platform digital (OTT : Over The Top). Tercatat, OTT berbasis iklan meraih 50 juta penonton, naik 25 persen, pasar terbesar di Asean.
Lebih menarik lagi, penonton Indonesia sangat toleran pada iklan film atau seri di OTT, 42 persen penonton rela menonton 4 atau 5 iklan dalam satu jam untuk menonton film atau seri dengan gratis. Ditambah fenomena menarik, brand recall penonton iklan mencapai 35 persen berkat ingatan pada iklan.
Oleh karena itu, tema Market diputuskan untuk diusung dalam program JAFF. Tentu saja, sebagai program awal, menjadi semacam uji coba dan baru pertama di Indonesia.
“Bagi saya, Market selalu berkait dengan transaksi jual beli, namun lebih dari itu, market akan membaca dinamika produksi dan distribusi, pembacaan selera dan jenis film, bertumbuhnya rumah produksi hingga pemetaan bisnis film dan seni film dalam relasinya dengan ekosistem media baru, dinamika bertumbuhnya generasi baru, pencapaian serta bertemunya para profesional dan stakeholder film serta institusi terkait. Market adalah sebuah peta awal bersama,” kata dia.
Baca juga: Agenda 11th Jogja-Netpac Asian Film Festival
Festival ini dibuka dengan penayangan “Samsara”, sebuah film bisu hitam-putih karya Garin Nugroho, sutradara yang telah meraih berbagai penghargaan nasional dan internasional. Film ini sukses meraih empat Piala Citra dalam ajang Festival Film Indonesia 2024.
Sebagai film penutup, JAFF edisi tahun ini akan menayangkan “1 Kakak 7 Ponakan”, sebuah drama terbaru karya Yandy Laurens. Film ini merupakan debut dunia dan menyusul kesuksesan film sebelumnya, “Jatuh Cinta Seperti di Film-Film”, yang meraih 11 nominasi di Festival Film Indonesia 2024.
Selain itu, sebanyak enam film Indonesia yang tayang tahun ini akan berkompetisi dalam program JAFF Indonesian Screen Awards untuk memperebutkan penghargaan Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Penulis Naskah Terbaik, Pemeran Terbaik, dan Sinematografi Terbaik.
Sebagai festival yang telah menjadi pusat penting bagi penghubung antara bakat-bakat baru, komunitas, dan profesional di industri film, JAFF terus berupaya merespons perubahan dalam industri film dan menyesuaikan diri dengan dinamika yang berkembang.
Tahun ini, JAFF 19 menghadirkan 180 film dari 25 negara di kawasan Asia-Pasifik, yang akan ditayangkan dalam program kompetisi dan non-kompetisi, menambah keragaman dan warna bagi festival yang selalu dinantikan ini. (den)
