SLEMAN, BERNAS.ID- Indonesia memiliki bonus demografi akan populasi melimpah dari konsumen generasi milenial dan Z. Selain itu, segmen konsumen yang makin beragam dan kebutuhannya yang makin adaptif terhadap tren kekinian, kearifan lokal dan ketidakpastian seperti pembelajaran pandemi COVID-19, membuat Usaha, Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) harus tangkas (agile) dan berdaya saing.
UMKM yang tangkas dan berdaya saing harus mampu beradaptasi dengan menangkap peluang bonus demografi dan memenuhi kebutuhan konsumen. Kemajuan UMKM sangat bergantung pada sumber daya manusia (SDM) yang biasanya memiliki kemampuan bisnis di UMKM seperti kegiatan produksi namun masih minim dalam hal inovasi. Agar dapat bersaing, pengembangan SDM UMKM sangat ditentukan oleh kemampuan inovasi.
Baca Juga Sri Sultan Terima 120 Manuskrip Jawa Kuno Digital Dari Inggris
Kemampuan inovasi ini terdiri atas menemukenali masalah, pembangkitan ide, kreativitas, dan melakukan invensi secara sistematis untuk memahami kebutuhan konsumen sebagai faktor manusia (human factors) dan mengakomodasinya dalam proses inovasi produk. Faktor manusia adalah faktor yang mempengaruhi dalam proses pengambilan keputusan untuk membeli, mengkonsumsi, menggunakan dan melanggan produk.
Produk sendiri secara umum terdiri atas 2 jenis kategori, yaitu produk rakitan (Assembly) dan produk yang mengalami perubahan nilai tambah baik yang bersifat baik fisis, biologis dan kimiawi (Bioproduction). Contoh produk rakitan adalah kemasan botol, kursi, meja, atau sejenis. Contoh produk bioproduction adalah produk agroindustri hasil fermentasi seperti tempe, tahu, olahan boga, atau sejenis. Kedua karakteristik tersebut membuat produk memiliki ragam parameter yang dapat diolah sedemikian rupa sehingga mampu mempengaruhi calon konsumen dalam proses pengambilan keputusan. Faktor manusia yang bersifat afektif (atau dalam Bahasa Jepang disebut Kansei dan dalam Bahasa Jawa disebut Pangraos) kemudian merupakan salah faktor yang mendominasi proses pengambilan keputusan di samping faktor logika atau kognitif.
Kansei terdiri atas 2 padanan kata, yaitu Kan dan Sei. Kan berarti kebutuhan afektif yang bersumber dari perasaan, pikiran, dan jiwa. Sei artinya manusia yang dinamis. Kansei dapat diukur secara subyektif menggunakan kuesioner berskala dengan kata-kata sifat/benda/kerja seperti contoh senang, enak, atau bahagia yang kemudian dikonversi menjadi kalimat yang menyatakan kebutuhan konsumen seperti contoh saya menyukai produk coklat yang membuat senang. Selain itu, Kansei juga dapat diukur secara obyektif dengan menggunakan alat ukur komersial seperti contoh denyut nadi, kedipan mata, gerakan mata, tekanan darah, kadar oksigen dalam darah dan sejenisnya.
Kemudian pendekatan Rekayasa Kansei dikembangkan dengan memanfaatkan stastistik dan kecerdasan buatan untuk menentukan parameter produk yang sensitif terhadap pemenuhan kebutuhan dan kepuasan konsumen seperti contoh penambahan kadar kakao dalam coklat berpotensi meningkatkan tingkat kesukaan. Mekanisme implementasi Rekayasa Kansei dapat dipelajari lebih dalam pada buku karya terbitan UGM Press: 1) Ushada, et al. (2016) dengan judul “Kansei Engineering untuk Agroindustri” dan 2) Ushada, et al. (2024) dengan judul “Inovasi Kansei untuk Agroindustri berbagi.” Selain itu, Rekayasa Kansei juga telah ditawarkan pada platform Massive Open Online Courses (MOOC) dalam kanal UGM Online, sehingga semua bisa belajar Kansei di UGM.
UGM berkepentingan melakukan transfer pengetahuan terkait inovasi ini sesuai mandat perguruan tinggi sebagai kawah candradimuka bagi mahasiswa yang akan menjadi pemimpin inovasi di masa depan. Tridarma perguruan tinggi sebagai metode pembelajaran link & match memungkinkan mahasiswa untuk memperoleh pembelajaran inovasi tidak hanya di kelas-kelas yang ada di kampus, tetapi juga melalui penemukenalan dan pencarian solusi bagi masalah yang dihadapi pelaku UMKM dan pemerintah daerah.
Sebagai bentuk afirmasi transfer pengetahuan dalam mengenalkan, memasyarakatkan dan melatih Rekayasa Kansei bagi UMKM, UGM telah mengembangkan teknologi tepat guna berbasis Kansei dalam platform interaktif berbasis web dan virtual reality (VR) untuk membantu UMKM dalam proses inovasi produk. TTG ini dinamakan KESAN (Kansei Engineering-based System for Agroindustry). Platform KESAN telah dikembangkan melalui program penelitian berbagai skema baik UGM dan Kementerian terkait Pendidikan Tinggi, dan penghilirannya melalui program pengabdian kepada masyarakat melalui skema pengembangan teknologi tepat guna berbasis pemanfaatan hasil penelitian dari Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat UGM. Teknologi KESAN coba diterapkan sebagai Teknologi Tepat Guna di UMKM Sleman bekerjasama dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sleman. Teknologi KESAN mulai dikenalkan dalam program rutin kelas berbagi di Rumah Kreatif Sleman (RKS) dan Dewan Kerajinan Nasional Daerah Sleman (Dekranasda). RKS yang didirikan Pemerintah Kabupaten Slemen menjadi entitas bagi pelaku UMKM untuk berkumpul, belajar, dan saling berbagi dalam rangka pengembangan produk khas Sleman yang memiliki brand kuat.
Teknologi Kansei ini telah dikembangkan dalam bentuk 2 varian platform. Pertama adalah platform web yang diperuntukan bagi pemula dan bersifat interaktif. Dengan platform ini, pengguna akan dilatih dalam membangkitkan ide baru berdasarkan kemampuan untuk menghubungkan antara preferensi konsumen dan parameter produk. Fitur visualisasi produk dalam versi web ini dilakukan dengan mengunggah foto produk dari 6 sisi.
Varian kedua adalah platform Virtual Reality (VR) yang diperuntukan bagi mereka yang sudah berada pada tahap lanjutan (advanced). VR merupakan teknologi terkini yang mampu melakukan visualisasi dalam lingkungan buatan berbasis komputer. Teknologi VR dikembangkan untuk mempermudah membuat visualisasi dan evaluasi produk dan melatih UMKM untuk melakukan pendekatan sistem. Teknologi VR menggantikan fitur visualisasi produk dalam versi web di mana pengelola industri tidak perlu lagi mengunggah foto produk dari 6 sisi, namun dapat secara utuh melihat dan mengubah-ubah fitur produk melalui model 3D yang diciptakan dalam ruang virtual.
Penerapan teknologi terkini seperti Kansei tentunya mempunyai tantangan dalam menyederhanakan kerumitan untuk berpikir out of the box dan menyasar ketepatgunaan bagi UMKM. Oleh karena itu, UMKM Kansei Idea Center (UKIR) segera didirikan di Kabupaten Sleman sebagai komunitas pembelajaran guna memasyarakatkan Kansei dengan pendekatan kearifan lokal Kabupaten Sleman. Selain itu Komunitas UKIR diharapkan dapat berfungsi sebagai living laboratory dalam pembelajaran komunitas guna mendorong inovasi produk UMKM dan penerapan teknologi tepat guna yang mengakomodasi kebutuhan konsumen secara komprehensif serta sistematis. (*)
Oleh Mirwan Ushada, Ario Wicaksono, Fitri Trapsilawati, Ahmad Nasikun, Yun Prihantina Mulyani, dan Yunita Sari
