Oleh:
Ketut Swabawa
Ketua Umum DPP AHLI
BERNAS.ID – Kementerian Pariwisata Republik Indonesia terus mensosialisasikan wisata aman, nyaman dan menyenangkan untuk kelancaran liburan puncak akhir tahun dalam rangka Hari Raya Natal 2024 dan Tahun Baru 2025.
Hal ini sesuai edaran dari Menteri Pariwisata Nomor SE/1/PP.03.00/MP/2024 tertanggal 4 Desember 2024 tentang penyelenggaran kegiatan wisata yang aman, nyaman dan menyenangkanbagi wisatawan.
Hal ini sangat tepat untuk diatensi belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya selama masa liburan panjang dan juga kondisi cuaca ekstrim saat ini.
Baca Juga : Lalui Perjalanan Panjang, Kamwis Purbayan Raih Juara 2 Desa Wisata Berkembang
Musim liburan agar jangan dianggap masa meraih cuan semata bagi pihak-pihak yang berkaitan kepariwisataan. Namun harus dijadikan momentum untuk menampilkan yang terbaik dari aspek tata kelola, produk dan pelayanan kepada wisatawn. Karena reputasi suatu destinasi sangat berpengaruh pada keberlanjutan usaha dan destinasi pariwisata itu sendiri.
Badan Kebijakan Transportasi Kemenhub menyebutkan diprediksi akan terjadi 110,6juta pergerakan masyarakat secara nasional selama liburan akhir tahun. Survey tersebut mencakup 45,67% yang bepergian untuk liburan, 32,36% untuk pulang kampung halaman, sementara merayakan Natal dan Tahun Baru di kampung sebesar 19,96% dan 2% dalam rangka tugas dan pekerjaan.
Sementara InJourney merilis prediksi peningkatan aktifitas bandara secara nasional mencapai 4,5-5% dan kenaikan kedatangan wisatawan mancanegara sebesar 23%.
DESTINASI YANG AMAN
Destinasi wisata yang aman bukan saja dilihat dari indikator ketersediaan petugas keamanan yang bersiaga di kawasan wisata.
Kriteria penyelenggaraan usaha pariwisata sesuai Peraturan Menpar No 09/2021 terkait panduan destinasi pariwisata yang berkelanjutan khususnya pada aspek keamanan menjelaskan bahwa destinasi harus memenuhi syarat minimum keamanan seperti; adanya alat dan fasilitas pengaman, peralatan dan kelengkapan keselamatan wisatawan, informasi umum tentang destinasi, petunjuk jalan, SOP rekayasa mitigasi kecelakaan dan kebencanaan, pengelolaan resiko (risk management), dan lainnya.
Baca Juga : IHGMA DIY Bahas Ekosistem Pariwisata Kedepannya
Berdasarkan pengalaman atau kejadian di destinasi sebelumnya, hal ini wajib diperhatikan oleh pengelola dan masyarakat di sekitar destinasi yang memiliki resiko kecelakaan dan kebencanaan. Mengingat liburan akhir tahun jumlah wisatawan akan lebih banyak dan bisa jadi kurang terkontrol.
Destinasi wilayah tebing, pantai, sungai dan kawasan alam yang memiliki resiko wisatawan bisa jatuh, hanyut, tenggelam dan kecelakaan lainnya agar mengecek kembali kesiapan fasilitas wisatanya untuk keamanan operasional dan keselamatan wisatawan.
DESTINASI YANG NYAMAN
Usaha pariwisata tentunya memiliki standar penyelenggaraan dan pengelolaan usaha internal yang dijadikan competitive advantages selain mengikuti aturan pemerintah terkait perijinan penyelenggaraan usaha kepariwisataan.
Namun demikin, tidak sedikit ditemukan di destinasi karena kesibukan operasional meningkat maka dibutuhkan tenaga kerja casual dan/atau outsourcing. Pelayanan prima yang menjadi sendi dasar layanan hospitality harus dipastikan dapat diberikan dengan baik oleh tenaga kerja tambahan ini.
Jangan sampai karena wisatawan yang sangat ramai maka keramahan dan kualitas pelayanan menjadi berkurang akibat minimnya tenaga kerja.
Para pemangku kepentingan terkait di destinasi juga wajib memberikan support terbaiknya demi kenyamanan wisatawan. Seperti aparat pengatur lalu lintas untuk mengurai kemacetan, tenaga kebersihan di destinasi, penyedia jasa tranportasi khususnya freelancer dan taxi online.
Baca Juga : Pentingnya Promosi dan Publikasi Digital Desa Wisata Sebagai Daya Tarik Baru Yogyakarta
Secara internal juga para pengelola destinasi dan objek wisata harus peka terhadap pergerakan wisatawan agar tidak terjadi kepadatan pengunjung yang tidak terkontrol yang akhirnya menguransi kesan nyaman dalam menikmati wisata di destinasi.
Dapat disiapkan mitigasi untuk visitor journey dalam beberapa opsi sebagai back up plan dalam kondisi tertentu demi kenyamanan wisatawan dapat terhindar dari kepadatan akibat terkonsentrasi pada titik objek tertentu.
DESTINASI YANG MENYENANGKAN
Setiap wisatawan tentunya mengharapkan dapat menikmati masa liburan untuk berwisata yang menyenangkan. Apalagi wisatawan yang berkunjung ke suatu destinasi karena pengaruh viralnya tempat itu di media. Jadi customer expectation sudah terbentuk sejak awal sebelum tiba di destinasi.
Hal ini perlu diantisipasi jangan sampai menimbulkan kekecewaan wisatawan karena produk atau fasilitas yang tidak sesuai dengan promosi.
Baca Juga : Indonesia Wedding Congress 2024 Gairahkan Bisnis Wisata Pernikahan di Destinasi Pariwisata
Kejadian pungli di destinasi seperti yang pernah viral belakangan ini juga harus dipastikan tidak terjadi. Dan masyarakat di destinasi juga harus semakin ramah terhadap wisatawan. Demikian juga penerapan Sapta Pesona dan standar CHSE semakin ditingkatkan.
Wisatawan juga memiliki kewajiban untuk memastikan keamanan dan keselamatan dirinya selain kewajiban pengelola usaha dan destinasi pariwisata. Turut berpartisipasi dalam menjaga kelestarian alam di destinasi dengan tidak membuang sampah sembarangan, merusak tumbuhan saat trekking atau camping, dan lainnya.
Mari bersama-sama ciptakan berwisata yang aman, nyaman dan menyenangkan demi kemajuan Pariwisata Indonesia yang berkualitas dan berkelanjutan.
