JAKARTA, BERNAS.ID – Dalam dunia bisnis, nama Vera Umbara bukanlah sosok asing. Sebagai Founder PT Guataka Makmur, ia telah menorehkan jejak panjang dalam berbagai sektor industri, mulai dari perhotelan, restoran, properti, hingga teknik. Vera bukan sekadar pebisnis, tetapi juga seorang pemimpin yang memiliki visi besar dalam membangun ekosistem usaha yang kuat dan berkelanjutan.
Dari Teknik ke Bisnis Perhotelan dan Restoran
Perjalanan bisnis Vera dimulai dari industri general technical supplies, sektor yang memperkenalkannya pada berbagai kebutuhan workshop, peralatan bengkel, hingga mesin produksi makanan dan minuman. Pengalaman ini memberinya wawasan mendalam tentang bagaimana bisnis bisa berkembang melalui inovasi dan pemenuhan kebutuhan pasar yang spesifik.
Saat mengunjungi toko-toko teknik di berbagai daerah, Vera melihat peluang besar dalam industri perhotelan dan F&B. Ia menyadari bahwa banyak toko menjual peralatan teknik sekaligus perlengkapan hotel dan restoran, namun belum ada yang benar-benar fokus menjadi spesialis di bidang tersebut.
Baca Juga : Mengubah Hidup dengan Hipnosis, Perjalanan Rury Ahmad Sururie dari Birokrat hingga Trainer Inspiratif
Dari sinilah Gautaka Makmur lahir, sebuah usaha yang berfokus pada penyediaan barang dan mesin untuk industri makanan dan minuman di Indonesia.
Membangun Manusia, Membangun Bisnis
Bagi Vera, bisnis bukan sekadar mencari keuntungan, tetapi tentang bagaimana membangun manusia. Filosofi ini menjadi dasar dalam setiap langkahnya.
“Saya selalu mencari business partner, baik dari internal maupun eksternal. Bagaimana kita membangun manusia, dan bagaimana manusia yang kita bangun itu pada akhirnya membangun bisnis,” kata Vera pada BERNAS.id, Jumat (28/2/2025).

Menurut Vera, kunci dari bisnis yang sukses bukan hanya pada produk atau layanan yang ditawarkan, tetapi pada sumber daya manusia yang kompeten dan memiliki karakter kuat. Oleh karena itu, ia tidak hanya merekrut berdasarkan keterampilan, tetapi juga pada karakter individu.
“Saya hire karakter, lalu saya train skill. Karena skill itu bisa dipelajari, tapi karakter itu lebih sulit diubah,” tegasnya.
Mengangkat Gastronomi Indonesia ke Kancah Dunia
Salah satu visi besar Vera adalah meningkatkan diplomasi pangan Indonesia atau gastro-diplomacy. Ia melihat bagaimana negara lain, seperti Thailand dengan Tom Yum, telah berhasil menstandarisasi dan mempromosikan kuliner mereka secara global. Sementara itu, Indonesia yang kaya akan ragam kuliner masih belum memiliki strategi yang jelas dalam memasarkan makanan khasnya secara internasional.
Baca Juga : Brando Tengdom, Strategi, Kepemimpinan, dan Inovasi di Dunia Digital
Menurut Vera, tantangan utama industri makanan di Indonesia bukan pada rasa atau kreativitas, melainkan pada standarisasi dan teknologi pangan. Tanpa teknologi yang tepat, makanan Indonesia sulit menembus pasar global dengan kualitas yang konsisten.
Tantangan dalam Membangun Bisnis
Dalam membangun Guataka Makmur dan berbagai bisnis lainnya, Vera menghadapi tantangan besar. Salah satunya adalah mentalitas berbisnis di Indonesia yang menurutnya masih lebih banyak berorientasi pada perdagangan jangka pendek dibandingkan membangun sistem bisnis yang berkelanjutan.
“Banyak pengusaha Indonesia yang masih berpikir berdagang, bukan berbisnis. Mereka hanya fokus pada jual-beli, tanpa membangun ekosistem, kolaborasi, atau sistem yang bisa bertahan dalam jangka panjang,” jelasnya.
Selain itu, kurangnya perhatian terhadap teknologi dan inovasi juga menjadi kendala besar. Banyak pelaku usaha yang masih menggunakan metode konvensional, sehingga sulit berkembang. Contohnya, dalam industri makanan ringan, Indonesia memiliki jajanan tradisional seperti rengginang, tetapi yang sukses mengekspor produk berbasis beras adalah Jepang dan Taiwan dengan rice cracker-nya.
“Masalahnya bukan pada produknya, tetapi pada teknologi dan packaging yang tidak berkembang,” tambah Vera.
Gabungan Penyuplai Hotel dan Restoran Indonesia
Selain menjalankan Guataka Makmur, Vera juga aktif sebagai pimpinan dalam Gabungan Penyuplai Hotel dan Restoran Indonesia. Ia melihat bahwa industri perhotelan dan restoran memiliki perputaran barang yang sangat besar, mulai dari pembangunan, furnitur, perlengkapan dapur, hingga produk F&B. Namun, belum ada sistem kurasi yang memastikan standar kualitas barang yang masuk ke hotel-hotel berbintang.
Baca Juga Muhammad Hasan Abdillah, Politisi Muda yang Kawal Kebijakan Lewat Digital
“Saya ingin membangun asosiasi ini agar para pengusaha bisa bekerja sama, berbagi ilmu, dan meningkatkan standar industri. Jangan hanya jadi pedagang, tapi juga jadi pelaku bisnis yang membangun sistem berkelanjutan,” ungkapnya.
Strategi Bisnis, Lebih dari Sekadar Branding
Bagi Vera, membangun bisnis yang kuat tidak hanya soal branding atau kampanye pemasaran, tetapi lebih kepada deliverables, kemampuan sebuah bisnis untuk benar-benar memberikan apa yang dijanjikan kepada pelanggan.
“Dunia bisnis itu kecil. Kredibilitas dan integritas adalah hal yang utama. Jika kita bisa memenuhi janji kepada pelanggan, bisnis akan berkembang dengan sendirinya,” tuturnya.
Membangun Masa Depan dengan Teknologi
Vera juga terus mengikuti tren global dalam industri makanan dan perhotelan. Salah satu langkah inovatifnya adalah melalui platform digital bake.co.id, sebuah media yang menyajikan tren terbaru dalam industri makanan, minuman, dan hospitality.
Ia menekankan pentingnya teknologi dalam dunia bisnis, terutama dalam meningkatkan efisiensi dan daya saing. Teknologi pangan dan mesin produksi menjadi aspek yang sering diabaikan oleh pelaku usaha Indonesia, padahal inilah yang menentukan kualitas dan daya tahan produk di pasar global.
Inspirasi dan Pesan untuk Pengusaha Muda
Ketika ditanya tentang sosok yang menginspirasi perjalanan bisnisnya, Vera tidak menyebutkan nama tokoh terkenal atau konglomerat. Baginya, inspirasi justru datang dari orang-orang biasa yang berani berjuang keluar dari zona nyaman.
“Orang-orang yang berani keluar negeri, berjuang untuk kehidupan yang lebih baik, dan mengirimkan uang untuk keluarga mereka di kampung, mereka adalah hero saya. Mereka adalah contoh nyata dari keberanian dan ketahanan,” katanya.
Untuk generasi muda yang ingin terjun ke dunia bisnis, Vera memberikan pesan sederhana namun bermakna. Pertama, Jangan hanya jadi pedagang, tapi bangun bisnis yang berkelanjutan. Kedua, Gunakan teknologi untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing. Ketiga Jangan takut berinovasi dan berkolaborasi. Terakhir; Fokus pada karakter, karena skill bisa dipelajari.
Vera Umbara bukan hanya seorang pengusaha sukses, tetapi juga seorang visioner yang ingin melihat industri perhotelan, restoran, dan F&B di Indonesia berkembang dengan standar global. Dengan semangat inovasi, kolaborasi, dan keberlanjutan, ia terus membangun bisnis yang tidak hanya menguntungkan, tetapi juga bermanfaat bagi banyak orang.
Di tengah berbagai tantangan yang dihadapinya, Vera tetap percaya bahwa bisnis bukan hanya tentang mencari keuntungan, tetapi juga tentang membangun manusia dan menciptakan perubahan yang lebih besar bagi industri dan masyarakat. (DID)
