JAKARTA, BERNAS.ID – Menjadi seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) bukan sekadar bekerja untuk negara, tetapi juga tentang pengabdian, pembelajaran, dan inovasi. Kuswadi adalah salah satu sosok yang menapaki kariernya di dunia birokrasi dengan penuh dedikasi, hingga akhirnya memilih menjadi Widyaiswara, sebuah profesi yang berperan penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di pemerintahan.
Dari Surveilans hingga Widyaiswara
Kuswadi memulai perjalanan sebagai ASN pada tahun 1989 di Kantor Wilayah Departemen Kesehatan (Depkes) Irian Jaya, saat itu sebelum menjadi Papua, bertugas di bagian surveilans dan imunisasi. Sebagai seorang profesional di bidang kesehatan, ia banyak terlibat dalam pemantauan penyakit menular serta upaya vaksinasi guna melindungi masyarakat dari wabah.
“Saat pertama kali terjun ke dunia ASN, saya banyak belajar tentang pentingnya surveilans dalam mencegah penyebaran penyakit. Dari situ, saya mulai memahami betapa besarnya peran pemerintah dalam memastikan kesehatan masyarakat tetap terjaga,” ungkapnya.
Seiring waktu, Kuswadi terus mengembangkan diri. Pada tahun 1994, ia dipercaya menjadi Kepala Seksi Kesehatan Lingkungan dan Peran Serta Masyarakat, posisi yang semakin memperluas cakupan tanggung jawabnya. Tidak hanya fokus pada penyakit, tetapi juga pada bagaimana masyarakat dapat terlibat aktif dalam menjaga kesehatan lingkungan mereka.
Baca Juga : Dari Besi Baja ke Hotel dan Restoran, Jejak Vera Umbara Bangun Ekosistem Bisnis yang Berkelanjutan
Tiga tahun kemudian, Kuswadi mengambil langkah besar dalam karier akademisnya dengan melanjutkan studi S2 di bidang epidemiologi. Keputusan ini membawanya ke pemahaman yang lebih mendalam tentang faktor-faktor penyebab penyakit di masyarakat serta bagaimana cara menanggulanginya secara efektif.
Setelah menyelesaikan pendidikan, ia kembali ke dunia birokrasi dengan fokus pada Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2M). Pada tahun 2006, ia dipercaya menjadi Koordinator Program P2 Kusta, sebuah tanggung jawab yang semakin mengasah kemampuannya dalam merancang kebijakan dan program kesehatan masyarakat.
Hingga tahun 2011, Kuswadi mengemban tugas sebagai Kepala Seksi Imunisasi, yang semakin memperkokoh perannya dalam dunia kesehatan. Namun, panggilan hati untuk berbagi ilmu dan pengalaman membuatnya mengambil jalur baru pada tahun 2013, yakni menjadi seorang Widyaiswara.

Menjadi Widyaiswara, Panggilan Jiwa untuk Berbagi Ilmu
Menjadi Widyaiswara bukanlah suatu kebetulan bagi Kuswadi. Ia melihat profesi ini sebagai jalan terbaik untuk memberikan kontribusi yang lebih besar dalam dunia birokrasi.
Baca Juga : Muhammad Hasan Abdillah, Politisi Muda yang Kawal Kebijakan Lewat Digital
“Menjadi Widyaiswara bukan hanya soal mengajar, tetapi juga membimbing, menginspirasi, dan memotivasi ASN lainnya agar lebih kompeten dan profesional dalam melayani masyarakat,” ujarnya.
Baginya, kebahagiaan terbesar adalah ketika ia melihat peserta pelatihannya berkembang dan menerapkan ilmu yang diberikan dalam pekerjaan mereka.
“Saya selalu percaya bahwa ilmu yang dibagikan tidak akan pernah habis, justru semakin bertambah. Setiap kali bertemu dengan peserta pelatihan, saya juga belajar dari pengalaman mereka. Ini yang membuat saya semakin bersemangat dalam profesi ini,” tambahnya.
Tugas dan Tantangan sebagai Widyaiswara
Sebagai seorang Widyaiswara, Kuswadi memiliki tugas utama untuk meningkatkan kompetensi ASN. Pelatihan yang diberikan tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan keterampilan teknis, tetapi juga membentuk karakter ASN agar menjadi lebih akuntabel dan berintegritas tinggi.
Dalam menyampaikan materi, ia selalu berusaha menyesuaikan metode pelatihan dengan karakteristik peserta. Ia memahami bahwa setiap peserta memiliki latar belakang dan cara belajar yang berbeda.
Baca Juga : Brando Tengdom, Strategi, Kepemimpinan, dan Inovasi di Dunia Digital
“Pendekatan yang saya gunakan tidak bisa satu pola untuk semua. Saya selalu berusaha mengenali siapa peserta saya, apa latar belakang mereka, dan bagaimana mereka bisa menerima materi dengan baik,” jelasnya.
Namun, tidak selalu mudah memberikan pelatihan kepada ASN. Salah satu tantangan terbesar adalah membangun motivasi peserta untuk mencapai kompetensi yang diharapkan.
“Kadang ada peserta yang hanya ikut pelatihan sebagai formalitas. Tantangan saya adalah bagaimana membuat mereka benar-benar memahami pentingnya materi yang diberikan dan termotivasi untuk menerapkannya dalam pekerjaan mereka,” ungkap Kuswadi.
Dampak dan Inovasi dalam Pelatihan ASN
Kuswadi menilai bahwa efektivitas pelatihan ASN sangat dipengaruhi oleh metode yang digunakan serta sarana dan prasarana yang tersedia. Menurutnya, pelatihan yang baik harus interaktif dan aplikatif, sehingga peserta dapat langsung menerapkan ilmu yang didapat dalam pekerjaan sehari-hari.
“Saya melihat perubahan signifikan pada peserta setelah mengikuti pelatihan. Banyak dari mereka yang awalnya tidak terlalu paham dengan konsep yang diajarkan, tetapi setelah diberikan pelatihan berbasis praktik, mereka bisa menerapkannya dengan lebih baik,” ujarnya.
Sebagai bagian dari inovasi, Kuswadi kerap mengombinasikan beberapa metode pembelajaran dalam satu pelatihan. Ia menggabungkan teori dengan praktik lapangan, analisis masalah, dan penyusunan solusi berbasis problem solving.
“Belajar itu tidak cukup hanya dengan mendengarkan. Harus ada praktik, studi kasus, dan diskusi interaktif agar peserta benar-benar memahami materi. Inilah yang selalu saya terapkan dalam setiap pelatihan,” tuturnya.
Peran Widyaiswara dalam Reformasi Birokrasi
Di era reformasi birokrasi, Kuswadi meyakini bahwa Widyaiswara memiliki peran krusial dalam meningkatkan kapasitas dan kompetensi ASN. Menurutnya, ASN yang kompeten adalah kunci dalam mewujudkan pelayanan publik yang lebih baik dan transparan.
“ASN harus selalu siap menghadapi perubahan dan tantangan zaman. Oleh karena itu, pelatihan yang diberikan harus berjenjang dan periodik agar mereka selalu bisa menyesuaikan diri dengan tuntutan masyarakat,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi digital dalam pelatihan ASN.
“Di zaman sekarang, ASN harus memiliki keterampilan digital yang baik. Pelatihan tidak hanya harus fokus pada kompetensi teknis, tetapi juga bagaimana mereka bisa memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan pelayanan publik,” ujarnya.
Harapan dan Pesan bagi ASN Muda
Bagi generasi muda ASN yang bercita-cita menjadi Widyaiswara, Kuswadi berpesan agar mereka terus belajar dan mengembangkan diri.
“Menjadi Widyaiswara bukan hanya soal menguasai materi, tetapi juga membangun karakter dan integritas. Seorang Widyaiswara harus bisa menjadi teladan bagi ASN lainnya,” katanya.
Ke depan, ia berharap agar pelatihan ASN dapat dilakukan secara berkelanjutan dan berkala, dengan materi yang tidak hanya berfokus pada keterampilan teknis, tetapi juga aspek kepribadian dan spiritualitas.
“Saya ingin melihat ASN yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki karakter yang kuat dan berintegritas. Dengan begitu, reformasi birokrasi bisa berjalan lebih optimal,” pungkasnya.
Dengan semangat berbagi ilmu dan inovasi dalam pelatihan, Kuswadi terus berkontribusi dalam mencetak ASN yang berkualitas dan siap menghadapi tantangan birokrasi modern. (DID)
